|
Alasan
Keempat
Diambil dari
: Harian Sinar Harapan Tanggal : 5 April
2003 Wawancara dengan
Zuber Syafawi, S.Ag �Saya hanya ingin
mencoba jujur pada rakyat� (Kader PK di DPRD I
Jateng) Zuber Syafawi, S.Ag
(40), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, mungkin
termasuk "manusia langka" di Indonesia. Langka karena ia tidak pernah bosan
mengungkapkan berbagai kasus yang dilakukan rekan sejawatnya di DPRD Jawa
Tengah. Langka pula, karena ia masih sering terlihat naik kendaraan umum untuk
menuju kantornya di gedung dewan. Ia pernah mengungkap
dana mobilitas Rp 95 juta per anggota DPRD Jateng, fasilitas mobil dinas Honda
CRV dan Suzuki Escudo 2.0, dana purnabhakti masing-masing Rp 100 juta, Tunjangan
Hari Raya (THR), serta sumbangan bagi fraksi sebesar Rp 1,7
miliar. Tentu saja sikapnya
yang nyleneh (berbeda dari yang lain) ini tidak bisa diterima oleh semua orang.
Tapi coba simak jawabannya. "Saya ingin jujur kepada rakyat, terutama konstituen
saya (Partai Keadilan-red)," katanya saat ditemui SH di rumah kontrakannya yang
terletak di perkampungan padat Jl. Bulustalan IV/631-A,
Semarang. Suami Diah Rahwati
serta ayah lima anak ini menemui setiap tamunya dengan duduk lesehan karena
memang tak ada kursi di ruang tamunya. Bahkan dindingnya terlihat kotor oleh
corat-coret anaknya yang masih balita. Berikut petikan
wawancara dengan pria berkumis dan berjenggot kelahiran Kudus, 5 Agustus 1962
ini: Mengapa Anda
mengungkap kasus-kasus korupsi di DPRD Jateng sementara banyak anggota lain yang
berusaha menutup-nutupi? Itu karena faktor
nurani dan kejujuran. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Pak Thoyfoer
(KH Thoyfoer MC, Wakil Ketua DPRD Jateng-red), bahwa kami lebih siap dikoreksi
kebijakan yang salah daripada kami harus berbohong. Itulah mengapa akhirnya kami
ungkapkan semuanya dan apa adanya. Sebab kalau kita
tidak mengungkap, proses pembelajaran politik akan berhenti. Maka dengan adanya
pengungkapan-pengungkapan itu kita berharap proses transparansi kepada publik
akan lebih baik. Itu juga merupakan bentuk dorongan nurani dan rasa tanggung
jawab kami sebagai pejabat publik. Tapi sebagai anggota
DPRD, Anda kan juga menerima dana-dana serta semua fasilitas
itu? Ya, kami memang
menerima. Tapi semua kami kembalikan. Akan tetapi karena mekanisme pengembalian
ke DPRD sampai saat ini belum ada, akhirnya kami berikan semuanya kepada partai
untuk digunakan dalam aktivitas-aktivitas mereka. Apa saja yang Anda
berikan ke partai? Ya apa saja dan
semuanya. Seperti dana mobilitas, termasuk THR kemarin dan termasuk juga gaji.
Dari gaji sebagai anggota dewan sebesar Rp 12 juta, Rp 5 juta di antaranya kami
serahkan ke partai sedangkan yang dibelanjakan lewat kami Rp 7 juta. Istilah
dibelanjakan lewat kami karena biasanya ada proposal-proposal dari partai dan
kami membiayai kegiatan tertentu yang lain. Dengan sikap semacam
ini, Anda menjadi sendirian di antara 99 anggota DPRD Jateng lainnya. Apa Anda
mengalami cercaan oleh sebagian dari mereka, misalnya dianggap sok
suci? Selama ini saya
belum pernah mengalami atau melihat langsung, walaupun saya yakin itu ada. Kami
akan bersikap wajar saja kalau memang ada orang-orang yang memiliki sikap
negatif kepada kami. Itu akan kami anggap sebagai konsekuensi dari sikap kami
dan itu sudah risiko. Selain itu kami mencoba mengeliminir dengan cara
berkomunikasi secara intens dengan teman-teman dalam hal-hal kemanusiaan.
Walaupun kami berbeda, dengan cara ini benturan-benturan fisik tidak pernah
terjadi. Membicarakan tentang kami langsung juga tidak pernah. Itu antara lain
yang kami lakukan sehingga kami tidak mengalami banyak
persoalan. Kelihatannya
kehidupan Anda sangat sederhana. Tapi jangan-jangan hanya di sini, sementara di
tempat lain Anda hidup bermewah-mewah seperti anggota dewan yang
lain? Tidak, ya hanya ini.
Rumah ini kami kontrak Rp 5 juta setahun. Saya belum punya rumah sampai
sekarang. Kendaraan juga tidak punya. Kalau kegiatan partai pakai mobil partai,
tapi kalau mobil itu dipakai yang lain, ya kami naik kendaraan umum. Tidak ada
masalah. Tapi banyak yang
memandang Anda tidak realistis. Sebab bagaimana pun mobilitas anggota dewan
tinggi sehingga wajar jika punya sepeda motor atau
mobil? Kami mengingat betul
bagaimana perjuangan orang menempatkan kami di legislatif adalah perjuangan
semua pihak. Kami ingat, misalnya ketika teman-teman membagikan leaflet-leaflet
partai di jalan-jalan, rasanya kami tidak kuat untuk berpenampilan yang sangat
tidak adil dan jauh dari konstituen kami. Disamping itu kami
merasa tidak pantas berpenampilan seperti itu. Tentang mobilitas sebagai anggota
dewan, saya rasa sampai hari ini tidak terganggu dengan ketiadaan fasilitas
kendaraan. Kami masih merasa optimal dengan tiadanya kendaraan
itu. Apa Anda pernah
merasa putus asa melihat perilaku sesama anggota
dewan? Ya, ada. Kami
berpikir harus mulai dari mana ini. Memang pernah putus asa untuk melakukan
perubahan-perubahan di antara teman-teman. Tapi alhamdulillah kini kami melihat
ada titik cerah. Ini mungkin juga dampak positif dari tekanan publik kepada
dewan yang akhirnya mereka tersentak dan kesadarannya muncul
kembali. Bagaimana soal
ketidakpercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat?
Ya, saya rasa
pandangan masyarakat yang semacam itu tidak salah. Karena memang realitasnya
seperti itu. Ada sebuah perubahan yang cukup mendasar bagi anggota DPRD, dari
yang dulunya tidak memiliki kemampuan berpenampilan semacam itu, tiba-tiba bisa
berpenampilan seperti itu. Sehingga ketika diukur dengan gaji yang dimiliki pun
ternyata masih tidak masuk akal. Saya rasa itu wajar.
Dan mengapa bisa jadi seperti itu? Bisa jadi penyebabnya adalah tidak
selektifnya rekrutmen partai terhadap calon legislatif. Sehingga menyebabkan
banyak anggota dewan yang tidak memiliki visi, menjadi anggota dewan harus
seperti apa. Nah kalau sudah tidak memiliki visi, otomatis tanggungjawabnya
menjadi rendah. Jangan heran kalau dalam sebuah aktivitas resmi, baik itu
paripurna atau rapat kerja komisi atau tinjauan lapangan, banyak yang tidak
serius. Itu dampak dari tidak adanya visi dalam diri
mereka. Mayoritas anggota
DPRD Jateng seperti itu? Saya rasa begitu.
Kami ingin pada saat tertentu teman-teman wartawan menyaksikan langsung.
Misalnya dalam rapat kerja yang datang berapa orang, terus tingkat atensi serta
keseriusan mereka dalam merespons presentasi dari eksekutif.
Anda merasa
kesulitan mengubah perilaku anggota DPRD yang terlanjur korup
itu? Sebetulnya betapapun
pelan, kini mulai ada perubahan. Setidak-tidaknya orang yang berani
mengungkapkan kebenaran sekarang ini jumlah bertambah. Walaupun belum
signifikan, tetapi jelas ada. Ada satu dua orang yang mulai berani mengungkapkan
kebenaran. Karena banyak di antara teman-teman yang menyampaikan kepada kami
bahwa sebenarnya mereka mempunyai keinginan yang sama, tetapi memiliki
keterbatasan karena terikat oleh fraksi, partai.
------------------------------------------------- Visit ICMI America at: http://www.icmiamerica.org |
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
