Assalaamuâalaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Uda Muhammad, mohon maaf adikmu yang namanya serupa ini tidaklah bermaksud untuk berdepat tanpa bermaksud negatif. Saya dengan ini ingin menjelaskan beberapa poin yang mungkin menimbulkan kesalahpahaman dan saya pecah menjadi beberapa e-mail agar lebih mudah diikuti.
Saya menyayangkan sanak memiliki pendapat berdasarkan angan-
angan/imajinasi atau mungkin premise bahwa orang Islam yang berpolitik kecenderungannya melakukan tawar menawar aqidah, suatu pendapat yang bahkan seorang ulama pun tidak akan berani mengatakan hal itu terhadap seseorang tanpa melalui proses peradilan syari'ah yang jelas.
Mohon maaf jika Uda menganggap Uda menuduh PKS atau bahkan semua orang Islam yang berpolitik tawar menawar aqidah. Yang saya katakan adalah:
"Namun jangan sampai demi - katakanlah - persatuan dan kesatuan pemahaman tauhid (aqidah) ditawar-tawar. Na'udzubillah min dzalik."
Tidaklah kalimat itu menuduh. Berarti dengan demikian Uda setuju bahwa aqidah tidak boleh ditawar-tawar.
Dengan demikian dalam perjuangan politik harus tetap berdasarkan Al-Qur'an sesuai pemahaman salafush shalih. Dengan demikian sarana dan cara-cara berpolitik atau perjuangan Islam di bidang lainnya tidak boleh keluar dari itu.
Wa Allahu a'lam,
Ahmad Ridha
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________
