Assalamu'alaikum wr.wb. Sependapat dengan sanak Ronald, memang membumikan Islam itu tidak cuma dengan dakwah2 keliling kota/kampung tapi juga dengan ikut berkecimpung di oraganisasi2 Islam atau partai2 Islam agar kelak bisa ikut dalam pemerintahan dan mempunyai bargaining position yang kuat demi kepentingan umat islam itu sendiri.
Inilah yang juga telah dicontohkan rasulullah dalam masa2 kerasulan beliau, beliau selain sebagai rasul yang menyebarkan agama Islam juga merangkap menjadi kepala negara yang melindungi umatnya yang telah masuk Islam tersebut. Dakwah dengan diimbangi tindakan nyata, akan memperbesar gaung dari dakwah itu sendiri. Contoh sederhana ialah kalau kita ingin menyuruh anak solat maka kita juga harus bangkit pergi berwudhu dan solat berjamaah. Marilah kita dukung partai2 Islam ini agar kelak bisa duduk dipemerintahan dan bisa juga mentarbiyahkan anggota parlemen, pegawai2 negeri. Semoga mereka bisa mengembalikan budaya malu itu mulai dari kalangan pemerintahan sendiri, mentri mulai malu kalau masih mengeluh gajinya kekecilan, pejabat2 mulai malu berkorupsi, polisi2 mulai malu kalau kompromi dijalanan, petugas2 desa mulai malu bermalas malasan semetara diluar sana sudah ngantri warga yang butuh pelayanan mereka. wassalam Adrisman ----- Original Message ----- From: "Ronald P. Putra" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Komunitas MINANGKABAU Pertama di Internet " <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, March 16, 2004 10:31 PM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] [Ringan] sudah punya pilihan kan?? assalaamu 'alaykum wr wb Menarik membaca ulasan Ronal ini, cukup beralasan dan sesuai dengan fakta yg ada (ttg masih jauhnya kesadaran kita sbg muslim). Kalau boleh saya ingin juga memberi sebuah catatan kaki ttg diskusi ini, yah.tukar-tukar pendapatlah. Benar bahwa belum semua umat Islam yg memiliki kesadaran yang cukup ttg keber-Islaman mereka, urusan perut masih nomor satu. Tapi, perobahan tidak akan terjadi jika tidak dimulai. Justru jika memang kesadaran ber-Islam seluruh umat ini telah muncul, maka saya rasa justru tidak perlu lagi ada yang namanya dakwah (atau bahkan partai dakwah). Justru karena dakwah belum menyentuh semua lapisan masyarakatlah maka perlu ada gerakan mentarbiyah masyarakat(apakah itu berbentuk organisasi massa spt muhammadyah atau NU atau berbentuk partai), semuanya bertujuan utk membumikan Islam yg rahmatan lil' alamin ini, cuma wasilahnya saja yg berbeda-beda. Bagi yg wasilahnya di organisasi massa, maka ladang dakwahnya adalah di gerakan-gerakan sosial, dan bagi yg wasilahnya adalah partai, maka ladang dakwahnya adalah di parlemen. Partai Islam yang ada sekarang bukanlah partai yang muncul baru kemaren sore. Sejarah mereka sangat panjang dan telah melalui berbagai proses tarbiyah dan pengkaderan, sehingga kurang pas kalau dikatakan bahwa keikutsertaan mereka adalah bentuk keterburuan dan ketidaksabaran. Lagi pula, yang namanya perobahan itu memang dimulai dari sekelompok kecil manusia yang mempunyai visi jauh ke depan, bukan menunggu masyarakat berubah dulu. Karena kalau dtunggu dulu, tidak akan ada yang namanya gerakan. Dalam Majmu'atu Rosail-nya, Hasan Al Banna hanya mensyaratkan sebanyak 300 kahtibah saja yang telah tertempa Iman dan fisiknya utk melakukan perobahan, tidak berharap semua masyarakat berobah dulu (sbg cttn, Sang Imam memulai langkahnya utk melakukan perobahan hanya dengan 3 orang sahabatnya, yang berupaya terus-menerus mentarbiyah beberapa pemuda yang kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan. Mereka tidak menunggu masyarakat berobah dulu dalam menyampaikan ide-ide mereka. Kalau sekarang gerakan IM, FIS dan Refah mengalami pengahancuran, maka yang hancur hanyalah struktur, bukan ideologi pergerakan. Sejarah mencatat bahwa gerakan mereka telah membari inspirasi yg luar biasa bagi generasi berikutnya. Fondasi yg telah dibangun tidak pernah roboh, justru semakin mengakar dari waktu ke waktu.) Lihat juga sejarah Islam, bukankah peradaban Islam juga dimulai oleh "segelintir" muhajjirin yang hijrah dari mekkah. Lihatlah fondasi yg telah mereka buat, sampai sekarang tdk pernah roboh. Walaupun pribadi-pribadinya sudah kembali kepada Sang Khaliq. Jadi jika ada partai Islam yang menawarkan perobahan ke arah yg lebih baik, kenapa tidak kita sambut ? bukankah Arnold Toynbee mengatakan bahwa Perobahan Peradaban dimulai oleh "creative minority" ? Dan kalau merefer kpd Al-Qur'an, bukankah Allah telah mengatakan bahwa yang merubah nasib sebuah kaum adalah justru kaum itu sendiri ? Sanak ambo Ronal, lewat parlemenlah nasib bangsa ini ditentukan. Segala perturan per uu an lahir dari sini. Siapa yang menggodok segala peraturan ini ? yaitu kader-kader terbaik dari Partai-partai yg ikut pemilu. Lalu mengapa tidak kita dudukkan para keder-kader terbaik Islam dalam parlemen ini ? ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
