Hello Novizal,
Wednesday, March 28, 2001, 9:18:13 PM, you wrote:
NK>>>Maaf sekali lagi mohon maaf, tapi sepertinya saya melihat adanya
N> indikasi bahwa hukum tidak diperlukan dalam prosedur pendaftaran domain name
N> di IDNIC?
Oh perlu, tapi bukan IDNIC pelakunya. Saya gambarkan si IDNIC ini
misalnya adalah catatan sipil yg menerima pendaftaran nama bayi.
Apakah tdk ada aturan hukum di sini, oh pasti ada, tapi bukan catatan
sipil kan yg bikin ? catatan sipil hanya melaksanakan proses
administratif pendaftaran nama bayi dan menerbitkan sertifikat. Titik.
Perkara kemudian ada org lain yg protes karena nama anaknya sama dg
nama yg didaftarkan org lain dan nama tsb sudha dipatenkan. Apakah ini
jadi urusan catatan sipil utk mengurusinya ? apa catatan sipil tiap
kali ada org mendaftar hrs mencek database paten nama anak (iya kalo
ada databasenya hehehe) ? Maka seharusnya, dispute seperti ini
diselesaikan bukan dg aturan yg dibikin oleh IDNIC tapi oleh sistem
lain yaitu hukum yg berlaku dan berkait dg masalah tsb. Dan itu jelas
bukan wilayah wewenang catatan sipil utk membuat, ngurusi apalagi
memutuskan siapa yg sah siapa yg batal, siapa boleh siapa tidak.
N> Contoh saja, kalau seorang praktisi hukum ingin berkecimpung di
N> bidang cyber law, dia akan belajar untuk memahami "technical point
N> of view" dari cyber itu sendiri.
Kalo itu sudha ada bagus sekali dong. Tapi kenapa kok saat ini
pemerintah seperti nggak punya nara sumber utk merancang cyber law di
Indonesia ? Ke mana aja para pakar cyber law Indonesia. Maaf, tapi
saya lihat sekarang ini yg banyak bicara soal cyber law justru masih
pakar internet bukan pakar hukum, khususnya cyber law.
N> Dan tidak sedikit praktisi hukum yang justru memiliki latar belakang teknik.
N> Jadi (mungkin ini agak pedas, tapi maaf) sebaiknya mas Pataka tidak berpikir
N> bahwa hanya orang-orang IT saja yang mengerti IT, tapi kalangan praktisi
N> hukum juga mengerti hal-hal seperti ini.
Sama sekali tdk ada pikiran seperti itu, apalagi sampai ada kesan saya
underestimate thd praktisi hukum. Mohon maaf, justru saya berusaha
menampilkan keinginan beberapa rekan praktisi dan akademisi hukum yg
saya kenal yg tertarik dg masalah hukum di internet dan merasa bahwa
kolega2 mereka sedikit sekali yg aware thd 'dunia masa depan ini'.
NK>>>Kalaupun praktisi hukum mengerti "cara kerja" domreg, mereka pun pasti
N> akan terikat akan norma-norma etika dan norma-norma hukum (teoritically
N> maupun practically) dan akan selalu mempunyai sisi pandang hukum atas
N> domreg.
Setuju, dan itu yg diharapkan. Tapi menurut saya anjuran pengetatannya
bukan di sisi IDNIC tapi justru di sisi produk hukum 'daratnya'.
NK>>>Kalo boleh dibilang, secara fakta sih masih sedikit yang mengerti
N> internet, tapi bukan berarti praktisi hukum tidak mengerti internet.
Saya setuju. Nah, sayangnya kerap kali praktisi hukum yg diajak
ngomong soal internet itu malah nggak ngerti, atau paling tidak punya
persepsi yg kurang tepat tentang internet apalagi lebih spesifik lagi
domreg. Pendaftaran domain masih dibayangkan seperti org mendaftarkan
paten, membikin suatu badan usaha dsb. Padahal prakteknya di internet
kan nggak serumit itu dan memang beda jauh.
NK>>>Sebagai salah seorang praktisi hukum, saya pikir banyak rekan-rekan
N> praktisi/akademisi hukum yang tidak perlu lagi "ditatar" mengenai Internet,
Banyaknya itu seberapa ? Apakah sudah mayoritas ? Saya kira kok belum.
justru mayoritas malah nggak ngerti apa2 tuh hehehe ... Paling tidak
itu yg saya ketahui sampai saat ini, berdasarkan pengalaman.
N> karena seseorang yang terjun dalam bidang hukum "selalu dipaksa" untuk
N> mengetahui hal-hal yang ingin didalaminya. Sebagai contoh kecil saja, untuk
N> dapat membuat suatu perjanjian pemeliharaan komputer, seorang praktisi hukum
N> akan "dipaksa" untuk mengetahui cara kerja komputer baik yang stand alone
N> ataupun yang bersifat networking (LAN/WAN dsb). Walaupun tidak secara
N> detail (nanti para pakar teknik dan industri komputer jadi kehilangan
N> pekerjaan dong), tapi tetap saja seorang praktisi hukum akan diminta untuk
N> mengetahui secara integral.
Lha apa ya semua praktisi hukum pernah berurusan dg dunia komputer,
internet apalagi lebih spesifik domreg ?
N> Mungkin sebaliknya, mas Pataka sudah mulai saatnya untuk "melek"
N> hukum dan "ditatar" hukum, heheheheheh, maaf mas......
Iya kali yah hehehe ... sayangnya kok ndak tertarik tuh. Bapak saya
aja gelarnya SH, tapi kerjanya nggak berhubungan hehehe ...
NK>>>berbicara nasionalisme, justru dengan adanya aturan yang cukup ketat
N> untuk pendaftaran domain maka yang terjadi adalah:
N> 1. perlindungan terhadap Indonesian individual/corporate yang ingin
N> menggunakan domain name;
Perlindungannya menggunakan produk hukum, perangkat hukumnya yg
diperkuat dan itu kan jelas bukan tugas IDNIC kan ?
N> 2. jelasnya "aturan main" yang ada sehingga memperkecil "perebutan" domain
N> name;
Aturan main yg sifatnya administratif setuju, seperti misalnya akte
notaris, npwp, siup, tdp itu masih wajar. Tapi kalo sampai menentukan
seseorang tdk berhak karena nama yg diajukan dianggap sebagai generic
name saya kira ya agak sulit dimengerti dan bukan pd tempatnya.
Memangnya menurut interprestasi siapa nama tsb generic ? Begitu
juga kalo dianggap suatu nama itu brand name dan dianggap mencurigakan
lalu ditanyakan soal paten, hak cipta dsb sedangkan belum tentu nama
tsb memiliki paten atau malah gimana kalo patennya dimiliki org lain
atau org asing yg sebetulnya malah tdk berhak ? Saya kira kalo sudah
sampai yg begini ini prosedur yg paling sederhana adalah siapa daftar
duluan itu yg diterima, perkara ada protes dan keberatan silahkan
diajukan ke pengadilan setempat. Bukan urusan IDNIC, tinggal gimana
nanti IDNIC mengikuti putusan hukum yg sudah tetap dari pengadilan.
Jadi nggak perlu sampai terjadi gontok2an dan perundingan serta kasak
kusuk (hehehe) di dalam IDNIC. Kan kesannya malah mencurigaken (KKN).
N> 3. perlindungan atas "kewibawaan" IDNIC sebagai organisasi yang mengurus
N> masalah domain name di Indonesia;
Apa kalo sisdur registrasinya sederhana dan mudah kemudian wibawanya
berkurang ? Saya kira kemudahan di domreg lain justru memperbesar
'wibawa dan gengsi' mereka, sehingga org pada mendaftar di sana.
NK>>>Jelas repot, tapi saya kira cukup berharga untuk dilaksanakan.
Kalaulah begini misalnya, perangkat hukumnya cukup, artinya hukumnya
ada dan perangkat penegakannya lengkap (siapa tahu sudah ada UU
Internet HAKI, Paten etc. dan Unit Cyber Crime etc.). Apakah masih pd
tempatnya kalo IDNIC menetapkan berbagai macam barrier utk mencegah
org seenaknya mendaftarkan domain yg bukan haknya ?
Kalau jawabannya ya, maka saya nggak habis mengerti, apakah IDNIC ini
otoritas hukum atau sekedar pelaksana administratif domreg ? Tapi
kalau jawabannya tidak, maka mestinya pendapat saya sudah dari tadi2
dipahami.
NK>>>Jelas sekali bahwa IDNIC dimasa mendatang mau tidak mau akan
NK>>>berhadapan dan terlibat dengan masalah hukum.
Terlibat bagaimana dulu ? Sebagai salah satu pembuat hukum atau malah
'the law' itu sendiri, artinya hukum domain name di Indonesia itu
adalah IDNIC ? Saya kira itu berlebihan ...
NK>>> Sebagai satu-satunya otoritas didalam bidang domreg di
NK>>> Indonesia, maka pasti akan berbenturan dengan hukum bila tidak
NK>>> mulai meng"akrabi" visi "untuk apa hukum itu dibuat".
Otoritas IDNIC seharusnya hanya sebatas pd administrasi domreg, tidak
lebih tidak kurang, sebagaimana domreg lainnya. Soal hukum ya serahkan
ke lembaga hukum yg kompeten, apakah itu polisi, jaksa, hakim, lawyer
pengadilan (law enforcement), kalau itu kasus, atau para pembuat hukum
(legislatif) entah itu MPR, DPR, pemerintah dst.
IDNIC tentu saja perlu melek hukum dan bisa proaktif sebagaimana warga
negara lainnya di bidang hukum memberikan masukan dan kalo perlu visi
ke depan dlm kapasitas sbg praktisi di bidangnya. Misalnya nih, kasus
yg banyak terjadi di IDNIC (umpamanya) adalah soal cybersquatting.
Nah, IDNIC bisa berperan utk ikut dlm proses pengusulan dan perumusan
UU Cybersquat misalnya. Soal gimana proses hukumnya dan penindakannya
itu ya terserah pd keputusan hukum / pengadilan. IDNIC hanya eksekutor
Tidak lebih dari itu.
NK>>>Sisdur itu sendiri sebetulnya perangkat hukum, sepanjang tidak
NK>>>ada lagi yang mengatur mengenai masalah hukum domreg di
NK>>>Indonesia, ya sisdur IDNIC itu hukum. Apalagi secara hukum
NK>>>pendirian IDNIC diakui dan kabarnya (ini baru kabarnya loh) akan
NK>>>disahkan sebagai salah satu "instansi" yang menangani domreg di
NK>>>Indonesia.
IDNIC bukan lembaga hukum dan bukan badan hukum, seperti juga umumnya
badan2 dan lembaga2 Internet. Makanya kalo sudah sampai di sini biasa
nya akan berujung kembali pd ide PT DNS JAYA, bukan begitu Pak Budi ?
NK>>>Setuju sekali. Beban memang tidak sepenuhnya dipundak IDNIC tapi
NK>>>juga dipundak pemerintah, akademi dan praktisi yang punya
NK>>>relevansi dengan masalah ini.
Setuju.
NK>>>Tuh khan mas Pataka nggak konsisten.
Pelan2 dulu lah biar nggak salah tangkep
NK>>> Disatu sisi mengatakan IDNIC tidak perlu berkutat dengan masalah
NK>>> hukum
Maksud saya, berkutat dalam arti ikut2an membuat aturan hukum sendiri
hanya karena belum ada hukum positif yg bisa dipakai utk mengatur soal
domreg ini. Karena IDNIC bukanlah lembaga hukum, ida hanyalah suatu
lembaga administratif domreg. Mudah2an menjadi jelas.
NK>>> dan dilain pihak dikatakan IDNIC salah satu elemen dunia hukum.
Sebagai organisasi dia adalah salah satu elemen hukum, sama saja dg
saya sbg individu dan warganegara atau sebagai organisasi, entah
sebagai subyek maupun obyek, tergantung posisinya di mana. Dalam hal
ini saya memandang IDNIC sebagai pelaku langsung domreg di Indonesia
dapat berperan sebagai nara sumber (elemen hukum) bagi para pembuat
hukum untuk membuat peraturan yg berkaitan dg domreg. Org2 hukum yg
hrs membuat aturannya, bukan IDNIC.
NK>>> Kalau IDNIC salah satu elemennya, ya jelas punya "kewajiban"
NK>>> untuk berkutat dengan masalah hukum.
Kewajibannya sama seperti misalnya warga negara, tunduk kepada hukum.
Bukan membuat hukum itu sendiri, bukan kompetensinya kan ?
NK>>>Sekali lagi, sisdur IDNIC itu (saat ini menjadi satu-satunya)
NK>>>hukum loh mas terutama sekali di bidang domreg.
De facto begitu, tapi apakah ini bisa dibenarkan ? Kan tidak enak kalo
dirasani sbg arogan ? Tentunya kan tidak karena IDNIC bukan lembaga
hukum, bukan pd kapasitasnya sebagai pembuat hukum. Menentukan syarat
dan prosedur administrasi yg sifatnya internal (misalnya pendaftar
punya identitas apa nggak, gimana cara bayarnya dst.) saya kira wajar
dan jamak di semua organisasi, tapi menentukan apakah domain ini sah,
legal, paten apa bukan, siapa yg berhak siapa yg ndak berhak dst apa
bukan sebaiknya dan seharusnya itu menjadi kewenangan lembaga lain yg
memang kompeten untuk itu ?
Misalnya siapa yg berhak atas suatu nama, mestinya bukan IDNIC yg
memutuskan tapi pengadilan, itupun kalo ada yg memperkarakan.
Sepanjang gak ada yg protes ya registrasi langsung saja di acc.
Gitu saja kok.
NK>>>Dengan tidak mengurangi hormat saya kepada pengurus IDNIC dan mas
N> Pataka, saya ucapkan banyak terimakasih atas perhatian dan pendapatnya.
Iya, sama2. Saya cuman agak bingung baca replynya karena nggak ada
tanda quotationnya, mana yg tulisan saya sendiri, punya Pak Budi sama
yg tulisan Pak Novizal.
--
Best regards,
PatakaID mailto:[EMAIL PROTECTED]
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]