Jumat, 25 April 2008 di Padang Ekpress..
Membina Iman dan Kecerdasan dalam Era Pembangunan
Oleh : H Effendy Koesnar (Dt Bagindo Said), Penulis, mantan Wapimred SKH
SEMANGAT, Sekarang Dosen Luar Biasa Fak.Dakwah IAIN.
TERNYATA usul Ka Pendam Wardjono mendapat sambutan baik Panglima Panoedjoe.
Tinggal lagi menjadi beban Ka Pendam melakukan berbagai persiapan, antaranya
pendekatan kepada Pt Rumah Gadang sebagai Badan Hukum penerbit SKH Aman
Makmur. Pendekatan dengan pihak Pt Rumah Gadang tak begitu sulit, kaena
sewaktu SKH Aman Makmur terbit, kerjasama dengan Komando begitu akrab.
Selain Mayor Wardjono dan Mayor Iman Soeparto, SKH Aman Makmur juga intim
dengan beberapa perwira lainnya, seperti Letkol Syarwani dan Mayor A.
Syahdin (mantan Bupati Agam dan Limapuluh Kota).
Ditambah lagi, kegelisahan para wartawan melihat suasana yang semakin hangat
akibat perlakuan PKI, sedangkan mesin ketik belum dapat dimanfaatkan.
Tri Ubaya Cakti Cikal Bakal SKH SEMANGAT
Tanggal 17 April 1965, tepat 6 tahun usia Kodam III/17 Agustus dihitung
sejak kelahirannya 17 April 1959, Tri Ubaya Cakti hadir di tangan pembaca,
masyarakat Sumbar dan Riau. Walau disebut sebagai Edisi Khusus HUT-VI Kodam
III/17 Agustus, penampilannya juga seperti surat kabar biasa. Menghidangkan
berita, editorial, pojok, gambar-gambar, opini dari beberapa orang penulis
serta iklan. Penerbitan perdana ini memang lebih banyak bercerita tentang
kelahiran Kodam III/17 Agustus di Sumbar-Riau. Pemberitaan, di samping tetap
membangkitkan semangat masyarakat yang masih loyo, juga menghidangkan
hiburan yang disukai pembaca. Namun berangsur-angsur berkat usaha Tri Ubaya
Cakti yang dimotori mantan wartawan SKH Aman Makmur, semangat masyarakat
mulai bangkit.
Lama juga kehadiran Edisi Khusus peringatan HUT-VI Kodam III/17 Agustus ini
di tengah masyarakat Sumbar-Riau. Kalau tak salah sampai 40 hari dihitung
sejak 17 April 1965. Berbagai masalah dihadapi pengelolanya. Terutama
serangan Suara Persatuan dengan Pimrednya Zulkifli Sulaiman. Tajuk Rencana
dan Pojok terompet PKI itu, dengan lancangnya menyerang Tri Ubaya Cakti.
Ditulisnya, wartawan Tri Ubaya Cakti, Hantu Gentayangan alm. Aman Makmur.
Namun segala kesulitan dapat diatasi. Termasuk material seperti kertas,
ada-ada saja penyumbang yang menyerahkan kertas. Apalagi percetakan milik
Haluan sedang dikuasai PEPELRADA Sumbar-Riau.
Sungguhpun demikian, pengelola tetap berusaha menjadikan surat kabar resmi,
selain Edisi Khusus HUT-VI Kodam III. Pertama melakukan pendekatan kepada
penerbit SKH Berita Yudha di Jakarta, sehingga nama Tri Ubaya Cakti beralih
menjadi Warta Yudha. Sayangnya tidak didapat kesefakatan sehingga usaha
beralih kepada penerbit SKH Angkatan Bersenjata yang dipimpin Brigjen H.
Soegandhi. MDP Pandoe bersama dengan Mayor Wardjono dan Mayor Iman Soeparto
(kedua nama terakhir alm) berusaha ke Departemen Penerangan di Jakarta
mendapatkan Surat Izin Terbit resmi. Berbagai persyaratan yang diperlukan
untuk mendapatkan Surat Izin Terbit (SIT).
Badan Hukum Penerbitnya YASEBANG
Salah satu persyaratan menurut UU Pokok Pers waktu itu (UU No. 11/66)
penerbitan surat kabar harus memiliki badan hukum tersendiri. Salah satu
Badan Hukum yang ada di Kodam III hanyalah YASEBANG (Yayasan Kesejahteraan
Pembangunan) Kodam III/17 Agustus dengan Akta Notaris Hasan Qalbi No. 16
tanggal 16 April 1964. Begitu juga permodalan pertama secara resmi dengan
pengalihan modal Pt Rumah Gadang menjadi modal YASEBANG guna penerbitan SKH
Angkatan Bersenjata Edisi Padang. Peralihan modal PT Rumah Gadang tersebut
atas persetujuan pemiliknya, berdasarkan Surat Keputusan Pangdam III/17
Agustus selaku Ketua PEPELRADA.
Ringkasnya, SIT diperdapat dengan memberikan izin kepada Brigjen H Soegandhi
sebagai Penanggung Jawab menerbitkan SKH Angkatan Bersenjata Edisi Padang.
Sejak itu nama Warta Yudha beralih menjadi SKH ANGKATAN BERSENJATA Edisi
Padang, Penanggung jawab setempat dipercayakan kepada Mayor Wardjono.
Lima bulan Penerbitan Angkatan Bersenjata berjalan, Ka Puspen Hankam Brigjen
Soegandhi mengadakan pembekalan pengetahuan bagi wartawan untuk menyamakan
visi dan missi surat kabar Harian Angkatan Bersenjata di seluruh Indonesia.
Puspen Hankam membekali watawannya dengan pengetahuan Jurnalistik, grafika
serta manajemen persuratkabaran. Termasuk ilmu perang urat syaraf menghadapi
musuh. Selain wartawan, Puspen Hankam juga memberikan kesempatan kepada
Penerangan/Humas masing-masing Angkatan dan POLRI di daerah. Instrukturnya
kebanyakan pratisi pes, mantan penerbit Media
Massa yang dicabut SITnya di Jakarta serta beberapa orang Pamen ABRI sesuai
keahliannya. Pimpinan Harian Angkatan Bersenjata Edisi Padang menugaskan
Zuiyen Rais dan Pasni Sata mengikuti pembekalan tersebut. Pangdam III/17
Agustus menugaskan Letnan Dahrul Aswad (terakhir Mayor, Alm) dan Effendy
Koesnar (Penulis). POLRI menugaskan Inspektur Dua Nasrun Dt Rajo Sungut
Melanjutkan missi Aman Makmur yang disetujui komando, Angkatan Bersenjata
menjadi bacaan yang disenangi masyarakat. Sehingga pernah terjadi Agen Kota
Padang meminta tambahan suratkabar setelah selesai cetak. Untunglah klay
(susunan timah bertulisan berita) masih di atas mesin cetak. Diulanglah
mencetak memenuhi permintaan distributor.
Melonjak drastisnya tiras SKH Angkatan Bersenjata, karena penghidangan
berita bersambung “Peristiwa Bandar Betsi”. Pembunuhan sadis salah seorang
BUTERPRA (Bintara Umum Territorial Perlawanan Rakyat) oleh BTI (Barisan
Tani Indonesia) di Sumatera Utara. Surat Kabar lainnya tidak memuat berita
tersebut. Sehingga tiras Angkatan Bersenjata pernah mencapai tiras puncak
seperti yang pernah didapat Aman Makmur.
Musim Beralih Zaman Bertukar
Kebijakan keras pemerintah terhadap bekas PRRI mulai melunak, sebagai
kelanjutan pemberian amnesti. Hak milik perorangan maupun Badan Hukum berupa
gedung, kantor dan bangunan lainnya yang selama pergolakan daerah dikuasai
Kodam dikembalikan kepada pemiliknya. Percetakan HALUAN bersama
penerbitannya, sertra percetakan Sri Dharma yang dikuasai PEPELRADA
dikembalikan kepada pemiliknya. Kecuali bekas percetakan SKH Suara
Persatuan milik PKI tetap dikuasai KODAM III/17 AGUSTUS.
Kembalinya percetakan Haluan kepada pemiliknya, menjadikan SKH Angkatan
Bersenjata mengupah kepada Haluan. Waktu bernama Percetakan PENDAMAG,
Semangat hanya menyisihkan biaya percetakan seperti tinta, matriys dll.
Dengan beralihnya PENDAMAG kepada pemiliknya, Penerbitan Angkatan Bersenjata
jadi menyusut. Malah tagihan biaya cetak dari Percetakan Haluan tak
terpenuhi.
Lebih terasa kesulitan, setelah pimpinan HALUAN menerbitkan kembali
suratkabarnya, dipimpin Rivai Marlaut, diganti oleh Chairul Harun,
dilanjutkan oleh Annas Lubuk, perhatian pembaca beralih dari Angkatan
Bersenjata kepada Haluan. Peralihan dinilai wajar, karena penampilan Haluan
jelas lebih baik dari Angkatan Bersenjata. Hurufnya bagus, karena dilengkapi
pemiliknya sesuai kebutuhan. Sebaliknya bahan percetakan untuk Angkatan
Bersenjata dinapikan, sehingga sulit dibaca.
Karena kehabisan matrijs “t”, percetakan menggantinya dengan huruf ”f”
seperti menuliskan “totok” percetakan menggantinya dengan “fofok”. Pernah
ditegur Pak Hatta, “Nama saya “Hatta”, bukan Haffa yang ditulis Skh “AB” .
Membengkaknya hutang kepada Haluan, Kodam dalam hal ini YASEBANG mengambil
kebijakan, pindah kantor dan cetak ke Jalan Sungai Bong 14 (Jln. Imam Bonjol
sekarang). Percetakan Srana Dwipa (bekas milik PKI) direhab sedemikian rupa,
sehingga layak mencetak suratkabar. Sementara usaha penerbitan berjalan
lancar tapi karena peralatan cetak perlu diganti, adakalanya tak terlaksana
semestinya. Kesulitan ditambah lagi, karena mesin cetak yang dipakai adalah
mesin cetak tua yang sering rusak. Akibatnya penampilan Angkatan Bersenjata
semakin melorot.
Begitu pula Aman Makmur menerbitkan kembali suratkabarnya yang terhenti
sejak Maret 1965. Disefakati tenaga dan asset yang ada dibagi dua,
masing-masing kembali ke Aman Makmur dan separohnya tetap di Angkatan
Bersenjata. Wartawaan yang bertahan di Angkatan Bersenjata, Zuiyen Rais,
Rajalis Kamil dan MS Sukma Jaya. Namun kesulitan belum teratasi, penampilan
surat kabar semakin tertinggal dari suratkabar yang ada seperti SKH Haluan
yang semakin menarik, karena betul-betul dikelola secara bisnis pers.
Pimpinan Umum Angkatan Bersenjata Kolonel Burhani bersama Ketua Yayasan
Letkol Iman Soeparto, SH sepakat melakukan pengurangan karyawan. Terjadilah
penyusutan tenaga
Kerja, baik karyawan penerbit maupun percetakan. Karyawan pecetakan ada yang
ditampung Percetakan Haluan. Zuiyen Rais dan Rajalis Kamil dan MS. Sukma
Jaya mulanya ingin bertahan di Angkatan Bersenjata, tapi entah apa sebabnya
hanya MS Sukma Jaya yang tetap bertahan dan ditunjuk sebagai Pimred.
Beralih nama menjadi SEMANGAT
Berdasar Instruksi Menhankam PANGAB Jenderal A.H. Nasution, seluruh
suratkabar Harian Angkatan Bersenjata yang diterbitkan KODAM di Indonesia
ditiadakan. Bila akan menerbitkan juga harus berganti nama dengan nama lain
selain Angkatan Bersenjata. Kapendam Letkol Drs. Saafrudin Bahar selaku
Penaggungjawab bersama Wakil Pimpinan Umum A.A. Navis memilih SEMANGAT
sebagai pengganti nama Angkatan Bersenjata. Sedangkan motto yang ditulis di
bawah nama adalah “Membina Iman dan Kecerdasan Dalam Era Pembangunan”. Nama
dan motto itu tetap dipakai sampai akhir hayatnya.
Walau berganti nama dilengkapi dengan motto, SEMANGAT tak luput dari
berbagai kesulitan. Berbagai kebijakan dilakukan untuk pengatasi kesulitan,
antaranya berkali-kali melakukan perubahan piminan redaksi sesudah M.S.
Sukma Jaya. Tersebutlah beberapa nama, antaranya Kamardi Rais Dt. P.
Simulie, Makmur Hendrik, Drs.Yanuar Abdullah, tapi sama sekali tidak
mengatasi kesulitan yang ditanggungkan media massa anti komunis ini.
Diusahakan lagi oleh Kapendam Saafrudin Bahar mengusulkan “langganan wajib”
bagi personil KODAM dari bintara sanpai jenderal dan PNS golongan II ke
atas. Sementara kebijakan itu cukup membantu, tapi lama-lama juga tidak
bertahan. Para langganan wajib itu ada antaranya, mau membaca SEMANGAT
keberatan membayar uang langganan. Ada pula yang meninggal, tetapi tetap
dikirimi suratkabar, uang langganan tak dapat diterima.
Bekerjasama dengan Pt Riza Mitra Medan
Pangdam III/17 Agustus dalam hal ini Brijen Soelarso memandang kerjasama
antara Kodam I/Bukit Barisan dengwn Pt Riza Mitra menerbitkan SKH Bukit
Barisan berjalan baik dan menmguntungkan kedua belah pihak. Kebaikan dan
keberuntungan itu ingin dipakaikan untuk mengurangi kesulitan Harian
Semangat. Didapatlah kesepakatan dengan Direktur Pt Riza Mitra Medan.
Disepakatilah antaranya, pemindahan gedung dari Jalan Imam Bonjol 14 ke
Gedung Balai Prajurit nasih di Jalan Imam Bonjol.
Perpindahan ke gedung yang lebih besar, karena Riza Mitra menyediakan mesin
cetak offset pengganti Snel Press di Srana Dwipa. Selain penyediaan mesin
cetak Riza Mitra juga menyediakan Pimpinan Redaksi pengganti MS. Sukma
Jaya, dalam hal ini Zakariya Yamin (Alm), seorang wartawan senior angkatan
H.Kasuma (Alm), Pimpina Umum Haluan. Saran Pt Riza Mitra tak dapat
persetujuan pihak Semangat, karena proses penggantian Pimred memerluka
prosedure panjang. Kecuali jabatan Pimpinan Usaha yang semula dijabat
Effendy Koesnar (Penulis) beralih menjadi Wakil Pimpian Usaha yang
ditunjuk Pt Riza Mitra. (bersambung)
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.4/1396 - Release Date: 24/04/2008
18:32
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---