Title: Maize
Sajak-sajak Fatin Hamama R Syam

Kurengkuh kau ke dada
setelah melaut dalam dahaga
gerimis di keningmu dan angin yang berhenti
menyisakan ombak menderu

ribuan daun gugur
dan langit yang tinggi berwarna merah menyala
di pucuk pucuk awan
duka menetes
pelan

bayang bayang hitam dalam sinar petang
meluruhkan sajak dalam sunyi yang perih

sehelai sayap tersingkap
patah di tiang waktu
merayap
perahu pulang pada tanah bertuan
kandas berlabuh di tepian keruh

dan badai menyisakan topan
kau kembali dalam masa tak dinanti
di tiang gantungan kau patriot
yang menerima cinta sebagai hukuman

Cairo, 2002

SIAPAKAH YANG MENJEMPUT MATAHARI
mengenang MB

Siapakah yang menjemput matahari
hingga bulan sampai di sini
sekelompok undan terbang ke langit
mengaduk mega jadi hitam
menanam badai dalam gerimis

Siapakah yang menjemput matahari
hingga angin jadi resah
cakrawala mengubah nama
biru laut melepaskan warna
padanya duka tak terkata

Sekelompok undan terbang ke langit
mengabari awan membawa wangi kamboja
bias mimpi tak bermana tepi
siapakah yang pergi
dukanya tetap di sini

Jakarta, 1999


SAIDAH

Saidah, kaukah itu
mengepul seperti asap
hilang ditelan angin

Kau menangis
air matamu mengalir diserap tanah
kau bernyanyi
suaramu sesak di rimbun semak

Siapa kau, Saidah
doamu tumpah di tepi sajadah
kau bungkus duka dalam palunan jubah
mengapa kau diam termenung di jendela
risaukah karena berpisah

Saidah
kau gamang
karena hidup
tak pernah ramah

Cairo, 1990


HAYY SABI

setelah haflah dan musik berhenti
kita masukilah malam malam panjang
aku di sampingmu, kekasih

sehelai benang menunggu tenunanmu
kita buat apakah kain ini bila jadi?
bagimu mungkin cocok sarung atau gamis
bagiku cukup selendang saja
atau bila ada sisa kita buatlah atap rumah

betapa ingin aku punya tempat tinggal
melepasmu setiap pagi dengan kecupan
menunggumu pulang dengan harapan

betapa aku ingin sebuah halaman
tempat anak anak berlarian
dan menanam mawar untuk kemudian
kutaruh di jambangan

betapa aku
ingin

Cairo, 1989


LARON

Lampu mercuri di jalan
Setelah senja berhujan
Terang dan cemerlang

Ribuan laron
Terbang dari sarang mengejar cahaya
Bagitu mendekati tujuan
Matanya perih sayapnya patah

Laron jatuh kepayahan

Di bawah tiang lampu
Laron tersungkur bertebaran
Meregang nyawa penuh penyesalan

Laron
Korban impian menyilaukan.

Cairo, 2001


NYANYIAN AWAN

Ketika hujan berhenti kau pun sudahi nyanyi
sebilah nada menggantung di sisi awan
matahari enggan mengusir gerimis pagi

Kembali sunyi menyanyi-nyanyi tanpa tari
irama itu pun berhenti
teruslah kau mengemasi
betapa denting mengiris pelangi
sebingkah biru kau reguk
dan kau muntahkan

Langit dipenuhi awan
hujan diam diam
menitik lagi

Jakarta, 1999


---- raster (ada foto) -----

Fatin Hamama R Syam lahir di Padang Panjang, 15 November 1967. Ia aktif menulis dan membaca puisi sejak usia 8 tahun, dan tetap ditekuninya saat menimba ilmu pada fakultas teologi Universitas Al Azhar, Cairo. Sekembali ke Indonesia ia menjadi pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat. Sejak 2001 ia kembali ke Cairo mengikuti suaminya yang menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Cairo, dan kini Fatin menjadi Ketua Umum KSI Korda Cairo. Tahun 1997 ia mengikuti World Congress of Poets di Korea Selatan, tahun 1999 mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Malaysia, tahun 2001 menghadiri undangan Australia Indonesia Arts Alliance (AIAA) untuk membacakan sajak-sajaknya di Negeri Kanguru, dan tahun 2002 mengikuti Festival Penyair Dunia di Malaysia. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media sastra dan buku antologi sajak. Buku kumpulan sajaknya, Papyrus, terbit tahun 2002 (KSI Korda Cairo). Sajak-sajaknya pada Oase edisi ini diambil dari Papyrus.

Kirim email ke