|
LEGENDA ORANG
RANTAI SAWAH LUNTO http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_arsip.htm?tp=legenda Batu bara
di Sawahlunto terpendam jauh di bawah tanah. Dahulu, pada awal penambangan
dibuat terowongan besar di kaki bukit untuk pekerja dan lori pembawa batu bara
keluar-masuk. Di bagian
dalam terowongan, penggalian bersimpang siur kiri-kanan dan atas-bawah. Supaya
tidak runtuh, terowongan itu disangga dengan balok kayu. Ada kalanya terowongan
itu runtuh juga hingga ada pekerja yang mati karena terkurung atau tertimbun
reruntuhan. Bekerja di
tambang itu sangat berat dan berbahaya, tapi gajinya sangat kecil. Akibatnya
penduduk sekitarnya tidak mau bekerja di sana. Mana yang bekerja dalam waktu
sehari dua hari mereka sudah lari. Supaya
pekerja tambang itu tidak bisa lari lagi, diambillah orang dari pulau seberang
dengan paksa. Pada umumnya, mereka itu berasal dari Pulau
Jawa. Sekitar 20
tahun kemudian kerja paksa itu diganti dengan cara kerja kontrakan, yaitu
pekerja itu membuat perjanjian bekerja selama beberapa
tahun. Siapa yang
minggat sebelum kontraknya habis dikenakan hukuman penjara. Pada masa penjajahan
Belanda pekerja tambang itu disebut kuli kontrak. Di samping
kuli kontrak, tambang itu menggunakan pula orang yang hukuman penjara lebih dari
10 tahun. Mereka dihukum karena merampok atau membunuh. Semuanya berasal dari
pulau lain. Supaya tidak melarikan diri, kaki mereka diikat dengan rantai.
Mereka itu disebut orang rantai. Entah
bagaimana caranya ada juga orang rantai itu yang dapat meloloskan diri. Maka
gemparlah seluruh penduduk oleh ketakutan. Ketakutan karena diceritakan bahwa
orang rantai itu adalah orang jahat yang suka mengamuk. Banyak
ibu-ibu menakut-nakuti anaknya yang nakal dengan mengatakan, "Naik ke rumah. Ada
orang rantai kabur". Hampir semua orang rantai yang lari itu tertangkap lagi
karena tidak tahu mau pergi ke mana setelah dapat lari. Salah seorang yang tidak
pernah dapat ditangkap adalah Karta. Karta
berasal dari Banten. Dia dihukum seumur hidup karena tuduhan membunuh tentara.
Sebenarnya dia adalah seorang santri muda yang punya ilmu kedukunan berbagai
penyakit. Maka dia sangat terkenal sebagai orang sakti. Pada akhir
abad ke-19, seluruh daerah Banten tidak aman. Di mana-mana rakyat menentang
Belanda. Karta dicurigai sebagai penghasut rakyat melawan
pemerintah. Pada waktu
tentara menangkap Karta, terjadilah perkelahian ramai antara tentara dan rakyat.
Banyak orang yang mati. Seorang tentara terbunuh. Karta ditangkap dan
dipenjarakan seumur hidup. Lalu diangkut ke Sawahlunto. Kedua kakinya dirantai
supaya tidak melarikan diri. Setiap
pagi, kuli kontrak dengan orang rantai digiring ke dalam terowongan untuk
menambang batu bara. Sore mereka digiring kembali ke tempat masing-masing. Kuli
kontrak ke barak, orang rantai ke penjara. Setiap
rombongan dikawal oleh mandor yang umumnya berkumis panjang dan bercemeti di
tangannya. Mereka itu orang yang bengis. Mandor untuk orang rantai juga membawa
senjata api. Cemeti mereka mudah saja hinggap pada punggung orang-orang yang
malas bekerja. Semua
pekerja tambang ingin melarikan diri agar bebas dari bekerja berat dan siksaan
camnbuk atau makian kasar. Demikian pula dengan Karta. Dia selalu berpikir dan
mencari kesempatan untuk lari. Siasat atau cara berpikir dan mencari kesempatan
untuk lari. Siasat
atau cara yang dilakukannya ialah dengan berlaku baik, patuh dan rajin.
