Ini tulisanku tahun 1997 lalu.

IJP

========


Generasi Muda Minang:
Krisis Intelektual?

Oleh
Indra J. Piliang

Dalam forum mahasiswa dan pemuda tingkat nasional
sejak tahun 1992, penulis dihinggapi pertanyaan yang
bernada menghujat: kenapa generasi muda Minang jarang
muncul dalam membangun ide-ide segar kearah kemajuan,
atau meinimal terlibat dalam memperdebatkan suatu
diskursus intelektual? Apakah generasi muda Minang
terkena sindrom �jago kandang� seperti halnya Semen
Padang yang tak terkalahkan di Stadion Imam Bonjol?
Pertanyaan itu tak pernah hilang, bahkan sampai
sekarang. Dalam kesempatan bertemu dengan
mahasiswa-pemuda Minang di berbagai seminar,
pelatihan, dan forum, penulis acapkali
membicarakannya. Dan sebagian besar mengakui bahwa
generasi muda Minang kontemporer tidak seperti
pendahulu-pendahulunya yang banyak berkiprah di
tingkat nasional dan internasional, khususnya di
bidang pemikiran.

Beberapa waktu yang lalu, media massa tingkat nasional
juga memuat kekhawatiran serupa, yang disuarakan oleh
Taufik Abdullah, Rosihan Anwar, dan lain-lainnya. Dan
masa lalu kembali menjadi acuan, ketika elite-elite
pergerakan nasional sampai tokoh-tokoh pimpinan
nasional bangsa Indonesia sebagian besarnya berasal
dari Minang. Mereka beraliran kiri sampai kanan, dari
Sosialis sampai Islamis. Generasi terbaik yang pernah
dimiliki oleh Minangkabau itu perlahan-lahan mengalami
kemunduran. Kaderisasi menjadi langka, terutama sejak
trauma PRRI terasa begitu menjerumuskan bangsa
Minangkabau sebagai �oposisi nomor satu� bagi
pemerintahan pusat di tanah Jawa. Akibatnya, generasi
muda Minang sekarang seperti kehilangan ciri khasnya
sebagai bangsa intelek, religius, dan penuh daya
inovasi dan imajinasi untuk mengembangkan kehidupan
bermasyarakat secara lebih baik. 

Faktor Penyebab Krisis Intelektual
Kalau ditelusuri, minimal terdapat dua penyebab dari
munculnya kecenderungan demikian, yaitu:

Pertama, tidak populernya budaya diskusi di kalangan
generasi muda Minang.  Inipun bukanlah faktor yang
bersifat tunggal, melainkan mata rantai dari kurang
harmonisnya hubungan yang terjalin dengan pihak yang
lebih tua. Secara struktural, generasi muda Minang
diselimuti oleh beragam pembatasan. Proses
birokratisasi dan sistem masyarakat patrimonial, yang
semula tipis sekali kemungkinannya untuk tumbuh dan
berkembang di Minang, terasa begitu menghinggapi
aparatur pemerintahan dan, termasuk, lembaga
pendidikan yang dimiliki oleh Minang sekarang. Secara
bertahap dan sistematis, proses ini mempengaruhi
struktur budaya masyarakat Minang. Semangat egaliter,
duduk sama rendah tegak sama tinggi,
setikar-seketiduran, perlahan-lahan hilang dan
digantikan oleh konsepsi new feodalism. Dr. Nurcholis
Madjid termasuk pendukung argumen ini, paling tidak
dalam menilai kebudayaan Indonesia umumnya ketika
budaya pesisir yang demokratis (yang antara lain
dominan di Minang) dikalahkan oleh budaya pedalaman
yang feodal (yang dominan di Jawa).

Kedua, adanya sistem pendidikan nasional yang kurang
memberi tempat kepada muatan-muatan lokal. Proses
pemerataan kurikulum pendidikan di satu sisi membawa
pengaruh kepada persamaan tingkat ilmu-pengetahuan
peserta didik di Indonesia, tetapi di sisi lain
menjadi faktor penghalang bagi timbulnya
potensi-potensi lokal yang, kadangkala, melebihi apa
yang digariskan oleh pusat. Padahal justru iklim dan
muatan lokal itulah yang telah menghasilkan
manusia-manusia cendekiawan seperti Tan Malaka, Sutan
Sjahrir, Muhammad Hatta, Bahder Djohan, Agus Salim,
Amir Syarifuddin, M. Natsir, M. Yamin, Adinegoro,
Soedjatmoko, Buya HAMKA, Chaerul Saleh, dan
lain-lainnya. Sekalipun sebagian besar di antara
mereka menempuh sistem pendidikan moderen, baik diluar
Minang atau diluar Indonesia, tetap saja muatan lokal
berpengaruh dalam diri mereka. Mereka justru melakukan
�perantauan intelektual� sebagaimana dikatakan dengan
tepat oleh Dr. Alpian, demi mempelajari ilmu
pengetahuan. Basis ilmu pengetahuan itu telah mereka
pelajari terlebih dahulu melalui pendidikan
tradisional, dan kolonial, di ranah Minang.

Tak heran kalau kemudian Minangkabau dikenal oleh
masyarakat nasional dan internasional. Berbagai jenis
buku ditulis tentang Minangkabau, baik oleh ilmuan
Minangkabau sendiri, ilmuan Indonesia, maupun ilmuan
asing. Gubernur Jenderal Raffles yang mendirikan 
Singapura termasuk dalam deretan penulis tentang
Minangkabau. Sebagian besar dari buku-buku itu masih
tertulis dalam bahasa induknya, seperti bahasa
Inggris, Jepang, Belanda, dan jarang diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia. Padahal upaya penerjemahan
karya-karya itu sangat penulis yakini bisa memicu
gairah intelektual masyarakat Minang. Akibatnya
kekayaan intelektual yang dimiliki oleh Minangkabau
tersebut tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan
generasi mudanya, kecuali oleh beberapa orang yang
menempuh pendidikan diluar negeri.

Minangkabau sebagai Industri Otak: Mungkinkah?
Berangkat dari permasalahan diatas, bisakah dicarikan
pemecahannya sehingga mampu memberikan kontribusi
positif bagi Minangkabau, khususnya, dan bangsa
Indonesia umumnya? Mau tidak mau persoalan ini jangan
sampai menyentuh wilayah SARA, serta dirasuki oleh
primordialisme dan tribalisme (kesukuan). Konteks yang
ingin dihadirkan tetaplah Pancasila, UUD 1945, paham
negara integralistik, GBHN dan konsensus nasional
lainnya yang telah disepakati oleh negara Indonesia.
Justru konteks itu akan lebih diperluas dengan
menempatkan Minangkabau sebagai entitas budaya yang
mempunyai ciri-ciri khusus.

Sistem matrilinial, pengaruh islam, dan lain-lainnya
adalah khasanah budaya Minangkabau yang menunjukkan
bahwa Minangkabau itu exist sebagai entitas budaya.
Berbagai entitas budaya akan melahirkan peradaban,
yaitu peradaban Indonesia. Menurut Samuel P.
Huntington, peradaban Barat nantinya akan berhadapan
vis a vis peradaban Islam � Confusius. Terlepas dari
kebenaran �prediksi ideologi-politik� yang dibangun
oleh Huntington, rasanya memang tepat kalau
Minangkabau ditempatkan sebagai salah satu entitas
budaya yang melahirkan peradaban Indonesia.

Dalam kerangka peradaban itulah krisis intelektual
generasi muda Minang ditempatkan. Krisis intelektual
yang dihadapi secara prosessual akan mempengaruhi
peradaban yang akan dibangun di muka bumi. Atau
sebaliknya, peradaban Barat yang dikembangkan secara
sistematis lewat media informasi, jaringan ekonomi,
dan hegemoni politik dan persenjataan, akan
perlahan-lahan menempatkan �peradaban� Indonesia pada
posisi marginal, termasuk entitas budaya Minang yang
menopangnya. Proses homogenisasi budaya menjadi tak
terbendung.

