http://members.lycos.co.uk/imamiui/index.php?section=bam&artikel=1
Nilai-Nilai Dasar Adat Minangkabau Soni Mayuvi Nilai adalah sebuah konsepsi, explisit atau implisit yang menjadi milik khusus seseorang atau ciri khusus suatu kesatuan sosial (masyarakat) menyangkut sesuatu yang diingini bersama ( karena berharga ) yang mempengaruhi pemilihan sebagai cara, alat dan tujuan sebuah tindakan. Untuk mengetahui dan memahami nilai-nilai dasar adat minangkabau berbagai cara dapat dilakukan, antara lain dengan mempelajari tentang masyarakat dan lingkungan atau dengan mempelajari tingkah laku mereka . Terlebih dahulu mereka mempelajari kata-kata ( kato ), dari sini akan dapat diungkapkan nilai-nilai dasar dan norma yang menjadi penuntun orang minangkabau berfikir dan bertingkah laku. Dengan lain perkataan pola berfikir dan bertingkah laku orang minangkabau ditentukan oleh "kato" sebagai nilai dasar dan norma-norma yang menjadi pegangan hidup mereka, katakanlah falsafah hidup yang menyangkut makna hidup, makna waktu, makna alam, makna kerja bagi kehidupan dan makna individu dalam hubungan kemasyarakatan. Orientasi nilai bersifat kompleks, tetapi jelas memberikan pola prinsip yang bersifat analitik, yaitu yang bersifat pengetahuan, perasaan , kemauan yang membeberkan tata ( orde ), dan arah kepada arus pemikiran dan tindakan anggota-anggota suatu masyarakat, manakala prinsip-prinsip tersebut dihubungkan dengan pemecahan masalah-masalah kehidupan yang umum bagi semua manusia. Prinsip ini beragam-ragam, tetapi keragaman tersebut hanya membedakan tingkat bagian dari tiap elemen-elemen yang universal dari kebudayaan manusia. Nilai-nilai dasar yang universal tersebut adalah masalah hidup yang menetukan orientasi nilai budaya suatu masyarakat yang terdiri dari hakekat hidup, kerja, kehidupan manusia dalam ruang waktu, hakekat hubungan manusia dengan manusia dan hakekat hubungan manusia dengan alam. I. Pandangan terhadap Hidup Gajah mati maninggakan gadieng Harimau mati maninggakan balang Manusia mati maninggakan namo Dengan pengertian, bahwa orang minangkabau itu hidupnya jangan seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang minangkabau bekerja keras untuk bisa menyumbangkan sesuatu bagi bangsa dan tanah airnya sesuai dengan kata pusaka orang minangkabau : " Hiduik bajaso, mati bapusako ". II. Pandangan terhadap kerja Kayu hutan bukan andaleh Elok dibuek ka lamari Tahan hujan barani bapaneh Baitu urang mancari rasaki Minang memiliki etos kerja yang sangat besar. Kemauan untuk bekerja keras dapat dilihat dari fatwa adat diatas dimana orang minang berani manantang hujan untuk mencari rezeki. Implikasi lain adalah banyaknya orang minang yang merantau keluar kampung halaman bertujuan membaktikan diri untuk kesejahteraan kampung halaman. III. Pandangan terhadap waktu Duduak marauik ranjau Tagak maninjau jarak Ungkapan ini mengumpamakan kepada seorang prajurit , bila dia duduk diisi waktunya dengan meraut ranjau yang akan dipasang menghadapi musuh, bila ia berdiri hendaklah meninjau jarak atau musuh yang tiba-tiba saja dapat menyerang. Dimensi waktu masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang merupakan ruang waktu yang harus menjadi perhatian bagi orang minangkabau. "Maliek contoh ka nan sudah " merupakan keharusan. Bila masa lalu tidak menggembirakan dia akan berusaha memperbaikinya. Duduk meraut ranjau , tegak meninjau jarak merupakan manifestasi untuk mengisi waktu dengan sebaik-baiknya pada masa sekarang. IV. Hakekat pandangan terhadap alam Menurut pandangan hidup orang minangkabau ada unsur-unsur adat yang besifat tetap dan ada yang bisa berubah. Yang tetap itu bisa dikatakan " Nan indak lapuk dek hujan, nan indak lakang dek paneh". Unsur-unsur itulah dalam klasifikasi adat termasuk 'Adat nan sabana Adat', sedangkan yang lainnya tergolong " adat nan teradat, adat nan diadatkan istiadat dan adat", yang dapat dirubah. Yang dimaksud dengan adat nan sabana adat biasanya disebut "Cupak Usali", yaitu ketentuan-ketentuan alam atau hukum alam, atau kebenarannya yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu adat Minangkabau falsafahnya berdasarkan kepada ketentuan-ketentuan dalam alam, maka adat minangkabau itu akan tetap ada selama alam ini ada. V. Pandangan terhadap sesama Dalam hidup bermasyarakat, orang minangkabau menjujung tinggi nilai egaliter atau kebersamaan. Nilai ini dinyatakan mereka dengan ungkapan " duduak samo randah, tagak samo tinggi". Nilai egaliter yang dijunjung tinggi oleh orang minangkabau mendorong mereka untuk mempunyai harga diri tinggi. Nilai kolektif yang didasarkan struktur sosial matrilineal yang menekankan tanggung jawab luas seperti dari kaum sampai ke masyarakat negerinya. Interaksi antara harga diri dan tuntutan sosial ini telah menyebabkan orang minangkabau untuk selalu bersifat dinamis. * Ditulis ulang dari Pelajaran Adat Minangkabau ( LKAAM ) Sumatera Barat Soni Mayuvi RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

