Assalaamu'alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
Untuk Adinda Ronal, kenapa kok skeptis benar dengan Pemilu sih? Dan kok
sepertinya memudahkan saja usaha-usaha yang dilakukan orang-orang Islam
dalam berjuang melalui pemilu dan berpartai? ("Menurut hemat saya, pemilu
dan berpartai adalah cara mudah untuk tegaknya islam"). Tidak tahukah kita
betapa banyak pengorbanan yang dilakukan orang-orang yang ingin
memperjuangkan Islam melalui parlemen? Kalau di Aljazair kita melihat
pengorbanan dengan darah dan air mata, di Indonesia pun saya kira tak kalah
beratnya, bahkan ada aktivis sebuah partai Islam mengatakan sudah memeras
habis-habisan segala potensinya. Kalau masih dicoba untuk memeras lagi,
mungkin yang keluar adalah darah, katanya.
Mengenai FIS dan Refah, logikanya cukup masuk akal, tetapi saya ingin
sedikit mengutip jawaban Pusat Konsultasi Syariah terhadap argumen tsb:
Dari sini ---------------------------------------------------
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin,
wa ba`du,
Pemikiran dan logika yang digunakan oleh saudara-saudara kita adalah logika
yang lumayan masuk akal juga. Sebab bila menilik kegagalan REFAH dan FIS,
nampak sekali bahwa meski partai Islam sudah menang, namun belum tentu bisa
berkuasa.
Dan tidak salah bila dikatakan bahwa pihak musuh Islam akan menggunakan
segala cara termasuk membatalkan hasil pemilu bila ternyata yang menang
adalah partai Islam. Dalam hal ini maksudnya adalah partai Islam yang
konsern dengan penegakan syariat Islam. Atau sangat besar kemungkinan pihak
asing akan melakukan boikot dan sebagainya kepada negara yang mengakui hasil
pemilu yang dimenangkan oleh partai-partai Islam. Semua itu mungkin saja dan
sudah pernah terjadi.
Tetapi sebenarnya pendapat itu bersifat ijtihadi, bukan berdasarkan nash
atau ketetapan syar'i berdasarkan ayat atau nash hadits yang eksplisit.
Sehingga fatwa itu sendiri masih terbuka untuk didiskusikan. Karena wilayah
politik itu bukan area aqidah semata, melainkan banyak juga terkandung
nilai-nilai muamalah dan teknis, dimana unsur syuro dan brainstorming dari
banyak kepala menjadi cukup dominan. Sehingga yang namanya ijtihad dalam
berpolitik bukanlah hal yang asing apalagi dinafikan.
Pada suatu negeri dan masa suatu masa, mungkin saja sebuah pergerakan Islam
memandang bahwa dakwah secara politik praktis dan masuk ke parlemen itu
adalah hal yang sia-sia. Sehingga kebijakannya pada saat itu memang tidak
perlu dakwah parlementer. Kita pun pernah mengalami masa seperti ini.
....cut
Sebenarnya demokrasi yang diterapkan di berbagai negeri itu tidak lain dari
assesoreis yang digunakan oleh masing-masing rezim. Intinya, tidak ada
negara
....cut
Rupanya istilah demokrasi itu untuk abad ini semacam menjadi merek dagang,
dimana hampir semua pemerintahan akan menyebut bahwa rezimnya itu adalah
demokrasi. Meski isinya bisa sangat bertentangan dengan demokrasi itu
sendiri.
Maka siasat yang bisa dilakukan untuk menegakkan syariat Islam agar tidak
langsung digembosi oleh Barat adalah dengan jalan melakukan beragam trik,
salah satunya dengan mengatakan bahwa negara yang akan kita dirikan inipun
negara demokras, paling tidak jauh dari kesan monarki. Sebab rakyat pun
terlanjur telah dicekoki dengan berhala demokrasi. Pemerintahan yang
terbentuk pun hasil dari sebuah proses demokrasi lewat partai dan pemilu.
Maka segala 'dagangan' kalau tidak pakai istilah demokrasi menjadi tidak
laku.
Ketika kita menamakan atau masuk ke dalam sebuah sistem yang terlanjur
disebut-sebut sebagai sistem demokrasi, sama sekali tidak pernah terlintas
dalam pikiran kita bahwa rakyat itu tuhan, seperti yang dipahami secara
sempit dari kekuasaan di tangan rakyat. Yang dilakukan adalah mengatakan
kepada lawan, "Kalau Anda mengatakan bahwa kekuasaan di tangan rakyat, oke
dan boleh saja. Tapi ketahuilah bahwa rakyat itu menginginkan hukum tuhan
diterapkan di negeri ini". .
Hasilnya akan jelas bahwa hukum Allah SWT akan berlaku dengan perantaraan
diplomasi. Kira-kira hal tersebut senada dengan kisah pemuda Ashabul Ukhdud
yang secara diplomatis rela memberikan kunci rahasia bagaimana caranya agar
dirinya bisa dibunuh oleh penguasa. Syaratnya adalah bahwa raja dan semua
rakyat harus mengucapkan syahadat ketika membunuhnya.
Jadi kita mengunakan logika lawan untuk bisa memenangkan argumentasi kita.
Sama juga dengan diplomasi Nabi Ibrahim AS yang ketika ditanyakan kepadanya
siapakah yang meruntuhkan tuhan-tuhan itu, Ibrahim menjawab dengan sangat
diplomatis bahwa berhala yang paling besar itulah yang telah melakukannya.
Diplomasi ini menohok lawan langsung tepat pada titik matinya. Sehingga
mereka tercekat tak bisa menjawab kecuali dengan tangan besi.
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap
tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang
besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika
mereka dapat berbicara". (QS.Al-Anbiya' : 62) )
Dengan teknik yang mirip, kita mengatakan kepada lawan bahwa kita siap
beradu kekuatan dengan cara lawan, yaitu dengan mengumpulkan sebanyak
mungkin suara. Sebab kita yakin bahwa mayoritas penduduk negeri ini adalah
muslimin, maka sudah barang tentu bila suara terbesar itu pastilah milik
umat Islam. Sayangnya selama ini suara itu malah dimanfaatkan oleh partai
sekuler untuk menegakkan sistem sekuler di negeri ini. Seandainya ada partai
Islam yang secara serius menggaram umat Islam sehingga bisa semua aspirasi
umat tertampung dalam partai itu, insya Allah kita bisa menjadi tuan rumah
di negeri sendiri. Tidak seperti sekarang ini. Hadaanallahu Wa Iyyakum
Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
-------------------------------------------------------Sampai sini
Mudah-mudahan bermanfaat.
Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"
----- Original Message -----
From: "ronal chandra" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Komunitas MINANGKABAU (Urang Awak) Pertama di Internet (sejak 1993)"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, March 16, 2004 12:42 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] [Ringan] sudah punya pilihan kan??
> Wa'alaikum salam :-)
>
> Salam hormat ronal sampaikan untuk ibu Isna, beberapa
> kali saya ikuti perdebatan ibu dengan netter lainnya,
> terlihat tingginya gunung dibalik layar sana :-)
>
> Tahun 55 adalah pemilu paling hebat yang pernah
> dilakukan oleh bangsa ini, tapi tetap albagoroh 2:120
> masih selalu benar, bahwa islam tidak akan pernah
> dimudahkan untuk menang :-), karena hasil pemilu
> dibatalkan dengan alasan yang kita semua tau ;)
>
> Menurut hemat saya, pemilu dan berpartai adalah cara
> mudah untuk tegaknya islam ;-), dan sejarahnya lum
> pernah terjadi....
>
> Kalou ibu tanyakan bagaimana bagi mereka yang lum tau
> historical ? itulah kenapa Nabi Muhammad melakukan
> fardiyah jauh lebih panjang dari pada 10th masa
> kepemimpinannya :-)
>
> Jawabnya mungkin saat ini kita masih harus Dakwah
> Fardiyah Bu, dengan cara yang haq dan diridhoi
> allah,yang senantiasa menempatkan Alqur,an dan Sunnah
> diposisi paling tinggi.
>
> silahkan berpemilu saat alqur'an dan sunnah menjadi
> dasar dari semuanya :-)
>
> Kalou ditanya caranya ? saya yakin ibu isna tau :-)
>
> Wassalam
> Ronal Chandra ( Dari Atas Gunung Papua )
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________