Maksudnya supaya para pengawal mempercayainya dan tidak banyak lagi
mengawasinya. Beruntung
pula Karta punya ilmu kedukunan. Banyaklah orang rantai atau kuli kontrak yang
sakit dapat disembuhkannya. Kemanjuran pengobatannya terkenal sampai ke luar
daerah tambang. Lebih-lebih ketika
ia berhasil menyembuhkan patah kaki seorang pimpinan penjara karena jatuh di
lereng bukit. Sejak itu dia banyak mendapat keleluasaan bergerak.
Pada suatu
subuh, seperti tiba-tiba petugas penjara tidak menemuinya lagi. Berita orang
rantai lari segera saja menggemparkan penduduk sekitar
Sawahlunto. Berita itu
cepat tersebar ke seluruh Minangkabau. Polisi dan tentara dikerahkan mencari
Karta, tapi tidak berhasil. Konon Karta sempat menghirup udara kemerdekaan
Republik Indonesia beberapa tahun lamanya. Begini
kisahnya dari mulut ke mulut penduduk Sawahlunto tentang pelarian Karta itu.
Ibarat dongeng yang tak kunjung dari ingatan orang-orang tua di masa itu.
Berminggu-minggu lamanya, Karta bersembunyi di hutan perbukitan sekitar
Sawahlunto. Menurut
dongeng itu, pada malam ke-40 muncullah seorang tua berjubah serba putih,
berjenggot panjang sampai ke lutut. Dia mengaku sebagai nenek moyang Karta yang
sengaja datang dari Banten untuk membuka rantai pada kaki cucunya. "Orang biadab
yang merantai manusia seperi anjing", katanya. Setelah itu raiblah dia sambil
membawa Karta entah ke mana. Kisah yang
sebenarnya adalah demikian. Setelah itu Karta lolos dari penjara dia menghilir
Batang Ombilin. Ketika
tiba pada anak sungai kelima, ia mudiki anak sungai itu. Pada hari ketiga,
sampailah Karta ke sebuah pondok yang letaknya di tepi sungai. Di sana ada
seorang laki-laki tua dengan seorang anak gadis yang usianya menjelang remaja.
Laki-laki itu Kakek Pado dipanggil orang. Anak gadis
itu bernama Upik. Tampaknya Upik sakit. Badannya panas. Dua hari yang lalu dia
disengat kalajengking ketika baru saja sampai di pondok itu mengantarkan makanan
untuk kakeknya. Demi
melihat Karta yang kumal dan kakinya berantai, kedua penghuni pondok itu bukan
kepalang takutnya. "Jangan
takut. Aku bukan orang jahat", kata Karta dengan wajah yang tersenyum
ramah. Demi
melihat Upik sakit, Karta langsung mendekat. Dipegangnya ubun-ubun kepala Upik.
Dibacanya mantera. Selanjutnya ditekannya bekas sengatan kalajengking pada kaki
Upik yang telah sembab. Dibacanya lagi mantera. Setelah itu, disemburnya dengan
ludahnya. Air ludah itu dibarut-barutnya sambil terus membaca mantera. Beberapa
saat kemudian, Upik merasa sakitnya hilang. Berita
tentang orang rantai pandai mendukun cepat tersebar. Banyaklah orang datang
minta diobati. Dalam pada itu, rantai di kaki Karta telah dibuka orang. Berita
itu sampai juga ke polisi di Sawahlunto. Akan tetapi, setiap polisi datang,
Karta disembunyikan penduduk. Semua orang sayang padanya karena selain pandai
mendukun, Karta pun pandai mengaji. Katanya
selalu kepada orang-orang yang datang berguru atau berobat kepadanya, "Kalau
kita berbuat baik, Tuhan akan membalasnya dengan kebaikan. Balasan Tuhan itu
baru kita ketahui ketika kita menghadapi kesulitan, Tuhan datang menolong kita.
Kepada
yang lain Karta mengatakan, "Perbuatan baik akan lebih berfaedah kalau kita
punya ilmu. Kebaikan tanpa ilmu, ibarat nasi tanpa gulai". Sejak itu,
penduduk tidak lagi percaya bahwa semua orang rantai di Sawahlunto adalah orang
jahat. Yang tidak jahat itu pastilah karena salah tangkap oleh fitnah. Entah
karena kebetulan kemudian cara merantai orang hukuman yang bekerja di tambang
dihapuskan. |
____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
