Kegelisahan Ninik Mamak Minangkabau
Media Indonesia - Pendidikan dan Kebudayaan (10/24/00)
SASTRAWAN berdarah Minangkabau, AA Navis, suatu ketika menulis kisah
berjudul Robohnya Surau Kami. Dan, kini para ninik mamak dan pemuka
masyarakat Minang mengkhawatirkan surau-surau di kampung mereka benar-
benar runtuh karena tak ada lagi anak-anak muda yang mengisi. Mereka
lebih suka memenuhi tempat penyewaan video game atau penyewaan VCD.
Budayawan Edi Utama menceritakan kegelisahan ini. "Saya masih ingat
tulisan harian Mohammad Rajab yang mengisahkan bagaimana anak-anak
Minang dulu senang berdesak-desakan di surau, bahkan tidur di surau
beberapa hari hanya untuk belajar Alquran dan mendengarkan kisah para
perantau di negeri orang," katanya.
Tapi tulisan Rajab ini hanya menjadi kenangan. Saat ini anak tamatan SD
tak bisa baca dan tulis Alquran serta tidak tahu adat. Surau-surau pun
tidak lagi seramai dulu ketika ranah Minang ini masih menjunjung
budayanya cukup kuat.
Ironisnya, para perantau yang setiap lebaran tiba pulang kampung tak
peduli dengan budayanya. "Mereka lupa adat dan sedikit sekali orang
Minang rantau yang mengembangkan adat budaya demokrasi Minang,"
katanya.
Kegelisahan masyarakat Minang ini muncul dalam seminar Tantangan Budaya
Minang dalam Menghadapi Desentralisasi dan Globalisasi, Minggu, di
Taman Ismail Marzuki.
Tak heran Edi mengharapkan para pemimpin nagari harus memberikan
ketegasan dalam pendidikan anak-anak. Ia meminta agar pendidikan agama
dan budaya menjadi satu, agar kelak anak-anak SD ini menjadi pusat
kebudayaan.
"Kalau perlu, sebelum mereka lulus SD, harus wajib baca Alquran,"
katanya. "Karena, kalau tidak dipaksa begitu seperti yang terjadi
sekarang ini, sistem pendidikan telah mencabut akar dan lingkungan
budaya."
Tercerabutnya akar Minang dari masyarakat ini bukan hanya masalah anak-
anak yang tidak lagi suka datang ke surau-surau. Mochtar Naim, orang
Minang yang menjadi anggota MPR, mengatakan kondisi saat ini memang
jauh sekali dengan apa yang pernah diajarkan para ninik mamak.
Nagari-nagari di Sumatra Barat berubah menjadi sebuah desa -- sama
dengan di Jawa -- yang menurut adat Minang sebuah penurunan derajat.
Para kepala nagari yang memimpin diganti dengan pendatang dari luar
Minang yang sama sekali tidak tahu-menahu masalah adat istiadat Minang.
"Sama saja budaya Minang dicabut dari akarnya," kata Mochtar. "Sekarang
masyarakat Minang akan bangkit kembali dan membangun jati diri bangsa.
Caranya dengan kembali ke belakang atau budaya Minang yang dulu. Itu
yang dianggap mereka sangat cocok, bukan budaya yang selama 40 tahun
dijalankan."
Setiap daerah, seperti Minang, memiliki budaya sendiri sehingga
perubahaan struktur itu mestinya tidak perlu. "Yang terjadi kemudian
adanya penyeragaman budaya yang dalam kacamata kami adalah `kebudayaan
pusat dan kebudayaan Jawa`," kata Mochtar. "Inilah potret kenyataan di
daerah, sekarang ini telah terjadi penjajahan kebudayaan."
Sentralisasi ini mengakibatkan lenyapnya para pemimpin masyarakat.
Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo Dt Sori Marajo mengatakan, "Ketika
sentralisasi berjalan, yang terjadi adalah pertikaian antara ulama-
ulama, pemimpin nagari, para bangsawan, maupun kalangan cerdik pandai
karena hilangnya fungsi nagari dan pimpinan nagari yang karismatis."
Tak heran di awal masa kemerdekaan muncul pemberontaan Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang menentang sentralisasi.
Mereka menuntut perluasan wilayah, pembagian kekuasaan pusat dengan
daerah seimbang, dan desentralisasi. Dan baru setelah reformasi,
agaknya, keinginan seperti itu mulai tampak bentuknya.
"Kebangkitan masyarakat Minang ini tidak untuk menuju ke primodial atau
apriori, tetapi untuk melihat masa depan yang lebih baik," kata
Mochtar. Siswantini Suryandari/B-3
Mailing List RantauNet http://lapau.rantaunet.web.id
Database keanggotaan RantauNet:
http://www.egroups.com/database/rantaunet?method=addRecord&tbl=1
=================================================
Mendaftar atau berhenti menerima dari RantauNet Mailing List, kirimkan email
Ke / To: [EMAIL PROTECTED]
Isi email / Messages, ketik pada baris/kolom pertama:
- mendaftar: subscribe rantau-net [email_anda]
- berhenti: unsubscribe rantau-net [email_anda]
[email_anda] = isikan alamat email anda tanpa tanda kurung
=================================================
WEB-EMAIL GRATIS ... @rantaunet.web.id ---> http://mail.rantaunet.web.id
-------------------------------------------------------------------------------------------------
WebPage RantauNet http://www.rantaunet.web.id dan Mailing List RantauNet
adalah servis dari EEBNET http://eebnet.com, Airland Groups, USA
=================================================