Assalaamuâalaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu

> Menjadikan tauhid sebagai prioritas utama tidaklah berarti menghentikan
> langkah yang lain tentunya tetap dalam kerangka panduan Allah dan
Rasul-Nya.
> Namun jangan sampai demi - katakanlah - persatuan dan kesatuan pemahaman
> tauhid (aqidah) ditawar-tawar. Na'udzubillah min dzalik.
>

Saya tidak pernah mengatakan demi persatuan dan kesatuan pemahaman tauhid
ditawar-tawar. Mohon jangan menisbahkan pendapat yang ada di angan-angan
sanak kepada orang yang tidak pernah mengatakan hal itu. Saya menyayangkan
sanak memiliki pendapat berdasarkan angan-angan/imajinasi atau mungkin
premise bahwa orang Islam yang berpolitik kecenderungannya melakukan tawar
menawar aqidah, suatu pendapat yang bahkan seorang ulama pun tidak akan
berani mengatakan hal itu terhadap seseorang tanpa melalui proses peradilan
syari'ah yang jelas.

> > Dukungan secara politis melalui pemerintah dan sistemnya adalah satu
> > bentuk dukungan terhadap penegakan tauhid Islam yang tidak bisa
> > dinafikan. Kalau sanak merenungkan Sirah Nabawiyah, sanak tentu
> > mengetahui dengan jelas dukungan Abu Thalib sebagai orang yang disegani
> > di kalangan bani Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW dalam usahanya
> > menyebarkan tauhid Islam di Mekkah. Juga ketika kaum muslimin diboikot
> > selama tiga tahun di Mekkah, Bani Hasyim yang merupakan keluarga Nabi
> > Muhammad SAW tetap melakukan transaksi dagang dengan kaum muslimin, dan
> > tidak ada yang berani mengganggu mereka melakukan itu.
>
> Bukankah Rasulullah menegakkan pemerintahan Islam setelah hijrah? Bukankah
> kafir Quraisy memegang kekuasaan di Makkah sebelum Rasulullah hijrah?
> Bukankah Rasulullah menolak kekuasaan jika itu berarti menghentikan dakwah
> tauhid?

Saya tidak berbicara tentang kekuasaan di sini. Dukungan politis belum tentu
berasal dari sebuah kekuasaan, karena kita melihat Abu Thalib bukanlah orang
yang berkuasa di Mekkah pada saat itu, tetapi tetap beliau memiliki pengaruh
politis untuk mempengaruhi kaumnya.

Selain itu saya tidak pernah mengatakan kita menghentikan da'wah kalau
menerima kekuasaan. Itu adalah dikotomi yang sanak imajinasikan sendiri
tanpa mau memperhatikan pendapat saya. Saya sendiri berpendapat ada atau
tidak ada dukungan politis da'wah tetap harus jalan, tetapi tentu akan lebih
baik jika da'wah itu diikuti oleh dukungan politis.

> > Ketika Nabi hijrah ke Mekkah, beliau mengadakan perjanjian bersama
> > orang-orang Madinah yang bukan hanya terdiri dari kaum muslimin, tetapi
> > juga kaum Yahudi dan Nasrani dalam usahanya mendirikan pondasi yang
> > teguh bagi kelancaran penyebaran Islam di sana. Kemudian beliau pun
> > mengadakan perjanjian Hudaibiyah yang memberikan kesempatan untuk
> > memperluas da'wah Islam kepada raja-raja Arab dan negara sekitarnya
> > ketika itu.
>
> Apakah dalam perjanjian itu memberikan hak kekuasaan bagi kaum Yahudi dan
> Nasrani atau menganggap baik akrab dengan ahli bid'ah?

Saya tidak pernah mengatakan Rasulullaah SAW memberikan hak kekuasaan kepada
kaum Yahudi dan Nasrani atau menganggap baik akrab dengan ahli bid'ah. Kalau
sanak misalkan mengatakan tokoh-tokoh politik Islam akrab dengan ahli
bid'ah, apakah definisi sanak terhadap kata akrab itu? Apakah sanak
mengetahui apa yang mereka bicarakan seluruhnya? Jangan mudah mengatakan
akrab tanpa pengetahuan yang jelas, karena itu bisa menjurus kepada fitnah.
Kalau terlihat berkomunikasi di muka umum dianggap akrab, artinya saya bisa
akrab dengan siapapun. Dari tulisan ini terlihat sekali sanak mempunyai
prejudice terhadap sebagian tokoh Islam yang aktif dalam politik.

> Maaf, perjanjian yang saya dapatkan adalah dengan orang-orang Yahudi dan
> tidak menyebutkan Nasrani. Saya mendapatkan teks perjanjian Rasulullah
> dengan orang-orang Yahudi tersebut dalam terjemah As-Sirah An-Nabawiyah li
> Ibni Hisyam (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Darul Falah, 2002) jilid 1 hal.
> 454 bab 91.

OK, mungkin saya salah dalam hal kaum Nasrani, tetapi selain dalam Piagam
Madinah disebutkan kelompok-kelompok lain selain Muslimin dan Yahudi, yang
kemungkinan adalah kaum musyrikin yang masih ada di Madinah ketika itu.
Jelas bahwa kaum Muslimin tidak sendirian di sana dan dengan kepemimpinan
Rasulullaah SAW masyarakat Madinah membentuk sebuah umat dan menjaga kota
Madinah bersama-sama dari serangan musuh, walaupun kemudian kaum Yahudi
melanggar perjanjian tersebut.

Nah, setelah sanak membaca isi Piagam Madinah, apakah sanak menganggap
orang-orang yang ingin menerapkan Piagam Madinah adalah orang-orang ingin
membuat umat Islam berada dalam kekuasaan kaum non-muslim? Esensi dari
Piagam Madinah itu sendiri adalah kaum muslimin sebagai kaum yang mayoritas
di sana menjadi penguasa di Madinah, dan saya berhusnuzzhon bahwa
orang-orang yang memperjuangkan Piagam Madinah itu adalah orang-orang ingin
membuat kaum muslimin sebagai mayoritas menjadi penguasa di negerinya
sendiri.

> Politik berkaitan dengan pengurusan keperluan masyarakat dan tentunya ada
> dalam Islam. Namun perlu diingat sebagaimana aktifitas lainnya, politik
> harus berada dalam batas-batas syar'i termasuk orang yang boleh
melakukannya
> dan cara melakukannya.

Artinya pendidikan politik yang sesuai dengan syari'at Islam dan untuk
memenuhi syarat-syarat untuk melakukannya perlu dilakukan. Orang-orang yang
mampu hendaklah melakukan kegiatan politik juga selain meda'wahkan agama
tauhid ini.

Yang terlihat sekarang adalah sebagian orang merasa tidak memiliki kemampuan
berpolitik kemudian menghindarinya, tanpa mau berusaha mencari ilmunya, atau
paling tidak menunda mencarinya. Padahal kita tahu ilmu politik juga
diperlukan bahkan dalam kelompok masyarakat yang paling kecil pun, seperti
RT dan lingkungan tetangga, dan bukan hanya dipelajari teorinya saja, tetapi
juga harus dipraktekkan untuk mengetahui ilmunya dengan benar. Karenanya
mempelajari politik selayaknya dilakukan secara paralel dengan ilmu agama
dan ilmu untuk kehidupan kita di dunia.

> Saya rasa tidak ada ulama yang mengharamkan politik secara mutlak dan
> sungguh aneh jika ada yang mengatakan begitu. Saya pernah menerima e-mail
> yang isinya menuduh bahwa ada golongan yang mengharamkan politik bahkan
ada
> tokoh Islam yang berkata seperti itu juga.

Sanak di sini berdiskusi dengan saya, jangan membawa-bawa orang lain dan
menyamakan saya dengan mereka, apakah saya mengatakan sanak orang yang
mengharamkan politik? Kalimat-kalimat yang tidak perlu janganlah dituliskan
di sini, apalagi kalau itu hanya imajinasi sanak saja terhadap saya.

> > Kemudian pada masa sekarang pun, kita melihat bahwa Syekh Muhammad bin
> > Abdul Wahab di Arab mendapat dukungan politis secara penuh dari Raja
> > Ibnu Sa'ud dan anaknya Abdul Azis sehingga gerakan pemurnian Islam
> > (tasfiyah) yang beliau lakukan dapat berjalan di Jazirah Arab. Apakah
> > beliau mendapatkan dukungan politik setelah semua orang Arab Saudi benar
> > aqidahnya? Tentu tidak, karena dukungan politis itu didapatkannya agar
> > pelaksanaan pemurnian Islam dapat juga berjalan secara top-down, bukan
> > hanya bottom-up dengan melakukan pembinaan kepada tiap individu.
> >
> Karena Rasulullah-lah yang harusnya kita jadikan teladan mungkin Uda dapat
> menerangkan ke saya, apakah Rasulullah menjadi penguasa Makkah dulu atau
> mendakwahkan tauhid dulu?

Kenapa sanak selalu berusaha memisahkan antara penegakan tauhid dengan
usaha-usaha politis dan menganggap saya orang yang mendahulukan kekuasaan
daripada penegakan tauhid? Kenapa sanak tidak bisa berpikir secara paralel?
Pikirkanlah alternatif-alternatif lain dan jangan hanya berpikir 'atau' saja
tanpa mau memikirkan 'dan'. Untuk kondisi saat ini, apakah kita harus
meninggalkan da'wah tauhid sebelum menjadi penguasa? Tidak kan. Gunakan
sirah Nabawiyah pada konteksnya yang tepat. Kalau sanak perhatikan lebih
teliti, saya menggunakan kata 'juga' dan 'bukan hanya', apa artinya itu?
Artinya saya berharap kedua kegiatan itu dilakukan secara paralel, dan tidak
satu selesai, baru yang satunya dikerjakan.

> Mengenai Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, apakah beliau belum mendakwahkan
> sebelum bekerja sama dengan Ibnu Sa'ud? Apakah perjanjian beliau dengan
Ibnu
> Sa'ud mensyaratkan tawar menawar aqidah?

Sanak jatuh lagi dalam pemisahan aqidah dan kekuasaan. Apakah sanak
menganggap para tokoh Islam yang berpolitik sekarang ini melakukan tawar
menawar aqidah? Transaksi seperti apa yang mereka lakukan? Dan siapa saja
mereka? Berikan contohnya secara jelas dan orangnya, serta jangan
menyamaratakan. Cobalah menjelaskan kasus per kasus.

> > Melalui kaum muslimin yang ada  di pemerintahan, bisa dilakukan
> > perbaikan kurikulum pendidikan anak-anak  kita, pembuatan hukum-hukum
> > yang lebih merefer kepada syari'at Islam  daripada hukum-hukum barat.
> > Mungkin saja tidak semua orang Indonesia  akan mendukung penerapan hal-
> > hal seperti itu, tetapi dengan adanya dukungan politis kesempatan untuk
> > melakukan perbaikan tauhid insya Allaah akan lebih terbuka.
>
> Pemerintahan dahulu baru tauhid? Uda, ingatlah pengalaman Masyumi di
> Indonesia dan FIS di Aljazair. Dan Rasulullah-lah sebaik-baik teladan.

Sekali lagi sanak memelintir pernyataan saya. Coba baca baik-baik mail saya
sebelumnya, apakah saya mengatakan kita harus memiliki kekuasaan dulu baru
tauhid? Saya tidak pernah mengatakan seperti itu, semestinya sanak melihat
saya berpendapat bahwa penegakan tauhid dan usaha pemilikan kekuasaan
hendaklah dilakukan secara paralel, bukan secara serial.

Saya melihat jelas perbedaan kita di sini, saya melihat bahwa keadaan
masyarakat Indonesia saat ini layaknya sebagai masyarakat Madinah pada jaman
Rasulullaah SAW, di mana ada segolongan kaum Muslimin yang memiliki kafaah
untuk melakukan usaha-usaha politis dalam menegakkan tauhid di bumi
Indonesia ini, dan mereka tidak menafikan penegakan tauhid Islam sebagai
prioritas utama. Saya mengikuti pendapat bahwa selayaknyalah mereka
membentuk dukungan politis untuk memberikan sinergi kepada penegakan tauhid.
Jika sanak tidak setuju dengan pendapat saya, saya tidak punya hak untuk
memaksa sanak menerima pendapat saya, tetapi saya minta sanak menyadari
bahwa ada pendapat yang berbeda dengan pendapat sanak. Jika sanak kukuh
dengan pendapat sanak, silahkan sanak jalankan pendapat itu, tetapi saya
sarankan janganlah sanak langsung mencap orang lain salah dengan
asumsi-asumsi yang sanak miliki, tanpa mengonfirmasikannya kepadanya. Semoga
kita semua diberi hidayah oleh Allaah SWT untuk terus berada di jalan-Nya
yang lurus.

Wallaahu a'lam bisshawab,
Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke