Ass. Wr. Wb, 
Akan tibo hari rayo Kurban, kalau dikampuang dulu awak akan siap2 ka lapangan / 
musajik jo kain saruang baru, baju dan tarompa baru juo mungkin paliang asyik 
menghadiri penyemblihannyo dan membantu mamotong-motong sedapeknyo walaupun indak 
mahia mamainkan pisau tu, juo satalah itu mamijak mijak darah yang tatumpah, dan 
barabuik untuak mandapekan jatah yang sekedarnyo, tapi nikmatnyo bukan main ha ha 
hanyo saketek nostalgia dan baa biasonyo kebiasaan sanak2 awak yang ado di LN dan 
indonesia sekitarnyo mungkin have the nice stories, please share to urang awak yang 
ado dipalanta ko, maaf lahia jo bathin

Wassalam , Syahril.

> Pengajian : RAHASIA QURBAN
> 
> Al-Qur'an menegaskan hakikat Qurban, melalui kisah Nabi Ibrahim dan putranya
> Nabi Isma'il tercinta dalam surat Al-Shafat, ayat : 102-109.  Kisahnya
> begini; Nabi Ibrahim berkata kapada Nabi Ismail : " Wahai
> anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
> fikirkanlah apa pendapatmu? " Nabi Ismail menjawab seketika dengan tenang
> dan penuh keyakinan : " Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan
> (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku - insya Allah - termasuk
> orang-orang yang sabar ". Allah kemudian bercerita : " Tatkala keduanya
> telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah) dan Ibrahim membaringkan
> anaknya ( pelipsnya menimpel di atas tempat penyembelihan), Kami segera
> memanggil (dari arah gunung) : wahai Ibrahim, Sudah kau benarkan (dan kau
> laksanakan) apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikinlah
> Kami memeberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat
> baik. Sungguh (perintah penyembelihan ini) adalah benar-benar ujian (bagi
> Ibrahim, di mana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlash dan
> siapa yang tidak). Dan kami segera menebus anak (yang akan disembelih itu)
> dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian
> yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera
> (dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap
> manusia)".
> 
> Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita garis-bawahi dari kisah di
> atas : Pertama, bahwa ajaran ber-qurban datangnya dari Allah SWT, sebuah
> ajaran yang agung, yang membuktikan kedekatan sang hamba kepada Rabnya,
> sebuah proses pendakian yang suci menuju Allah Yang Maha Agung, Pencipta
> langit dan Bumi, Pemilik alam semesta dan segala isinya. Itulah mengapa
> istilah yang dipakai adalah " qurban " yang
> maknanya bearti pendekatan.
> 
> Kedua, Apa yang biasa kita buktikan melalui kisah di atas bahwa ber-qurban
> merupakan salah satu proses pendekatan kepada Allah SWT?
> Jawabannya :
> (a) Kepribadian Nabi Ibrahim, yang demikian total menunjukkan ketaatannya
> kepada Allah. Tidak terlihat dalam sikapanya sebuah keraguan, atau
> keberatan. Begitu menerima perintah dari Allah untuk menyembelih anak
> kesayangannya, Ismail, - anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya sekian lama
> sampai ia mencapai usia tua - Nabi Ibrahim langsung mendatangi Ismail dan
> menympaikan perintah tersebut. Padahal secara psikologis Nabi Ibrahim
> sungguh sangat membutuhkan seorang keuturunan. Bayangkan, di tengah
> pengembaraan yang jauh, di sebuah lembah padang sahara yang kering, tanpa
> pohonan dan tanaman, Nabi Ibrahim hidup. Ditambah lagi usianya yang memang
> sudah sangat mebutuhkan seorang anak muda untuk menopang ketidak mampuannya.
> Tapi lihatlah, totalitas penyerahan diri Nabi Ibrahim kepada Sang Pemilik
> Bumi dan langit.
> (b) Kepribadian Nabi Ismail, yang benar-benar memhami keaguangan perintah
> Allah. Artinya bahwaperintah itu harus segera dilaksanakan. Tidak usah
> ditawar-tawar dan ditunda-tunda lagi. Sektika ia berserah diri dengan penuh
> kesabaran. Sungguh ungkapan Nabi Ismail dengan panggilan "yaa abati"
> mengekspressikan kecintaan nabi Ismail dan kedekatannya kepada sang ayah,> 
> pun juga kepsrahan totalnya terhadap perintah Allah, di mana dengan ungkapan
> itu tergambar dengan jelas bahwa ia tidak merasa kaget sama sekali.Melainkan
> langsung menerimanya dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.
> (c) Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tanpa banyak bicara dan diskusi
> dalam menerima "isyarat" yang terlihat dalam mimpinya "ru'ya", di mana
> kaduanya langsung bergerak menuju tempat penyembelihan. Nabi Ismail langsung
> berbaring, meletakkan pelipisnya ke bumi. Nabi Ibrahim langsung bergerak
> untuk menyembelihnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan.
> Dan dari peristiwa itu terlihat dengan jelas hakikat
> kepasarahan dan ketaatan yang hakiki dari kedua hamba tersebut, kepada
> Allah, Tuhannya. Allah seketika menyaksikan kesungguhan kedua hamba itu
> dalam mentaati perintahNya. Allah berfirman "qad saddaqta ru'ya",
> kau telah membenarkan "ru'ya"  itu ( wahai Ibrahim), dan kau telah
> melaksanakannya. Allah seketika pula menggantikan Nabi Ismail dengan seekor
> sembelihan yang besar. Sebab yang paling utama dari hakikat qurban ini,
> adalah sejauh mana tingkat kepasrahan sang hamba kepada Allah SWT, dan
> sejauh mana tingkat ketaatannya kepadaNya, sejauh mana tingkat ketabahannya
> dalam menjalani ajaran yang telah Allah tetapkan.
> 
> Ketiga,  bahwa hakikat " qurban " merupakan salah satu ujian dari Allah,
> yang dengannya setiap mu'min bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat
> ketaatannya kepada perintah Allah, hakikat kedekatannya kepada Allah.
> Sungguh Allah tidak menghendaki dari apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan
> Nabi Ismail, agar kita menyakiti diri kita dan melukai tubuh kita, sebagai
> simbol pendakian rohani kepada Allah. Tidak, sekali-kali tidak. Melainkan
> yang Alah kehendaki adalah totalitas ketaatan kita kepadaNya, dengan penuh
> keikhlasan, ketenangan, kerelaan dan keyakinan.
> Karenanya Allah segera menggantinya dengan seekor sembelihan.
> 
> Keempat,  bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismali dengan sikapnya itu, Allah beri
> predikat sebagai seoran "muhsin" ( seorang yang berbuat baik ), dan siapa
> saja yang mengikuti jejak nabi Ibrahim, dengan menghadiahkan seekor
> sembelihan qurban, atas dorongan ketaatan kepada Allah SAW, dan
> keikhlasannya yang paling dalam, ia akan termasuk kaum "muhsinin" itu.
> 
> Sungguh Allah berjanji begi mereka yang menghadiahkan kebaikan itu limpahan
> pahala yang agung di sisiNya. Maka berbahagialah mereka yang ber-qurban, dan
> termasuk dengan qurbannya golongan orang-orang
> muhsinin.
> 
> Amir Faishol Fath
> 
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke