Ambo maraso ke "minangan " Dorce kuaik, ambo mandanga ; baliau
mambuek rumah gadang ( asrama ???) bagonjong di Pondok Gede - Bekasi.
Dalam keseharian, baliau bana-bana "manusia biaso".
Ambo panah batamu jo baliau (tanpa make-up) dihalaman musajik Al-Azhar
kebayoran, kami samo nongkrong makan makanan Minang di kaki limo.
( Di musajik Al-Azhar tiok Rabaa ba'da Ashar ado pengajian.
Dihalaman musajik ado duo lapak makanan Minang )
Mambaco pengabdiannyo ke kemanusiaan, sesuatu nan sangaik dipujikan,
patuk ditiru.
Wass
mak Ban
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dari Kompas Minggu 27 Juli
Minggu, 27 Juli 2003
Dorce
ARTIS Dorce Gamalama, Senin (21/7), merayakan hari lahirnya yang ke-
40.
Saat itu Dorce meluncurkan buku biografi Perjalanan Kehidupan Dorce 7-40
Tahun.
Lewat buku tersebut, Dorce, yang terlahir dengan nama Yuliardi, di
Solok,
Sumatera Barat, 1963, memaparkan perjalanan hidupnya. Termasuk ketika
dia menjalani operasi pergantian kelamin dari laki-laki menjadi
perempuan pada 1984 di Rumah Sakit Dr Soetomo,
Surabaya.
Dorce hidup dengan status jenis kelamin perempuan yang disahkan
pengadilan. Status dan nama baru Dorce Ashadi dan nama panggung Dorce
Gamalama pun
diterima publik. Orang-orang dekatnya menyapa Dorce dengan sebutan ibu.
Tiga anak angkatnya, Rizky Sutrisno, SitiFatimah, dan Siti Khadijah,
memanggilnya dengan sebutan mama. Para wartawan biasa menyapanya sebagai
mbak Dorce.
Dengan karakter khasnya itu, Dorce menjadi bagian dari dunia hiburan
Indonesia. Dorce merintisnya sejak umur tujuh tahun ketika dia bernyanyi
di Latin Quarter, sebuah klab malam yang pernah terkenal di Jakarta
sejak awal tahun 1970-an. Dorce bergabung dengan kelompok Bambang
Brothers, dan kemudian Fantastic Dolls, kelompok nyanyi dan tari yang
beranggotakan para waria pimpinan Myrna. Dari
Myrna inilah nama Dorce muncul sebagai nama panggilan untuk Yuliardi
alias Dedi.
Audio Visual Nama Dorce mulai dikenal publik ketika dia merambah dunia
hiburan di Surabaya dan sekitarnya, sejak tampil di TVRI Surabaya di
awal tahun 1980-an. Kemudian nama Dorce boleh dibilang menasional sejak
dia muncul di TVRI Jakarta pada tahun 1989. Dia menyanyi, menari,
membanyol dengan gaya feminin, namun
kadang juga agak urakan. Di tengah nyanyian dia membuat siulan keras
dengan memasukkan jari dan jempolnya ke mulut.
Atau juga tiba-tiba dia mengeluarkan bunyi seperti suara binatang di
sela lagu yang dinyanyikan. Dorce memang seorang entertainer.
Sampai hari ini, hampir tidak ada hari luang untuk tidak bekerja.
Berbagai acara dan show menunggunya di mana-mana. Namun, di sela kiprah
showbiz itu, Dorce selalu memberikan perhatian yang cukup untuk yayasan
yang dikelolanya sekitar 1.600 anak yatim dan anak-anak dari keluarga
tidak mampu yang disantuninya. Kegiatan ini seperti merupakan upaya
Dorce membayar penderitaannya dulu.
Di balik dunia yang gemerlapan itu, dimensi spiritual pun semakin
menguat dalam diri Dorce. Pengalaman spiritualnya bukan lahir dari
kehidupan yang mulus, tetapi justru dari suatu bagian perjalanan hidup
yang ia sebut "tidak keruan".
Spiritualitas itu juga yang membuat Dorce merasa kuat menghadapi
pihak-pihak yang sampai kini masih terus mempertanyakan identitasnya.
KAPAN Anda merasa menyadari akan jati diri Anda?
Saya adanya, ya, begini ini. Dulu, wujud saya memang laki-laki, tapi
saya juga tidak pernah merasakan bahwa saya laki-laki. Saya merasa
sebagai perempuan, tetapi wujud saya bukan perempuan. Tapi, ada
keganjilan pada diri saya. Misalnya, dari cara saya bicara, duduk, itu
tidak kelihatan meledak-ledak seperti laki-laki. Mungkin saya waktu itu
seperti perempuan tomboy yang punya kemaluan laki-laki. Saya tidak
mengatakan saya perempuan, tapi saya merasa
sebagai perempuan yang bergaya seperti laki-laki.
Bagaimana dengan hormon Anda?
Hormon saya lebih banyak perempuan. (Dorce menunjukkan kaki dan tangan
yang tidak ditumbuhi bulu. Dia memperlihatkan leher yang tidak tumbuh
jakun. Kumis dan jenggot juga tidak keluar. "Ini bukan karena dicukur,"
ujarnya, "dari dulu,
ya,, sudah begini.")
Itu mengapa Anda lalu operasi?
Ya, mulailah saya menyempurnakan itu semua. Saya tidak banyak mengubah
fisik saya. Saya tidak mengubah muka, hidung. Saya hanya mengubah
payudara dan kelamin. Kekurangan yang saya rasa karena saya tidak
mempunyai
kemaluan perempuan. Ini pun tidak untuk diliat-liatin, tetapi untuk
kapasitas saya sebagai perempuan, saya harus memiliki itu. Saya akhirnya
memberanikan diri mengambil keputusan itu, meski sebagian orang
menentang. Tapi, status itu akan saya jalani sampai akhir hayat saya.
Hanya Tuhandan waktu yang akan menentukan ke mana saya nanti. Makanya,
di buku saya itu saya katakan janganlah jasad saya nanti dimandikan oleh
laki-laki.
Itukah sebabnya Anda tidak mau menghakimi seseorang karena ia lesbian
atau gay?
Ya, karena saya pikir, manusia itu mempunyai kekurangan dan kelebihan.
Mengapa kita harus menghujat orang karena kita juga dihujat orang.
Mengapa saya harus menghina orang toh saya juga dihina orang. Apakah
setiap hujatan dan hinaan
itu harus kita kembalikan kepada orang?
Bagaimana Anda melihat rekan-rekan Anda dulu?
Kalau misalnya mereka minta bertukar pengalaman, ya, oke saja saya akan
datang sebagai teman. Saya mengumpulkan kaum waria, lesbian, gay, ayo
kita mencari solusi. Maksudnya kalau itu masih bisa berubah mengapa
enggak? Banyak waria
yang katanya nggak mungkin kawin ternyata tiba-tiba kawin
dan punya anak. Fisik mereka yang kelihatan dari luar
seperti perempuan, tapi di dalamnya kan laki-laki. Mereka
bisa mengeluarkan sperma dan sperma itu bisa masuk indung
telur menjadi anak. Waria bisa juga "berdiri" kok kalau
pagi-pagi.
Maaf, sebelum operasi dulu apakah Anda juga mampu "berdiri"?
Ya, tapi lemah.
Bagaimana setelah operasi?
Waktu selesai itu saya nangis sejadi-jadinya. Saya bukan
nangis karena menyesal, tapi bahagia. Sebelum menjalani
operasi operasi saya berdoa., Ya Tuhan, kalau Engkau
mengizinkan saya menjadi perempuan, izinkanlah saya. Tapi,
kalau tidak, matikan aku pada saat itu juga.
Di masa akil baliq, Anda pernah mengalami fase mimpi basah?
Kalau mimpi basah enggak, tapi kalau onani iya. Saya tidak
pernah mimpi basah. Kalau pun mimpi, mimpinya bercinta
dengan laki-laki.
Sekarang ini ada keinginan untuk dibelai-belai?
Oh, ada. Bohong kalau saya katakan tidak. Saya sebenarnya
bisa mencari kepuasan diri, tapi saya pikir apakah seorang
manusia yang sudah kotor seperti saya ini ingin ditambah
kotor-kotor yang lain? Mau jadi apa saya? Saya hanya ingin
menjadi manusia yang disayang Tuhan. Saya minta sama Allah
dan Allah memberi semuanya. Mengapa saya melakukan hal-hal
yang tidak diridhohiNya? Saya juga tidak berniat mencari
pasangan hidup lagi. Biar hidup saya begini saja. Saya
sudah cukup bahagia.
Masihkah Anda merasakan sisi laki-laki pada diri Anda?
Saya nggak tahu. Tapi, misalnya, saya lagi show, saya
tiba-tiba suka bersiul dengan tangan. Yang seperti itu gaya
laki-laki atau perempuan saya tidak tahu. Tapi, kalau yang
dimaksud sifat kelaki-lakian itu adalah sifat suka
perempuan, maka hal itu tidak ada. Saya suka perempuan
dalam batas sebagai teman atau sahabat. Kalau saya mencium
anak saya, itu adalah saya sebagai seorang ibu. Saya yakin
Tuhan sudah mengubah nasib saya, tingkah laku saya, dan
sikap saya.
Dengan kehidupan saya yang seperti ini, saya ingin
eksistensi yang pasti. Walaupun orang mengatakan saya ini
apa, tapi pada prinsipnya, ada kebanggaan dalam diri saya,
I'm a woman. Lenggak-lenggok saya dulu perempuan, tapi
kalau saya tidak memenuhi syarat untuk menjadi perempuan,
ya, ngapain. Mungkin saya terlalu berani menentang kodrat .
Tapi, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ini
seorang ibu. Saya ingin menjadi seorang perempuan yang
baik. Saya ingin menjadi manusia yang baik di mata Tuhan
dan di depan masyarakat.
Bagaimana tetangga Anda di Kramat Sentiong memandang Anda
sekarang?
Saya masih dikenal dan mereka sangat menghargai saya.
Mereka tahu siapa saya dulu, tapi ketika saya datang ke
Sentiong sekarang, mereka menyambut saya seperti menyambut
seorang ibu yang lama tak ketemu. Bukan sebagai Dedi atau
apa. Mereka merindukan saya sebagai sosok. Tak ada yang
memanggil saya Dedi. Mungkin dalam hati, mereka tahu siapa
saya, tapi mereka sangat menghargai eksistensi saya
sekarang ini.
Mereka melihat Anda sebagai selebriti?
Dari dulu saya tidak melihat diri saya sebagai selebriti
atau artis. Yang memberikan predikat selebriti itu kan
masyarakat. Saya sih biasa saja. Kalau kita sudah
meyelebritikan diri bagaimana kita bisa menjangkau
masyarakat? Mereka akan menjauh dari kita. Prinsipnya saya
ini memasyarakat dengan lingkungan dan alhamdulillah
masyarakat dapat menerima saya.
Anda tampak mudah tersentuh soal masa lalu...
Nggak tahu, ya, sekarang ini semakin saya bertambah umur
saya makin sensitif. Saya menjadi mudah tersentuh dan
gampang menangis. Ini tidak dibikin-bikin. Ini semua
betul-betul keluar dari hati saya yang paling dalam. (dalam
wawancara, Dorce beberapa kali tampak mencucurkan air mata,
khususnya ketika pembicaraan menyentuh masa kanak-kanaknya)
Anak-anak saya pun harus tahu saya ini siapa. 'Mama kamu
seperti ini keadaannya dan kamu tahu mama kamu itu siapa.
Terserah kamu melihat mamamu'.
Ketiga anak angkat saya itu sudah seperti anak saya
sendiri. Mereka punya akte kelahiran yang menyebut nama
orang tua mereka masing-masing. Walaupun mereka saya
sekolahkan, saya hanya menjadi wali murid mereka. Masalah
anak-anak itu nanti mau sama kita apa enggak itu tergantung
pada bagaimana kita mendidik mereka. Alhamdulillah, bahagia
saya rasanya bisa memeluk anak-anak. Saya terharu dan
bahagia. Allah mengabulkan doa saya.
DORCE terlahir sebagai Juliardi dari pasangan Ahmad dan
Dalifa di Solok, Sumatera Barat. Ia menceritakan masa
kecilnya sebagai kisah sengsara seorang anak tanpa kasih
sayang orangtua dan saudara. Umur tiga bulan Dorce
ditinggal mati sang ibu dan genap berumur setahun, ayahnya
meninggal dunia. Oleh neneknya, Dorce kemudian diajak ke
Jakarta. Dia tinggal bersama bibinya di bilangan Kramat
Sentiong, Jakarta Pusat. Dorce hidup terpisah dari saudara
kandungnya dan baru ketika berumur 10 tahun dia untuk
pertama kalinya bertemu beberapa kakaknya. "Saya menuntut
hak saya sebagai seorang adik, minimal saya diingetin bahwa
saya mempunyai kakak." Namun, hak itu tidak pernah ia
dapatkan. Untuk biaya sekolah, Dorce yang saat itu
dipanggil sebagai Dedi, harus berjualan koran sampai es
mambo.
Adakah pengaruh masa kecil terhadap pembentukan kepribadian
Anda?
Ya, mungkin karena kurang kasih sayang dari orangtua dan
saudara. Saya mendapat kasih sayang itu justru dari
orang-orang di seputar saya, dari orang-orang yang
keberadaannya "lain" seperti lesbian dan waria. Saya tidak
mendapatkan kebahagiaan dari keluarga. Dari kecil saya
sudah dibentuk menjadi keras oleh situasi. Yang ada pada
diri saya cuma dendam. (Air matanya tampak mengucur,
suaranya terbata) Dendam?
Ya, tapi ternyata bukan dendam yang bagaimana yang terjadi.
Yang keluar justru kasih sayang. Saya menganggap semua yang
pernah terjadi sudah kersane (kehendak) Gusti Allah, wis
tak lakoni wae-saya jalani saja. Ternyata Tuhan tidak
tinggal diam dan sekarang ini saya memetik hasil dari
penderitaan saya masa lalu.
Sikap Anda pada saudara-saudara Anda kemudian?
Saya tidak pernah menyalahkan mereka karena mereka juga
punya keluarga. Sekarang saya merangkul mereka semua dengan
membangun rumah gadang dan saya kumpulkan mereka. Saya
tidak dendam dengan mereka. Saya bantu mereka dengan kasih
sayang. Alhamdulillah, Allah tidak menciptakan saya sebagai
manusia pendendam.
DORCE yang telah menunaikan ibadah haji pada tahun 1990 dan
1991 kini dikenal sebagai Ketua Yayasan Dorce
Halimatussa'diyah yang bergerak di bidang pendidikan dan
penyantunan orang tak mampu.
Kapan muncul kesadaran spiritual itu?
Dari kecil. Saya dari kecil itu diajari bibi saya mengaji.
Hampir setiap malam Jumat saya mengaji dengan bibi saya.
Dulu itu kalau pengajian, ibu-ibu pada membawa makanan.
Misalnya, yang datang 25 orang, maka nanti makanannya
dikurang-kurangin supaya menjadi 26, yang satu untuk saya.
Itu karena saya yang suka nunggu di depan pintu. Jadi dari
kecil itu saya sudah mengaji di antara ibu-ibu. Sekarang
ini ibu-ibu yang sering mengaji dengan kami dulu kalau
melihat saya mereka menangis, memeluk, dan mencium saya.
Ternyata anak yang dulu suka duduk dan menunggu di dekat
pintu itu sekarang jadi orang.
Sempat mengalami perubahan?
Perubahan itu datang dengan sendirinya. Saya baru kenal
Tuhan tahun 1989. Hidup saya sebelumnya lebih banyak
dosanya. Saya dulu lebih banyak tidak shalat. Saya lebih
banyak tidak puasa daripada puasa. Lebih banyak hura-hura
daripada bersedekah. Saya mulai merasa benar-benar mengenal
Allah setelah naik haji. Saya tidak berdusta. Tuhan sudah
banyak menutupi aib-aib kita. Kita tidak bisa bohong karena
Tuhan sudah punya foto kita. Foto wartawan bisa hangus,
tapi foto kita yang dipegang Tuhan tidak hangus. Kita tidak
bisa bohong di depan Tuhan.
Bagaimana waktu naik haji?
Saya menangis sejadi-jadinya. Saya berdoa, Ya Allah,
pakaian saya kotor, badan saya kotor, dan saya datang
kepada-Mu, terserah Tuhan akan mencucinya dengan apa.
Pelan-pelan saya mulai berubah. Dulu ketika saya gendheng,
saya bisa nyanyi naik-naik di piano. Ya, setiap orang
mempunyai masa lalu. Mungkin masa lalu itulah yang membawa
saya ke masa sekarang yang membuat saya mawas diri.
Alhamdulillah, saya sudah menghajikan bibi-bibi saya,
paman, dan sebagian kakak, dan guru saya. Alhamdulillah,
setelah dekat dengan Allah saya merasa legowo. Saya
menerima kesalahan orang dengan suka cita dan insya Allah
saya tidak akan membalas kesalahan orang.
Anda mudah tersentuh masalah kemanusiaan...
Itu karena latar belakang saya dulu yang sengsara. Jangan
ada Dorce-dorce, Dedi-dedi lain yang menderita. Waktu
kecil, saya mau main ayunan, baru megang saja sudah diusir
orang. Sekarang di yayasan saya anak-anak mau main ayunan
sepuasnya, silakan. Mereka mau renang, silakan, ada kolam
renang.
Kalau seandainya dilahirkan kembali Anda ingin menjadi apa?
Perempuan. Perempuan yang betul-betul di hadapan Tuhan dan
masyarakat. Saya ingin menjadi wanita yang baik di hadapan
Tuhan dan masyarakat. Walaupun jika saya show sering
terlihat gendheng, tapi pada prinsipnya di hati saya ini
saya seorang ibu, perempuan dengan kapasitas sebagai
seseorang yang mencari nafkah.
Bagaimana Anda ingin dikenang?
Dalam kehidupan, saya adalah perempuan. Mati pun saya ingin
sebagai perempuan. Kalau mati saya ingin dimandikan sebagai
perempuan. Saya ingin ditulis dengan nama perempuan. Saya
tidak ingin ada media yang menulis, "Telah meninggal waria
Dorce." (Kalimat Dorce terhenti sesaat karena
tersendat-sendat senggukan tangis. Dia lalu mengusap air
mata). Tulis saja Dorce meninggal dunia dengan tenang.
Tidak usah diungkit-ungkit lagi bahwa dia mantan waria.
Pewawancara
Maria Hartinigsih
Frans Sartono
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================