Assalamualaikum
ww
Apapun
alasan-nya, yang jelas lewat hal seperti ini PK Sejahtera dapat "Iklan
Gratis"
wasalam
makmalinpks
===============================
From: Gatot Imam Sukoco
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, December 19, 2003 8:50
AM To: [EMAIL PROTECTED];
Partai Keadilan Sejahtera-Cimahi Subject: [pk-bandung] buat juragan
polling POLLING dari web TV 7 Siapa Presiden Pilihan Anda? Hasil Polling :
� Hidayat Nur Wahid : 49 % � Amien
Rais : 47 % � S. Bambang Yudhoyono : 2 % � Megawati : 1 % � Ruyandi
Hutasoit : 1 %
Total Votes : 3717 Polling via SMS
Siapa Presiden Pilihan Anda? Mari berpartisipasi di Polling TV7 dan
suarakan pilihan Anda. Polling terbuka mulai 10 Desember 2003 - 31 Maret
2004. Ketik nama presiden pilihan Anda dan kirimkan via SMS ke 0812 1199
777 [tarif normal sesuai provider masing-masing] Satu nomor HP hanya dapat
memilih satu kali. Perkembangan terkini hasil polling dapat diikuti setiap
hari pada : Tajuk Pagi [Senin - Sabtu | 05.30 WIB] Tajuk Sore [Senin -
Minggu | 16.00 WIB] Dapatkah hadiah mingguan sebesar Rp. 5.000.000,- untuk 5
pemenang dan hadiah grandprize di akhir polling [pajak hadiah ditanggung
pemenang]. Nama pemenang akan diumumkan setiap hari Minggu.
Data per Kamis, 19 Desember | 20.47 WIB
: Presiden pilihan pemirsa : 1. Hidayat Nur Wahid : 14.853 responden 2.
Amien Rais : 12.358 responden 3. Susilo Bambang Yudhoyono : 5.927
responden 4. Megawati : 4.233 responden 5. Ruyandi Hutasoit : 3.400
responden 6. Lain-lain : 8.392 responden -----------------
)|( ---------------- Sekretariat DPD PK Kota Bandung Jl. Kinanti no
7 Bandung 40264 Telp. & Fax:
022-7307328 ----------------------------------------------------------------------------
-----Original Message----- From: Indra
J.Piliang [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, December 19,
2003 7:10 PM To: [EMAIL PROTECTED] Cc: Awas; Polling
Palsu! by Qodari Subject:
Kawan-kawan,
Saya terdorong menulis artikel pendek di bawah
setelah menerima SMS dari seorang kawan yang tampaknya kurang mampu menyeleksi
informasi.
Contoh seperti di bawah ini membuat LSI berencana membuat
workshop ttg survei/polling pada awal tahun depan masing-masing untuk
politisi, wartawan dan aktivis LSM. ------------------
Awas, Polling
Palsu!
Muhammad Qodari Direktur Riset, Lembaga Survei Indonesia
(LSI), Jakarta
Hari itu saya menerima SMS (short message service) dari
seorang kawan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Isinya sebagai
berikut: "Polling SCTV meletakkan PKS sebagai partai terbesar (45,02%) jauh di
atas partai lain. Responden sebanyak 318.292 pengirim SMS. Survey umumnya
hanya 2000-4000 responden. Semoga mendekati kenyataan kata Roy Suryo
(pakar komunikasi UGM)."
Saya sedih membaca SMS tersebut. Betapa tidak,
ada paling tidak tiga salah kaprah dalam SMS tersebut. Pertama, survei atau
polling yang lain, selama ini tidak pernah menghasilkan PKS sebagai partai
dengan perolehan suara terbesar. Apalagi sampai 45%. Bahkan partai politik
terbesar seperti Golkar dan PDIP sekalipun tidak pernah setinggi itu. Menurut
survei LSI Agustus 2003, perolehan Golkar berkisar 31%, di atas PDIP yang 21%
dan PKS yang hanya 3,3%.
Kedua, kawan itu beranggapan bahwa semakin
banyak jumlah responden, semakin representatif pula suatu polling atau survei
atau biasa disebut juga dengan jajak pendapat. Ini tidak benar. Yang
mempengaruhi representatif atau tidaknya suatu polling bukanlah jumlah
responden, melainkan teknik pengambilan sampel yang digunakan. Agar
representatif, teknik yang digunakan haruslah "probability sampling". Teknik
ini memungkinkan pengukuran pendapat hanya dengan sedikit orang. Buat apa
responden 10 ribu, apalagi 300 ribu, kalau seribu atau 2 ribu responden sudah
mewakili?
Ketiga, kawan itu mencoba melegitimasi hasil survei
dengan mengutip ucapan Roy Suryo yang dia sebut sebagai pakar komunikasi
Universitas Gajah Mada (UGM). Saya tidak pernah tahu kiprah Roy Suryo dalam
jagat per-polling-an. Roy Suryo lebih tepat disebut sebagai pakar teknologi
informasi dengan pengetahuaannya mengenai komputer, aplikasi multi-media, dan
semacamnya. Karena itu saya ragu apakah Roy Suryo paham mengenai metodologi
penelitian survei.
Survei adalah perangkat ilmu sosial, bukan teknologi
informasi. Lebih spesifik lagi, ahli ilmu sosial, entah komunikasi atau
politik, banyak yang kurang paham metodologi penelitian survei. Saya pernah
bertemu seorang doktor ilmu politik lulusan Amerika Serikat yang tak paham
prinsip metodologi survei padahal penelitian survei paling marak di negeri
tempat ia belajar itu. Begitu juga politisi. Banyak yang komentarnya terhadap
hasil polling kurang tepat sasaran yang disebabkan lemahnya pemahaman
metodologi survei yang benar.
Perlu diluruskan di sini, bahwa
polling SMS maupun telepon yang dilakukan SCTV dan sejumlah stasiun televisi
lainnya bukanlah polling yang sebenarnya. Direktur National Opinion Research
Centre di Universitas Chicago, Norman Bardburn, bahkan tandas menyebutnya
sebagai "polling palsu". Dapat ditambahkan di sini variasi polling palsu
lainnya seperti polling melalui internet yang kerap diselenggarakan sejumlah
media dotcom. Lantas kok disebut polling palsu? Sebab polling jenis ini tidak
menggunakan prinsip probabilitas sebagaimana disebut di atas. Polling palsu
ini tidak mempunyai nilai apa-apa kecuali memenuhi rasa ingin tahu, kata
Bradburn.
Berbeda dengan polling yang sebenarnya, polling palsu
tidak bisa bisa digeneralisasi pada populasi. Dengan kata lain, hasilnya tidak
akan mencerminkan pendapat publik.
Dan buktinya sudah terjadi dalam
Pemilu1999. Dalam sebuah acara televisi tampil wakil dari tiga partai, di
antaranya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan (PK, sekarang
PKS). Selama acara dilangsungkan polling. Hasilnya diumumkan di akhir acara.
Mengejutkan, PK unggul dengan perolehan 90 persen. Menyedihkan, sebab dalam
pemilu sebenarnya perolehan suara PKB jauh lebih besar dari
PK.
Mengambil kesimpulan dari penjelasan di atas dan mengambil
hikmah dari Pemilu 1999, mempercayai hasil polling palsu bukan hanya
menyesatkan bagi pembuatan kebijakan pemenangan partai, tetapi juga
menghabiskan percuma entah berapa puluh atau ratus juta rupiah pulsa telepon
yang dikeluarkan untk mengirimkan SMS atau menelpon stasiun
televisi.//
|