Assalamu'alaikum wr. wb.
Malin Muncak telah menguraikan tentang phase perkembangan rantau minang
dengan menarik dan mengundang sejumlah pertanyaan. Soal geografis tidak
perlu dipermasalahkan karena yang terjadi adalah proses sebuah kebudayaan
dari sebuah etnik, pertanyaan yang menyentil ialah tentang sikap (attitude)
dari perantau dan keturunannya. Mereka (laki-laki) yang merantau dan
mengambil istri dari etnik lain per definisi tidak dianggap sebagai
mengembangkan Minangkabau, sebaliknya mereka (wanita) dan bersuamikan etnik
mana saja, dianggap mengembangkan Minangkabau. Kenyataan banyak berbicara
lain, tergantung kepada pemahaman individu ybs akan dasar budayanya,  lebih
sempit adat minang itu sendiri.
Perkembangan rantau ini menurut saya sama sekali tidak mempunyai relevansi
untuk mengganti nama propinsi Sumbar menjadi Minangkabau, dalam hal ini
pendapat angku Eddi Utama sudah benar. Persoalan justru muncul di bumi
Sumbar itu sendiri, yaitu derasnya outflow migration, karena sangat sedikit
dari para perantau itu kembali ke nagarinya. Pada zaman dahulu mungkin
prosentasenya lebih besar dari sekarang, KENAPA? Mungkin perlu study
anthropology disini.
Kedua soal pertanyaan mamak sebelum kemenakan berangkat merantau, disinilah
saya melihta erosi besar dalam tradisi minang yaitu peran mamak yang semakin
ditinggalkan secara sengaja ataupun tidak sengaja. Apalagi soal materinya,
mungkin pertanyaan sekarang sudah lebih rendah mutunya. Apakah ini karena
para "pamuncak" nagari sudah makin berkurang? Atau adanya anggapan cukup
agama saja (Islam) saja, adat sudah ketinggalan jaman, nggak ada gunanya.
Bertolak dari banyak asumsi bahwa budaya minang itu merupakan simbiosis
mutualis dari agama Islam dan adat minang sehingga menjadikan muslim dari
minang sedikit lebih moderat dari yang lainnya, satu hal lagi yang perlu
dipertanyakan. Selain claim-claim barusan, saya melihat justru kita lebih
banyak terlena oleh claims itu sedangkan faktual sumber daya manusia dan
ekonomi di sumbar agaknya menuju kemerosotan.
What to do, kembalilah ke adat nan sabana adat, bakal sulit sekali, ya.
Mulai dari mana? Belajar dan kritis, dengan kosa kata kerennya "membina
masyarakat terbuka"  bertolak dari adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah, syarak mangato adat mamakai, alam takambang jadi guru.
Salam

St. Bagindo Nagari

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, November 26, 2002 2:23 PM
Subject: Re: [RantauNet.Com] Rantau Minang { teritory budaya yg mengembang}
berkaitan dg uraian dari pak Edi Utama, saya teringat dulu ada posting di
milis RN ini , yg cukup menarik juga ,berkaitan dg konsep teritorial rantau
, mudah mudahan bermanfaat.
- - - - - -----------------------
Alma Wardi glr Malin Muncak:

Hipotesa budaya Minang mengembang

Menyimak uraian sejarah Minang dari Mak Adyan, saya terpikir pada suatu
hipotesa bahwa sejarah budaya
orang dan budaya Minang cenderung mengembang . Hal ini bisa terlihat dari
tahapan perkembangan
regional orang Minang yg terus berkembang , daerah yg asalnya rantau
akhirnya menjadi ranah minang dan
begitu seterusnya, mungkin akan lebih mudah bila saya jelaskan secara
skematis sbb ;
----deleted
Jadi pada tahap awal , orang tanah data ( luhak asal Minang ) pergi ke Agam
saja telah dianggap merantau. Nah orang Minang adalah lebih melebur lagi
dibanding orang China, sehingga praktis lebih lemah secara sosial budaya
dibanding orang China apalagi Yahudi. Orang Yahudi terpelihara secara
genetik , karena perkawinan yg tertutup ( diantara mereka saja ) jadi jauh
sekali membandingkan hoakiaw China yo rang Minang.

Contoh sederhana , pada awal abad 20-an , ada anggapan bahwa orang
Bukittinggi relatif lebih berbudaya dibanding orang kota Padang, karena di
Padang banyak orang Nias, Mentawai, China dll  Bahkan orang orang tua kita
dulu di daerah kab Agam, melarang anaknya nikah dg orang Padang karena
dianggapnya orang kota Padang, adalah keturunan orang Nias atau mentawai yg
peradabannya berbeda.

Wassalam

Alma Wardi glr Malin Muncak

----------------------------

Beberapatahun lalu, ada berita yang cukup mengejutkan, bahwa di Sydney
Australia, ada  perkumpulan "urang awak" yang sebagian besar berasal dari
nagari Guguak Randah  dan Guguak Tinggi, Kecamatan IV Koto, Agam. Mereka
dikabarkan telah membentuk  komunitas sendiri, yang berada dibawah
organisasi perantau "Minang Saiyo". Ada yang menyebut, "Mereka telah
membentuk kelurahan sendiri di sana". Sayangnya tidak ada data resmi berapa
jumlah mereka yang menetap di kota terbesar di Australia itu. Namun yang
pasti berita tersebut  menunjukkan, bahwa rantau "urang Minang" semakin
jauh dan luas.

Karena  itu pula, mitos rantau dan "urang rantau" dalam kehidupan
kebudayaan Minangkabau  sekarang, mungkin telah mengalami perkembangan dan
perubahan yang cukup banyak.  Jika lima puluh tahun yang lalu, merantau ke
Betawi atau merantau ke Kolang (Malaysia), masih dianggap  sebagai rantau
yang jauh. Namun merantau ke Betawi sudah dianggap biasa saja,  sehingga
tidak ada yang perlu saling tangis menangisi. Bahkan ke negeri yang  lebih
jauh pun, tak perlu dirisaukan. Lagu "Teluk Bayur", yang merupakan
nyanyian perpisahan, tidak lagi  menjadi lagu sendu menjelang anak dagang
meninggalkan ranah Minang. Rantau atau  merantau seperti kehilangan mitos,
yang menjadi sumber kekuatan tradisi merantau  itu sendiri. Tradisi
merantau tidak lagi menjadi sesuatu yang bersifat ritual  budaya. Orang
bisa saja pergi kemana saja, tanpa harus memotong ayam untuk  mengadakan
pesta perpisahan. Orang siak tidak lagi perlu diundang ke rumah  untuk
mendoakan yang pergi agar selamat  diperjalanan.

Minangkabau  memang telah berubah, dan memang harus berubah. Begitulah
ajaran adat  Minangkabau. Masalahnya, apakah perubahan itu sesuai dengan
arah diinginkan di  dalam kebudayaan Minangkabau sendiri. Itulah
masalahnya. Kita bisa berbeda  pendapat dan berdebat tentang jawaban ini.
Namun yang pasti Minangkabau telah  banyak berubah.

Dalam  masyarakat Minangkabau tradisional, jika seorang anak bujang ingin
merantau,  sebelum ia pergi mamaknya akan  bertanya. Pertanyaan itu
berkisar sekitar, apakah modal yang dibawanya merantau?  Maksud pertanyaan
ini jelas, bukan berapa banyak uang yang ia bawa, tapi lebih  dari itu.
Pertanyaan seorang mamak  pada kemenakannya, dalam konteks merantau ini,
bisa dianggap sebagai pertanyaan  kebudayaan. Sebetulnya setiap orang sudah
tahu apa jawabannya, dan mamak itu sendiri pun sudah tahu apa  yang akan
dijawab kemenakannya.

Pada  masa lalu, setiap anak bujang yang ingin merantau, sekurang-kurangnya
ia sudah  harus menguasai secara baik, yaitu bersilat dan mengaji. Pandai
bersilat sudah  dapat dianggap mampu untuk mempertahankan diri, dan pandai
mengaji dianggap  sudah mampu memilih dan menempuh jalan yang benar. Inilah
pesan dan sekaligus  isi pertanyaan budaya tersebut. Jika seorang anak
bujang sudah dianggap mampu  menguasai kedua kepandaian ini secara baik,
maka ia akan dilepas pergi merantau.  Bahkan boleh jadi, pergi merantau ini
juga merupakan suatu keharusan budaya,  sehingga ia bisa memahami dan
memiliki wawasan yang  luas.

Nah  sekarang, apakah pertanyaan budaya ini masih diajukan kepada setiap
anak bujang  untuk merantau? Jika kita melihat perkembangan perantau di
dunia rantau  sekarang, sulit untuk mengatakan bahwa pertanyaan itu masih
dipertanyakan kepada  mereka yang akan pergi merantau. Tetapi apakah masih
diperlukan mengajukan  pertanyaan yang sama? Atau orang Minang membutuhkan
pertanyaan yang baru, dan  yang lebih kontekstual?

Pertanyaan  budaya yang dimiliki oleh masyarakat tradisional Minangkabau
terhadap anak  bujang yang akan pergi merantau, tampaknya masih tetap
diperlukan. Tetapi  bebanya bukan hanya itu. Pertanyaan budaya tersebut
memang merupakan nilai dasar  untuk tetap menjadi perantau Minang yang
berwawasan kultural, tetapi pertanyaan  tentang apa yang akan dicari di
rantau tampaknya perlu dirumuskan kembali.  Sebabnya apa? Dunia rantau yang
sudah semakin luas ke seluruh pelosok dunia,  yang juga berarti kampung
halaman bukan lagi hanya sekedar daaerah yang  terisolasi, membutuhkan
suatu hubungan yang bukan hanya sekedar "kerinduan",  tetapi juga kesadaran
bahwa mitos rantau tidak lagi jendela dunia  satu-satunya.

Kita perlu hormat dan  memberikan selamat pada dunsanak-dunsanak kita yang
berhasil  membangun komunitas baru, seperti apa yang terjadi di Sydney
sana. Mereka telah  memperluas dan memperkaya rantau Minangkabau. Tetapi
kita juga perlu  mengingatkan yang lain, jika rantau Minangkabau tidak lagi
membuka dan membawa  ide-ide baru bagi keharusan perubahan Minangkabau,
maka benarlah mitos rantau  itu telah dikuburkan dengan masa lalunya.
Karena itu pula, rantau Minangkabau  juga harus tetap menjadi anti-tesis
bagi Minangkabau itu sendiri. Bukan  memperkuat tesis, apa lagi statusquo.
Kalau ini terjadi, maka pertanyaan dalam  masyarakat tradisional
Minangkabau untuk anak bujang yang akan pergi merantau,  semakin
diperlukan.






RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
================




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke