Title: Relatif

Kisah Sufi
Raja yang Buruk Muka dan Menteri yang Bijak 

Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang tidak memiliki anak, tetapi sangat kaya dan wilayahnya sangat luas. Tentu saja ia selalu dirundung pikiran mengenai siapa yang bakal menggantikan kedudukannya kelak. Pada suatu hari, ia mengumpulkan semua juru sihir dari seluruh negeri dan orang-orang itu dimintanya agar berdoa untuknya. Beberapa di antara juru sihir itu malah menuliskan beberapa jimat untuk sang raja. Tak lama setelah peristiwa itu, permaisuri mengandung. Ia melahirkan seorang anak laki-laki. Namun ternyata putra mahkota itu wajahnya sangat buruk.

Sang raja sangat berbahagia mempunyai seorang putra, meski sebetulnya ia agak sedih mengingat wajah putranya yang buruk itu. Peristiwa kelahiran itu ia rayakan besar-besaran di seluruh negeri. Menteri utama negeri itu adalah seorang tua yang sangat bijaksana. Untuk melindungi putra mahkota itu pun, ia menyingkirkan semua cermin dari istana. Maksudnya adalah agar putra mahkota tidak pernah bisa melihat wajahnya sendiri yang mahaburuk itu. Ketika raja meninggal karena suatu penyakit, putra mahkota itu pun diangkat sebagai raja. Sebagai raja kaya, ia mengawini banyak wanita cantik.

Dan tentu saja, semua wanita cantik itu mempunyai cermin. Pada suatu hari, ketika raja itu berada di ruang baca, secara kebetulan ia menemukan sepotong kaca yang terselip di antara buku-buku. Ketika melihat ke kaca itu, tampak wajahnya sendiri yang sangat buruk, dan ia pun menjadi ngeri. Ia menjerit, lalu menangis panjang. menteri diberi tahu hal itu dan langsung menghambur ke ruang baca. ''Mengapa Yang Mulia menangis? Apa yang merisaukan Paduka?'' ''Aku baru melihat wajahku sendiri. Selama ini aku tidak menyadari betapa buruknya wajahku selama ini,'' jawab raja muda itu.

''Apa pula gerangan dosaku sehingga begini buruk rupaku?'' Mendengar jawaban itu, Menteri itu pun langsung ikut menangis. Raja itu bertanya kepadanya,''Aku menangis karena aku menyadari betapa buruknya wajahku. Kau menangis karena apa, Menteri?'' ''Ya, Yang Mulia,'' kata sang menteri, ''Paduka baru sekali melihat wajah Paduka, dan paduka menangis pilu karena itu. tetapi kami ini, rakyat Paduka, melihat wajah Paduka selama hidup kami. Itulah sebabnya hamba menangis, Paduka.'' 

 ...

Kirim ke milis : [EMAIL PROTECTED] Bergabung ke milis : [EMAIL PROTECTED] Keluar dari milis : [EMAIL PROTECTED] kirim email ke Owner : [EMAIL PROTECTED]

NEW!! Plasagroups experience ...

____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke