1. emang perempuannya juga sih yang suka minta hak istimewa.
    saya lebih suka mengartikan emansipasi hanya sebagai meminta kesempatan setara. bukan diistimewakan.
    hal2 lain, saya lebih suka menjalaninya dengan cara konvensional.
 
2. nggak boleh terlalu nyalahin perempuannya selalu minta diistimewakan ato disetarakan. laki2 kan nggak semua bisa nerima
    kesetaraan itu.
    inget : nggak semua. mungkin ini juga isu domestik.
 
3. regardless gender, itu asik banget.
   tapi apa iya bisa 100% ? gimana soal cuti haid dan hamil, melahirkan, dll ?
  
lainnya talk 2 U later...(lom mandi...hahahaa...oopss!)
 
"C"
   
 
 
----- Original Message -----
From: [EMAIL PROTECTED] Cys,semuanya trgantung dari kaum wanitanya sendiri. eg: jatah kursi 30% di legislatif
- kok mau di jatah ? boleh lebih ngga jatahnya ? 
- penjatahan seakan2 wanita ngga bisa berkiprah tanpa di 'bantu' dengan penjatahan ini.dg meminta emansipasi, apa itu bukannya malah meminta 'keistimewaan' yg sebenernya malah menunjukkan ketidak mandirian ?
keterbatasan kesempatan bukan karena situasi yg male-oriented, tapi justru karena paham feminim yg minta kesempatan yg equal. Kalo kata doyok, you don't get opportunity, you gain it. Dan kadang2 juga dalam emansipasi ini suka keterlaluan, seperti pembuktian yg ngga perlu2 aja: petinju wanita, misalnya. ini sih pendapat pribadi aja, lho.
 
men adl leader bisa jadi, dalam konteks domestik mungkin. Itupun kalo tanpa peran perempuan, men nya jadi leader yg tanpa arah. Tul ngga Mak Zul ? Tapi di keseharian selain domestik issue, kayanya men dan women (terutama di industri ambo nyawah) udah di anggap jadi satu kategori aja: individual person. regardless gendernya.

Kirim email ke