Untuk itulah perlu usaha yang matang dan penuh
kearifan untuk menyangga peradaban dan kebudayaan
Indonesia lewat unsur-unsurnya yang paling utama,
yaitu �puncak-puncak� kebudayaan daerah. Di
Minangkabau, pemikiran menjadi puncak budayanya. Dalam
rangka usaha memperbaiki  posisi generasi muda Minang
yang mengalami krisis intelektual itu, perlu dilakukan
usaha-usaha sebagai berikut:

Pertama, menjadikan Sumatera Barat sebagai tempat
penggodokan pemikiran. Hal itu dimulai dengan
menjadikan �industri otak� sebagai prioritas utama
pendidikan. Sistem pendidikan yang dipakai bisa jadi
dengan meramu sistem tradisional dan moderen. Untuk
itu perlu diadakan suatu seminar nasional, atau
internasional, untuk mengembangkan potensi yang
dimiliki oleh Minangkabau ini.

Kedua, memperkuat kembali pranata-pranata sosial yang
berakar pada tradisi budaya Minangkabau. Fungsi
ninik-mamak, cerdik pandai, ulama, dan lain-lainnya
meski dikedepankan dalam sistem masyarakat yang
demokratis. Keberadaan tokoh-tokoh Minangkabau yang
beraliran dari paling kiri sampai paling kanan di
zaman pergerakan sampai kemerdekaan nasional menjadi
bukti empiris bahwa pranata-pranata sosial yang ada di
Minangkabau, seperti surau, turut memberikan
kontribusi bagi lahirnya pembaruan, tanpa perlu saling
menyikut teman seiring, menggunting dalam lipatan.
Iklim yang kondusif kearah itu harus ditegakkan,
dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda
Minang untuk terlibat secara aktif dengan koridor
Adaik Basandi Syara�, dan Syara� Basandi Kitabullah.

Ketiga, berpaling kembali kepada nilai-nilai klasik
yang dimiliki oleh Minangkabau. Nilai-nilai itu
dibangun lewat beragam aktifitas, seperti kebiasaan
diskusi (bukan maota) di palanta lapau, belajar silat,
petatah-petitih, sampai pada pengajian dan berpantun
di surau bagi kalangan muda.  Di Inggris, misalnya,
Lewis A. Coser membahas peranan beberapa warung kopi
di London (mirip palanta lapau di Minang. IJP) pada
abad ke XVIII dalam mempertemukan berbagai kaum
intelektual (SH Alatas, 1988: 106). Kaum intelektual
itu bisa ditumbuhkan lewat palanta lapau, tentu saja
dengan mengarahkan diskusi pada persoalan-persoalan
yang dihadapi sehari-hari, ketimbang lewat sistem
pendidikan resmi seperti sekarang yang menghasilkan
keseragaman kurikulum pendidikan.

Keempat, memberikan proporsi yang lebih banyak kepada
muatan lokal untuk diajarkan dalam sekolah resmi.
Muatan lokal itu tidak semata-mata berbentuk
keterampilan yang dibutuhkan di lapangan pekerjaan,
tetapi juga bentuk-bentuk pemikiran yang mempengaruhi
watak dan mentalitas manusia. Kalau perlu �ilmu� yang
selama ini dipelajari secara otodidak, atau lewat
kegiatan-kegiatan adat � seperti petatah-petitih �
diajarkan di sekolah-sekolah resmi. Kontrol yang baik
dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tentunya
akan sangat mempengaruhi penerapan muatan lokal ini,
agar tidak terjebak kepada etnisitas yang membelah
bangsa-bangsa besar di dunia. Semoga.

Jakarta, 12 Januari 1997.

 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35 
a year!  http://personal.mail.yahoo.com/

RantauNet http://www.rantaunet.com
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3

ATAU Kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
Ket: [email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WebPage RantauNet dan Mailing List RantauNet adalah
servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================

Kirim email ke