Angku Jpang, Rully dan rekans muda lainnya (saya merasa terkejut dan sedih melihat kondisi kota Lhokseumawe yang ditayangkan oleh sebuah TV Swasta beberapa hari yang lalu yang persis seperti kota yang habis �dialahkan Garuda�. Padahal waktu saya ke sana, terakhir Tahun 1993/1994 kota tersebut tidak berbeda dengan kota-kota lainnya di INA. Malah ketika itu, di sana ada sebuah hotel berbintang, Restoran Padang �Garuda� cabang dari yang ada di Medan dan taksi meter---yang bahkan di Banda Aceh waktu itu belum ada---yang sekarang ini semua itu mungkin sudah tidak ada bekasnya. Saya juga pernah melakukan perjalan darat di malam hari Medan-Lhokseumawe dan Lhokseumawe-Banda Aceh tanpa rasa khawatir). Kalau ada orang yang tidak geram menyaksikan apa yang terjadi di Aceh dan diberbagai tempat lainnya di Sumatera mungkin disebabkan oleh satu dari tiga hal: (1) orang itu konsen terhadap pelanggaran HAM tetapi kurang mengetahui masalah, latar belakang dan/atau tidak mempunyai data dan informasi yang memadai, (b) orang pada dasarnya tidak acuh terhadap hal-hal yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya, (c) orang tersebut pada dasarnya memang sudah mati rasa (insensitif). Tetapi hati boleh panas, kepala harus tetap dingin�. Ya, hanya dengan kepala dingin masalah menggunung di Republik ini bisa diatasi dengan biaya sosial sekecil mungkin. NKRI jelas bukan sesuatu yang sakral, walaupun tidak sedikit pula yang menskralkannya, bahkan seperti yang saya tulis dalam salah satu posting saya terdahulu mengenai Aceh, ada yang, �memberhalakan negara yang dengan enteng bersedia memberikan sesajen darah dan nyawa manusia kepada sang berhala�. Tetapi kita juga tidak bisa menafikan fakta, bahwa NKRI adalah sejarah panjang bangsa yang dimulai dengan Sumpah Pemuda yang�seperti kita ketahui---melibatkan anak-anak muda dari Sumatra. Bahkan salah satu dari dua proklamator NKRI pada tanggal 17-8-1945 adalah Moh. Hatta yang kelahiran Sumatra. Di samping itu juga ada tokoh kelahiran Sumatera lairnnya yang diakui sebagai �founding fathers� Republik ini yaitu H. Agus Salim dan Moh Yamin. Dan kita juga tahu sudah banyak darah para pejuang yang tumpah untuk memperjuangkan eksistensi republik ini melawan tentara kolonial Belanda---yang ingin menjajah kembali Republik yang baru diproklamasikan Sukarno-Hatta---termasuk darah masyarakat Aceh yang heroik dan masyarakat Sumatera lainnya. Karena itu ide untuk �merebut kembali kemerdekaan yang hakiki di tanah Sumatera� hendaknya diimplemetasikan dalam bentuk� tumbuh berkembangnya demokrasi yang hakiki, penghormatan dalam kata dan perbuatan terhadap HAM serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat di Sumatera dan bagian lainnya di NKRI. Kalau itu diartikan sebagai �dilepaskannya Sumatera dari kekuasaan Jakarta�, Saya yakin arwah Hatta---yang dikenal sebagai demokrat sejati, yang di PPKI menawarkan bentuk federal bagi republik ini tetapi kalah suara---dan para �founding fathers� kelahiran Sumatra lainnya pasti akan menangis di dalam kubur. Selain itu ide ini tidak realistik. Negara-negara Eropah yang kuat, maju dan makmur saja bersedia bergabung menjadi satu negara agar bisa lebih tangguh dalam menghadapi era globalisasi, kita kok malah pengen �mreteli�. Bak kata pepatah, untuk membunuh tikus hendaknya jangan lumbung padinya yang dibakar Menurut hemat saya, yang perlu diperjuangkan ialah bagaimana mengisi pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah (yang UUnya menurut seorang Bupati di Jatim yang berpendikan S-2�beneran---dan sudah berkali-kali ke LN, kepada saya dan kawan-kawan yang menemui beliau �lebih federal dari pada sebuah negara federal�) untuk meningkatkan demokrasi dan memakmurkan masyarakat daerah. Idem ditto dengan penurunan Presiden dan pembubaran institusi-institusi demokrasi lainnya (legislatif dan yudikatif) secara inskonstitusional, yang bagus dalam tataran teori, tetapi sering kedodoran dalam praktek. Fakta emprik dari sejumlah negara berkembang yang melakukan hal serupa menunjukkan, alih-alih memulihkan demokrasi, kepala pemerintahan peralihan unumnya berusaha memperkuat posisinya---dengan berbagai cara---untuk menjadi pemimpin pemerintahan yang permanen, dan untuk kemudian melakukan berbagai kekonyolan yang dilakukan Pemerintahan yang sebelumnya. Pembubaran Golkar? Rekans mungkin masih ingat posting saya yang mengekpresikan kegeraman saya terhadap kemenangan Golkar yang meraih 94% di Sumbar dalam Pemilu 1997, sampai-sampai saya mengatakan Gubernur Sumbar ketika itu---kasarnya---berhasil menjadikan orang minang menjadi �kerbau� karena sebagai orang yang cukup memahami karakter urang awak, hal itu tidak mungkin dilakukan tanpa rekayasa yang sangat kasar. Tambahan lagi di Pasar-Pasar Inpres dan kantong-kantong-kantong urang awak lainnya di Jabotabek---di mana pemilu umumya relatif lebih �jurdil�, Golkar jarang bisa menang.. Namun kalau kita sepakat bahwa kedaulatan negara berada ditangan rakyat, dan pemilu 1999 relatif bersih dan �jurdil�, kita harus legawa menerima kenyataan, bahwa sebagian besar rakyat masih menetapkan Golkar sebagai pilihannya. Kita tentu sepakat, bahwa tokoh-tokoh Golkar yang diduga telah melakukan kejahatan ekonomi (Suharto, anak cucu dan kroni-kroninya) dan kejahatan kemanusiaan (seperti Suharto dan sejumlah mantan petinggi militer) harus diadili dan kalau terbukti harus dihukum seberat-beratnya. Tetapi kalau membubarkan Golkar karena semata-mata Golkar, selain menafikan kedaulatan rakyat dan supremasi hukum juga mengingkari suatu kenyataan yang hakiki, bahwa kebajikan dan ketidakbajikan bisa ada pada siapa saja. Baru saja kita membaca posting Mbak Sita mengenai perilaku �tokoh� dan massa partai pemenang Pemilu 1999 dalam pemilhan kepala daerah di Klaten yang tidak kurang konyol dari pada perilaku �tokoh� dan massa Golkar di zaman Orde Baru. Dan adalah sangat kasat mata, bahwa kasus Klaten bukan kasus satu-satunya di INA. Selain itu baru saja kita menyaksikan massa pendukung Gus Dur di Jatim melakukan tindakan-tindakan antidemokrasi dengan cara yang tidak kalah brutal dengan kelakuan para pendukung Suharto di zaman �keemasan� Orba. Kalau dulu judulnyanya �pokoknya Suharto� maka sekarang �pokoknya Gus Dur�. Semua saran yang saya kemukakan di atas jelas bukan hal yang mudah dan memerlukan waktu yang lama. Tetapi apakah memang ada jalan pintas di dalam hidup ini? Sekian tanggapan saya, dan mohon maaf kalau ada salah kata dan kekeliruaan persepsi. P.S. Naskah asli disiapkan untuk Milis Desentralisasi Wassalam, Darwin Bahar RantauNet http://www.rantaunet.com ================================================= Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ATAU Kirimkan email Ke / To: [EMAIL PROTECTED] Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama: - mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda] - berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda] Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung ================================================= WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA =================================================

