|
Kisah Sufi Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang
tidak memiliki anak, tetapi sangat kaya dan wilayahnya sangat luas. Tentu saja
ia selalu dirundung pikiran mengenai siapa yang bakal menggantikan kedudukannya
kelak. Pada suatu hari, ia mengumpulkan semua juru sihir dari seluruh negeri
dan orang-orang itu dimintanya agar berdoa untuknya. Beberapa di antara juru
sihir itu malah menuliskan beberapa jimat untuk sang raja. Tak lama setelah
peristiwa itu, permaisuri mengandung. Ia melahirkan seorang anak laki-laki.
Namun ternyata putra mahkota itu wajahnya sangat buruk. Sang raja sangat berbahagia mempunyai seorang
putra, meski sebetulnya ia agak sedih mengingat wajah putranya yang buruk itu.
Peristiwa kelahiran itu ia rayakan besar-besaran di seluruh negeri. Menteri
utama negeri itu adalah seorang tua yang sangat bijaksana. Untuk melindungi
putra mahkota itu pun, ia menyingkirkan semua cermin dari istana. Maksudnya
adalah agar putra mahkota tidak pernah bisa melihat wajahnya sendiri yang
mahaburuk itu. Ketika raja meninggal karena suatu penyakit, putra mahkota itu
pun diangkat sebagai raja. Sebagai raja kaya, ia mengawini banyak wanita cantik.
Dan tentu saja, semua wanita cantik itu
mempunyai cermin. Pada suatu hari, ketika raja itu berada di ruang baca, secara
kebetulan ia menemukan sepotong kaca yang terselip di antara buku-buku. Ketika
melihat ke kaca itu, tampak wajahnya sendiri yang sangat buruk, dan ia pun
menjadi ngeri. Ia menjerit, lalu menangis panjang. menteri diberi tahu hal itu
dan langsung menghambur ke ruang baca. ''Mengapa Yang Mulia menangis? Apa yang
merisaukan Paduka?'' ''Aku baru melihat wajahku sendiri. Selama ini aku tidak menyadari
betapa buruknya wajahku selama ini,'' jawab raja muda itu. ''Apa pula gerangan dosaku sehingga begini buruk
rupaku?'' Mendengar jawaban itu, Menteri itu pun langsung ikut menangis. Raja
itu bertanya kepadanya,''Aku menangis karena aku menyadari betapa buruknya
wajahku. Kau menangis karena apa, Menteri?'' ''Ya, Yang Mulia,'' kata sang
menteri, ''Paduka baru sekali melihat wajah Paduka, dan paduka menangis pilu
karena itu. tetapi kami ini, rakyat Paduka, melihat wajah Paduka selama hidup
kami. Itulah sebabnya hamba menangis, Paduka.'' ... NEW!! Plasagroups experience ... |
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
