Muhammad Arfian writes:

Assalaamuâalaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,


Saya tidak berbicara tentang kekuasaan di sini. Dukungan politis belum tentu berasal dari sebuah kekuasaan, karena kita melihat Abu Thalib bukanlah orang yang berkuasa di Mekkah pada saat itu, tetapi tetap beliau memiliki pengaruh politis untuk mempengaruhi kaumnya.

Tulisan Uda berikut:
> Dukungan secara politis melalui pemerintah dan sistemnya adalah satu
> bentuk dukungan terhadap penegakan tauhid Islam yang tidak bisa
> dinafikan. Kalau sanak merenungkan Sirah Nabawiyah, sanak tentu
> mengetahui dengan jelas dukungan Abu Thalib sebagai orang yang > disegani

"Dukungan secara politis melalui pemerintah dan sistemnya" di sinilah yang saya pahami sebagai kekuasaan.


Selain itu saya tidak pernah mengatakan kita menghentikan da'wah kalau
menerima kekuasaan. Itu adalah dikotomi yang sanak imajinasikan sendiri
tanpa mau memperhatikan pendapat saya. Saya sendiri berpendapat ada atau
tidak ada dukungan politis da'wah tetap harus jalan, tetapi tentu akan lebih baik jika da'wah itu diikuti oleh dukungan politis.



Saya tidak pernah menuduh bahwa dakwah akan dihentikan setelah menerima kekuasaan. Mohon ditunjukkan kata-kata saya yang salah agar saya dapat rujuk dari kesalahan.


Benar dakwah tauhid harus terus berjalan karena ia merupakan prioritas. Akan lebih baik jika mendapat dukungan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung penguasa setempat. Dukungan tersebut tentunya tetap dalam hubungan yang syar'i.

Wa Allahu a'lam.

Ahmad Ridha

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke