Muhammad Arfian writes:

Assalaamuâalaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,


Saya tidak pernah mengatakan Rasulullaah SAW memberikan hak kekuasaan kepada kaum Yahudi dan Nasrani atau menganggap baik akrab dengan ahli bid'ah. Kalau sanak misalkan mengatakan tokoh-tokoh politik Islam akrab dengan ahli bid'ah, apakah definisi sanak terhadap kata akrab itu? Apakah sanak mengetahui apa yang mereka bicarakan seluruhnya? Jangan mudah mengatakan akrab tanpa pengetahuan yang jelas, karena itu bisa menjurus kepada fitnah. Kalau terlihat berkomunikasi di muka umum dianggap akrab, artinya saya bisa akrab dengan siapapun. Dari tulisan ini terlihat sekali sanak mempunyai prejudice terhadap sebagian tokoh Islam yang aktif dalam politik.

Yang saya permasalahkan bukanlah komunikasi sebatas kebetulan bertemu di jalan atau tempat umum, namun 'menyajikan' tokoh yang pahamnya menyimpang di panggung kampanye.


"Tampil pula di panggung kampanye PKS itu, antara lain, ..., Nurcholish Madjid, ..., dan ...."
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0403/31/utama/945217.htm


Mengapakah beliau ada di sana? Padahal ia baru saja meluncurkan buku 'fiqh lintas agama' dan dulu ia dibantah oleh Daud Rasyid dan juga yang lainnya.

Wa Allahu a'lam bish shawab.

Ahmad Ridha

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke