Assalamu'alaikum wr.wb.,
     
     
Lembang Alam

16. THAWAF IFADHA, SA�I, TAHALLUL.

Karena tempat  duduk di bus hanya lima puluh,
sementara kami jumlahnya enam puluh maka sepuluh orang
dari anggota rombongan dititipkan untuk bergabung ke
rombongan besar. Yang sepuluh orang itu terdiri dari
saya sekeluarga dan pak J dengan istri, anak
perempuan, adik dan adik iparnya.  Semua anggota
rombongan pak J adalah wanita. Jadi kami bersama-sama
terdiri dari dari dua orang laki-laki dan delapan
orang perempuan. Kalau bus yang kami ikuti pagi ini
langsung ke Makkah, tidak demikian halnya dengan
rombongan yang lain. Rupanya waktu berangkat dari
Arafah kemarin malam mereka mengambil jalan yang
berbeda dengan kami, sehingga di Muzdalifah kami
terpisah, dan pagi ini mereka tidak bisa langsung ke
Makkah.

Setelah bersuci, berwudhuk dan menggosok gigi di
toilet umum Masjidil Haram saya kembali berkumpul
dengan jamaah yang akan melakukan thawaf.  Oleh
pembimbing kami disarankan untuk thawaf  dalam
rombongan-rombongan kecil dan nanti kalau sudah
selesai dengan sa�i kami akan berkumpul di tempat
pertemuan  favorit di bawah �Jam Gadang�.  Ini sangat
membantu bagi ustad-ustad pembimbing dan mereka dapat
lebih berkonsentrasi menolong jamaah yang sudah tua.
Saya dan pak J sepakat untuk bergabung dalam satu
rombongan.  Seorang anggota penyelenggara dari
rombongan kami, pak W,  ikut bergabung. Kami
mengantarkan dulu istri dan anak saya si Sulung ke
dekat �Jam Gadang� karena mereka tidak ikut thawaf.
Setelah itu barulah kami masuk ke mesjid, langsung
mendekati garis coklat. Orang yang thawaf luar biasa
banyaknya. Seluruh pelataran Ka�bah seperti ditutup
rapat dengan manusia. Orang banyak itu bergerak pelan
sekali. Hampir seluruh laki-laki dalam pakaian ihram.
Ternyata yang langsung turun ke Makkah dari Muzdalifah
pagi ini banyak sekali.  Kami menjalani putaran demi
putaran dengan sabar. Saya selalu berusaha mengenali
nomor setiap putaran. Pada putaran terakhir saya
beritahukan bahwa kita sudah hampir menyelesaikan
ketujuh putaran. Pak J minta konfirmasi karena dia
menghitung baru lima yang sudah selesai. Anak-anak
serta ibu J setuju dengan saya bahwa kita sudah
menyelesaikan enam putaran. Akhirnya pak J mengatakan
bahwa yang petama sekali tidak dia hitung karena waktu
itu dia tidak melihat garis coklat.  Dia menanyakan
apakah kalau kita tidak melihat garis coklat, putaran
itu syah. Saya coba menjelaskan bahwa garis coklat itu
hanya alat bantu. Biarpun kita tidak melihatnya, tapi
sudah melaluinya tentu putaran itu syah. Pak J bisa
menerima.  Selesai thawaf kami mundur ke belakang
sejajar dengan maqam Ibrahim untuk shalat sunat dua
rakaat. Di dekat itu banyak jamaah lain yang shalat.
Namun demikian tetap saja ada jamaah yang menerobos
melintas di depan orang yang lagi shalat itu.

Sesudah berdoa, kami menuju ke tempat sa�i tapi
sebelumnya mampir dulu untuk minum air zam-zam.
Tadinya saya memperkirakan bahwa sa�i akan lebih
longgar. Ternyata dugaan saya salah. Jamaah yang sa�i
sama membludaknya. Kami berdesak-desak mendekat ke
�bukit�  Shafa. Formasinya tetap sama seperti waktu
thawaf. Saya dan pak W di depan. Di belakang saya si
Tengah dan si Bungsu. Di belakangnya lagi ibu J dan
adiknya. Seterusnya anak dan adik pak J dan dibelakang
sekali pak J. Kami ikuti arus manusia yang banyak itu,
yang bergerak sangat pelan sekali.  Ada sedikit
kendala sebenarnya dengan jalur sa�i dari Shafa ke
Marwa ini.  Ada beberapa pintu untuk masuk ke mesjid
di sepanjang jalur ini. Dan jamaah yang akan ke mesjid
memaksakan juga masuk melalui pintu-pintu itu. Maka
terjadi tabrakan arus manusia. Pada waktu jamaah  sa�i
tidak banyak, orang-orang yang masuk itu bisa saja
memotong jalan mereka yang sedang sa�i tanpa banyak
resiko. Tapi pada saat ramai seperti ini suasananya
berbeda. Beberapa kali anak-anak saya terdorong dari
belakang sampai tergencet ke punggung saya. Ini
disebabkan jamaah di depan saya berhenti karena harus
memberi jalan kepada mereka yang masuk, sementara dari
belakang tetap mendorong untuk maju. Kalau sudah
begitu biasanya banyak jamaah mengangkat tangan kanan
dengan kelima jari dipertemukan dan mengatakan �suaya�
(maaf kalau salah ejaannya), yang artinya menyuruh
yang di belakang bersabar  dan tidak mendorong-dorong.
Kode itu cukup efektif. Tapi di dekat pintu masuk
berikutnya kejadian dorong-dorongan terulang kembali.
Saya jadi kehilangan keberanian jadinya. Terlalu berat
untuk perempuan-perempuan yang enam orang di belakang
saya. Saya usulkan kepada semua agar kita menarik diri
saja, tidak jadi melanjutkan sa�i. Dan semua setuju.
Mendekati pintu berikutnya saya minta jalan sambil
memberi tahu bahwa kami akan keluar. Kami diberi jalan
untuk keluar dan langsung menuju ke tempat istri dan
anak saya menunggu. Pak W, anggota penyelenggara itu,
tanpa menganjurkan untuk mengikutinya, mengatakan
bahwa dia akan mencoba sa�i di lantai dua. Saya yang
sedikit grogi sehabis berdesak-desakan sebentar ini
tidak berminat ikut. Dan yang lain setuju dengan saya.


Terasa lapar. Pagi ini kami hanya sarapan selembar
�crape� yang dibagi-bagikan ustad tadi di bus. Kami
keluar mencari makanan (sandwich kebab). Lumayan untuk
mengganjel perut. Sesudah itu kami istirahat di tempat
teduh dari panas matahari, dekat Pemadam Kebakaran.
Saya seperti kehilangan semangat dan hanya duduk saja
istirahat di tempat itu. Lama juga kami berdiri 
disana sambil tiap sebentar mengintip kalau-kalau
sudah ada yang datang ke bawah �Jam Gadang�. Sampai
masuk waktu zuhur, tidak ada yang datang kesana. Kami
pindah ke halaman mesjid di luar jalur Shafa � Marwa
untuk shalat zuhur. Setelah shalat barulah jamaah
rombongan besar dengan jilbab seragam berwarna biru
muncul satu persatu. Dan hadir pula ustad pembimbing
ahli hadits. Saya ceritakan bahwa kami belum sa�i
karena saya tadi takut meneruskannya. Ustad itu
mendesak agar kami mengerjakan sa�i sekarang di lantai
dua. Dia bilang mereka akan menunggu kami. Saya
beritahukan hal itu kepada pak J dan saya ajak dia
untuk ikut saja. Ternyata dia setuju. Kami berdelapan
naik ke lantai dua untuk mulai lagi sa�i. Ternyata di
atas lebih teratur. Meskipun jamaahnya sama mbludaknya
tapi tidak ada rombongan jamaah masuk memotong arus.
Kira-kira satu setengah jam kami selesaikan sa�i itu.
Sesudah bertahalul, kami turun dan mencari rombongan
tadi. Ternyata tidak ada orang di tempat itu. Saya
mencari-cari sambil memandang berkeliling. Tidak ada
siapapun. Ibu J menanyakan nomor HP istri saya.
Setelah saya beritahu dia coba menelpon. Tapi
tiba-tiba muncul istri dan anak saya. Rupanya mereka
menunggu di tempat lain. Rombongan jamaah tadi sudah
lebih dulu diatar pulang ke Mina. Tapi ustad tadi dan
ustad yang lain masih ikut menunggu kami. Kami segera
berangkat menuju Mina dengan bus kecil coaster. Waktu
itu saya mendengar berita bahwa pagi tadi telah
terjadi (lagi) musibah dengan banyak korban di Mina. 


                         *****









=====

St. Lembang Alam



__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - More reliable, more storage, less spam
http://mail.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke