--- In [EMAIL PROTECTED], "emailando" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ---------- Forwarded message ---------- Date: Sat, 06 Apr 2002 16:55:51 +0530 From: esty <[EMAIL PROTECTED]>
sewaktu kunjungan bu mega ke india yg merupakan tour terakhir setelah sebelumnya dari korsel, korut dan cina, mahasiswa india seperti sewaktu kedatangan presiden gus dur dan pak harto dulu, juga direkrut menjadi panitia. umumnya menjadi guide rombongan presiden yg tinggal di hotel, sedangkan presiden tinggal di istana kepresidenan sgb tamu negara. kami yg terpilih jadi panitia merasa senang sekali. karna dari situlah kami yg menjadi panitia akan merasakan "kedekatan" dan "keakraban" dg bapak2 terhormat bangsa ini. di tangan merekalah kendali dan maju mundurnya bangsa indonesia terletak, setidaknya selama mereka berkuasa. krn itu kami sangat menaruh respek sama mereka. namun kami sangat kaget dg "kenyataan kecil" yg kami hadapi sewaktu rombongan itu sampai ke hotel Oberoi, hotel bintang lima tempat bapak2 kita itu tinggal selama di New Delhi. Baru pertama sampai ke hotel, apa yg mereka lakukan bukanlah istirahat, menyimpan enerji untuk acara padat besok harinya. tetapi mrk langsung menghubungi kami untuk minta minta diantar ke pub untuk minum2 bir dan bersantai. Dan dari sebagian besar rombongan bapak2 (sekitar 70%) minta dicarikan "ayam india". Kami yg menjadi "guide amatir" ini tentu saja tidak tahu menahu "urusan begituan". dan ini sempat membuat mereka sangat kecewa. Uniknya, dari bapak2 yg minta "ayam india" itu terdapat beberapa peneliti terkenal yg namanya sering nongol di koran dan tivi swasta. termasuk seorang peneliti muda yg lagi naik daun, yg tampangnya pernah saya lihat waktu menjadi host diskusi panas antara islam liberal dan islam fundamentalis di sebuah tivi swasta pada bulan puasa yg lalu. hal2 yg ingin saya diskusikan dan tanyakan di sini khususnya pada rekan2 di tanah air adalah sbb: pertama, apakah "main ayam betina" atau quick encounter itu hal yg wajar terjadi, sehingga bukan merupakan hal yg tabu lagi bagi para pejabat2 kita yg sedang mengadakan tour2 luar negerinya, sehingga hal2 semacam itu tidak merusak kredibilitas dia secara moral dalam bidang lain? kedua, saya banyak mendengar dari rekan2 senior bahwa hal2 itu juga biasa terjadi pada setiap kunjungan para pejabat ke luar negeri pada masa2 orde baru. tp haruskah kebiasaan itu berlanjut pada ero demokrasi ini? ketiga, kalo rakyat amerika yg sangat permissif terhadap hal2 yg bersifat extra marital relationship sangat tidak menerima dg skandal yg terjadi thd. presiden clinton, mengapa kita orang timur yg tidak permisif kok malah tenang2 saja ketikta pemimpin2 mereka melakukan hal yg sama? keempat: tidak perlukah pemerintah, dalam rangka 'clean government' , membuat aturan yg jelas dalam soal skandal2 pejabat yg main selingkuh ini? sebab bukan rahasia lagi bahwa pejabat2 BPK menjadi loyo semangatnya ketika sudah disuguhin wanita cantik di kamar hotelnya. begitu juga yg saya dengar di tanah air, bapak2 dpr pusat yg berkunjung ke daerah selalu "loyo" semangat "jihad"nya ketika menemui ada "ayam" di kamar hotel mrk. Selama ini, hal2 ini tidak pernah disinggung di media, dan baru sekarang saya tahu jawabnya: ternyata wartawan2 [tdk. semuanya] yg ikut rombongan bu mega kemaren juga mencari "ayam india" juga. Esty Angela, New Delhi --- End forwarded message --- RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke/To: [EMAIL PROTECTED] Isi email/Messages, ketik pada baris/kolom pertama: -mendaftar--> subscribe rantau-net [email_anda] -berhenti----> unsubscribe rantau-net [email_anda] Keterangan: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ===============================================

