Ondee baa tu kampuang ambo. Tolooong.....

duta

____________________________________________________________________
Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1




Pariaman Bakal Tenggelam 2004


Pariaman, mimbarminang.com — Pusat kota Kabupaten Padang Pariaman
diperkirakan tahun 2004 bakal tenggelam, menyusul bencana abrasi di sepanjang
gugusan Pantai Gandoriah. Abrasi dalam beberapa tahun terakhir telah memakan
daratan pesisir pantai sejauh 80 meter. Masalahnya, selain jarak antara bibir
pantai dengan pusat kota hanya sekitar 100 meter, kota Pariaman juga lebih
rendah dari pantainya. Namun sejauh ini belum ada upaya untuk pencegahan
terhadap bencana alam yang mengancam ribuan penduduk di daerah itu. Bupati
Padang Pariaman Muslim Kasim dalam keterangannya kepada wartawan yang
tergabung dalam Padang Press Club (PPC), Kamis (15/2/2001) mengatakan,
bencana abrasi pantai tersebut sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir.
Namun keganasan ombak lautan di sekitar Pantai Gandoriah sebulan terakhir
menyebabkan bibir pantai mendekati pusat kota. “Kalau tidak dilakukan
penanggulangan secepatnya dalam waktu 2-3 tahun mendatang, pusat kota akan
tenggelam,” ujar Muslim. Muslim benar, saat ini daerah pesisir Pantai
Gondoriyah sangat memprihatinkan. Pengikisan pantai sejauh 80 meter telah
dengan tingkat abrasi 15 meter per tahun menyebabkan sedikitnya 200 batang
cemara tumbang diterjang ombak. Kini, sebagian besar pohon ‘pelindung’
pantai yang sudah meranggas tersebut mulai terancam. Sebagian diantaranya
sudah ada yang tumbang dan terbawa ombak. Bahkan tidak sedikit dari pohon
pelindung itu yang hanya tinggal tunggulnya saja. Sebagian penduduk di
sekitar pantai sudah ada mengosongkan rumahnya. Sebahagian lagi mencoba
menahan derasnya terjangan ombak Luatan Hindia itu dengan memasang
tanggul-tanggul dari karung plastik berisi pasir. Namun, air pasang sering
melewati tanggul tersebut sehingga ombak meluap dan mengge-nangi seputar
lokasi objek wisata yang terkenal dengan ‘Nasi Sek’ itu, bahkan dengan
ketinggian air mencapai setengah meter. “Tembok Hotel Nan Tongga yang
terletak sekitar 50 meter dari bibir pantai sering ‘dijangkau’ air laut,”
sebut Muslim yang didampingi beberapa stafnya, diantaranya Kadinas PU Ir..
Chandra Mustika. Meski di sepanjang daratan pantai tersebut sudah dipagari
dengan tembok, namun usaha itu belum sepenuhnya bisa menghilangkan
kekhawatiran masyarakat dan Pemkab. Apabila abrasi meluas dan pasang naik,
otomatis pusat kota termasuk terminal, pasar dan pusat perkantoran akan
tenggelam. Soalnya, permu-kaan daratan (pusat kota) lebih rendah dari
permukaan tinggi pantai. Pengalaman Mayusni (35), salah seorang warga yang
tinggal di tepi pantai, ketika ia membangun rumah, jaraknya 90 meter dari
pantai. Akibat abrasi, rumah permanen yang dibangunnya itu kini hanya tujuh
meter dari bibir pantai. “Kami terpaksa membuat tang-gul dari goni plastik
yang diisi pasir. Namun usaha itu juga tak mempan jika pasang tinggi,”
jelasnya lagi. Dikatakan, dulunya di sekitar pantai tersebut didiami ratusan
penduduk, kini sebahagian besar sudah pindah. Begitu juga areal wisata di
Pantai Gondoriah menjadi kurang. Jalan raya kendaraan roda empat di buat di
lokasi wisata, kini sudah hancur dan hilang ‘diterjang’ ombak. Hanya
sebagian kecil pecahan beton jalan yang tampak timbul tenggelam oleh pecahan
ombak di bibir pantai. Buat Grip Untuk menghentikan laju abrasi, salah satu
usaha yang mesti dilakukan, kata Muslim adalah membuat grip di sepan-jang
pantai tersebut. Namun, untuk maksud tersebut pihak-nya terkendala dana.
Sebab, untuk ‘penanggulangan’ om-bak yang begitu besar dibutuh-kan
sedikitnya 17 grip, yang masing-masingnya sepanjang 50 meter. “Untuk satu
grip mengha-biskan dana sebesar Rp500 juta lebih,” ujar Musli. Gubernur
Sumbar Zainal Bakar dan Dinas Pengairan Sumbar sudah mengunjungi lokasi
abrasi pantai itu. Bahkan Pemkab Pariaman, sambung-nya, sudah melakukan
berbagai konsultasi dengan beberapa pihak, termasuk ke Belanda. Salah satu
pihak yang dihu-bungi adalah lembaga keuang an Jepang OECF (Overseas Economic
Corporation Fund). “Kita sudah membuat proposal bantuan, dan sudah dikirim ke
OECF,” terang Kadinas PU Chandra Mustika. Namun Chandra mengelak ketika
ditanya soal angka-angka, “Saya tak ingat persis,” katanya.(hen)



Kirim email ke