*
tadi saya sembahyang dan mengaji;
di mesjid tua yang terselip di antara rimbun apartemen-apartemen
menjulang tinggi;
mesjid tua yang sedikit dari bangunan berlantai satu atau dua di
pulau ini;
masjid ini tampak cukup terurus;
meski kelihatan nyata miskin di antara apartemen-apartemen dan kafe-
kafe sepanjang eskalator mid level;
tempat wudhunya sederhana sekali,
toiletnya juga begitu;
kalah jauh dengan mesjid salman di bandung misalnya;
tapi cukup bersih;
ruangan mesjid pun miskin;
tikarnya sederhana, mungkin mesjid muhammadiyah di kampung saya
lebih bagus tikarnya;
beberapa al qurannya pun sudah kusam,
ada satu yang agak bagus;
namun bangunan tua yang berdinding tebal dan kusam ini terlihat indah
dalam gelap;
berdiri di lereng yang terjal;
meski terkesan angker seperti menyimpan jin dan hantu,
saya suka;
apalagi melihat 'menara' di depannya,
terlihat sekali tua;
sebuah pohon besar tua berada di samping gedung ini;
tumbuh dari dasar tanah yang lebih rendah;
ada beberapa rumah tua, dan terlihat juga miskin, di sekitarnya,
saya yakin diantara penghuninya adalah pengurus mesjid ini;
tua, kusam, angker, suram, tebal, miskin..
oh indahnya...
seorang lelaki tua, satu-satunya yang di mesjid itu,
terlihat baru usai sembahyang;
lelaki arab berjubah panjang dan berjenggot panjang;
assalamualaikum, kata saya;
wa'alaikum salam, sahutnya;
pak, mau wudhu dimana, nih? karena saya bingung gak nemuin tempat
wudhu;
overthere, si bapak nunjuk ke seberang;
tempat wudhu ternyata di seberang mesjid, persis di sebelah rumah si
bapak, yang sempit, tua, namun ajaib cuma berlantai tiga;
kalu mau kencing, lu belok kiri situ, kata si bapak tua lagi;
terus berlalu, masuk rumahnya;
lalu saya sembahyang, jadwal sekarang maghrib;
tiga rakaat, pas, tidak lebih tidak kurang;
enak juga sembahyang sendiri di sini,
saya satu-satunya di ruangan yang cukup luas ini;
badan terasa sejuk karena air wudhu menyapu kira-kira seperlima tubuh
saya, namun almost all over my face and my head;
mood yang mantap buat berdoa;
lalu saya berdoa,
sebagai umat islam saya berdoa,
semoga orang-orang islam di sini baik-baik saja,
bisa living their life dengan nyaman di tengah gegap gempita kota
tersibuk di dunia ini;
semoga mereka mendapatkan haknya secara fair sebagai warga di sini;
dan mudah-mudahan mereka jangan tertindas seperti umat islam di
palestina;
dan juga jangan bego dan bodoh terus,
sehingga miskin, lemah, dan tidak memakai akal sehat dan hati nurani
secara wajar;
karena miskin dan lemah bisa jadi bulan-bulanan monster-monster
seperti george bush;
makanya bush tidak berani sama cina bukan karena cina demokratis,
tapi karena cina kuat, that's all;
juga jangan bodoh, ongok dan pandir terus, jangan terpaku mati pada
apa yang "tersurat" di alquran dan hadist;
hati dan fikiran yang diberikan pencipta bisa berbuat jauh lebih
banyak dari sekedar menghapalkan al quran dan hadis-hadis;
lalu kita semua bisa juga pintar,
orang pintar punya modal kuat untuk jadi kaya dan kuat;
jadi orang yang bisa berbuat lebih banyak untuk umat sesama;
setelah berdoa untuk orang islam, khususnya orang islam di sini,
saya mulai egois,
ini juga kesempatan berdoa buat diri sendiri..
lalu saya mulai berdoa macam-macam...sampai juga berdoa hayalan2 saya
terealisir; sebelum saya lepas kontrol berdoa yang nggak-nggak;
tiba-tiba angin yang masuk dari jendela mesjid berbisik sinis: doain
bokap lu, tolol...
saya sedikit tersentak dan merasa bersalah,
ini kesempatan yang jarang saya punya,
i must pray for him, must itu;
lalu saya berdoa buat ayah,
saya berdoa macam-macam,
saya bersuara pelan dan setengah berharap ayah mendengar doa saya;
lalu, saya melihat sebuah al quran di atas podium;
saya tergerak untuk mengaji;
fyi, saya lebih suka mengaji daripada sholat;
why?
karena mengaji saya bisa mengekspresikan kesenangan saya akan musik
dan bernyanyi;
melagukannya sesuka saya,
melafazkan bacaan arab sepas mungkin,
seperti anak-anak smp yang puas karena merasa bisa niruin lafaz lagu-
lagu amerika seperti bule melafazkannya;
kemudian mengaplikasikan kapabiliti saya betajwid ria,
kalau cuman ihfa, idgham bighuna, atau idgham bilaghuna, saya masih
jago;
aduh..saya mesti pulang,
maksudnya mesti ninggalin tempat internet ini;
excuse me sir, you have 5 minutes more, kata si cewek yang lumayan
mulus itu dengan sopan pisan.
ya, sudahlah..
yang jelas saya tadi menikmati sekali naik turun eskalator dan tangga
dari central ke mid level, di antara kafe-kafe dan apartemen-
apartemen yang menjulang rapat, dari pinggiran pantai ke lereng-
lereng bukit;
ini satu-satunya perjalanan yang bisa saya nikmati di kota ini,
sajauh ini;
(sama seperti senangnya berjalan-jalan di daerah centro, makau, di
antara gedung-gedung tua, gereja-gereja tua, dan gerimis bernuansa
typhoon)
jangan lupa...ada mesjid tua, tebal, suram, kusam, miskin, terselip
di antaranya;
dan yang lebih penting,
jangan lupa tadi saya sembahyang dan mengaji;
serta berdoa kepada sang pencipta, yang entah dimana dan siapa;
ini yang habeh, jusfiq, dan panggugek tidak bisa;
sembahyang dan mengaji hehe
=hz urpas=
hkexc215521072002