atauuu,.... jauh dari semanggi... tp dekat shelter busway..
jadi ke semanggi-nya tidak memakan waktu..

daripada pusat ke dua.., hitung-2 biaya investasi..
karena,... kalaupun ada the so-called 'pusat kedua' yg mungkin terjadi
bukan penurunan jarak menglaju, tapi malah cross comuting.

jadi, sy lebih prefer 'rekayasa aksesibilitas' daripada dekonsentrasi...

salam,
-K-






2008/7/25 risfano <[EMAIL PROTECTED]>

>    Bung Eka, Bung Djarot dan milisters ysh,
>
> Terima kasih atas tanggapannya. Soal nilai lokasi dan 'nilai jual' (harga)
> ini memang bisa jadi diskusi menarik. Seperti kata Ekadj, mungkin Departemen
> Keuangan punya kepentingan langsung, karena land/location appraisal punya
> implikasi langsung dengan penetapan pola NJOP (nilai jual obyek pajak).
>
> Di dunia real estate terminologi yang umum digunakan ialah: "*highest and
> best use*" (*of land*). Dari istilah ini saja sudah tercermin adanya
> preferensi peruntukan dan value, yang kemudian dikonversi ke "price".
>
> Tentu semua sudah maklum kalau secara regional harga sebidang tanah di
> Jakarta, di Bandung, di Malang, di Parepare berbeda dan bisa sangat
> menyolok. Secara regional nilai lokasi umumnya ditentukan oleh prospek
> pertumbuhan (ekonomi) kawasan tersebut. Di samping faktor penunjang lainnya
> seperti pemandangan alam, keamanan dan lainnya.
>
> Namun di dalam satu kawasan (kota) juga bisa dilihat perbedaan harga yang
> menyolok. Pada kasus Jabodetabek misalnya, secara mudah sering digunakan
> radius jarak dari 'pusat' (Jembatan Semanggi?) 3km, 5km, 10km, 15km, 30km,
> dst. Pagi ini ada iklan "new town" yang lokasinya keluar dari pintu tol
> Jakarta- Cipularang km37. Pola harga yang paling dasar tetap ditentukan
> aksesibilitas dan kedekatan (*proximity*). Sehingga ini punya implikasi
> sosial karena faktor "*affordability*". Hanya yang mampu membayar yang
> bisa mendapatkan lahan dilokasi strategis.
>
> Kepentingan bisnis tentunya secara logis adalah "merekayasa" agar lokasi
> yang jauh dari pusat utama juga bisa ditingkatkan nilai dan harganya.
> Caranya dengan menciptakan daya tarik, sebagai pusat kedua. Kalau bukan
> pusat tandingan. Karena tingginya permintaan akan rumah, sarana usaha,
> sementara (hukum besi *real estate*) tanah jumlahnya terbatas. Maka
> peluang pasar selalu ada, hanya persaingan makin tinggi, sementara daya beli
> masyarakat umumnya terbatas. Namun untungnya ada sektor perbankan yang butuh
> 'menjual' penyaluran dananya.
>
> Dengan makin terbatasnya kemampuan pemerintah dalam intervensi, maka
> otomatis 'hukum ekonomi pasar' yang berlaku. Dengan implikasi, sulit untuk
> mempertahankan RTH, penyediaan ruang bagi kelompok sosial lemah, preservasi
> lingkungan bersejarah pada lokasi-lokasi 'strategis' di pusat kota. Oleh
> karena "*the highest & best use*" kawasan tersebut mengarah ke *commercial
> use*, atau hunian bagi kelas atas. Itukah realita "peruntukan lahan"
> perkotaan?
>
> Salam,
> *Risfan Munir*
>
>
>
> --- In [email protected], "ekadj08" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > Pak Djarot ysh,
> >
> > Memang dunia swasta cukup kreatif menemukan dan menciptakan 'nilai
> > jual'. Hanya pada umumnya masih dihitung secara 'flat' atau diskrit,
> > seperti contoh yang dikemukakan Bu Nita di Referensi; sehingga
> > perhitungan ini sering dipertanyakan konsumen. Sekali pernah saya
> > berkunjung ke pameran perumahan beberapa tahun yang lalu dan bertemu
> > stan satu kawasan perumahan di sekitar Karawaci yang menerapkan
> > perhitungan neraca tanah ini. Dua kapling rumah berdampingan pada suatu
> > blok bisa memiliki harga yang berbeda, padahal ukuran dan bentuk
> > bangunan sama. Namun belakangan ini saya kira sudah banyak juga
> > pengembang yang mulai menerapkan ini dengan variabel yang terbatas dan
> > sempit, misal: lebar row, jarak ke kapling ruko dan fasos, dst. 'Model
> > konsep'nya saya kira belum terumuskan sebagai kaidah umum, masih
> > kira-kira, dan pernah saya himbau di Referensi
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5283> . Hal ini
> > sebenarnya menarik sebagai suatu kajian, untuk diterapkan sebagai
> > standar. Saya juga diam-diam sedang mencoba membangun model ini, namun
> > sepertinya kewalahan juga dengan banyaknya variabel yang harus
> > dipertimbangkan.
> >
> > Sebagai contoh untuk coba-coba kita ambil kasus berikut: nilai lahan
> > sebuah rumah di lokasi x yang terletak pada jalan lokal beraspal dengan
> > row 6 meter adalah Rp 100 juta. Berapa 'pasti'nya nilai lahan tersebut
> > berubah bila kualitas jalan menjadi hotmix, atau diperlebar menjadi row
> > 9 meter, atau tersedia saluran sewarage terbuka atau tertutup, dst?
> >
> > Sementara demikian. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Pak Ekadj dan semua sahabat, values tersebut dalam pandangan para
> > pengembang memang sama dengan terminologi "selling point", seperti yang
> > pernah saya temukan di tahun 1996 ketika melakukan pengambilan data di
> > sebuah real estate besar di Jakarta. Mungkin mereka adalah "mbah-nya"
> > real estate di Indonesia. Mereka sangat senang menggunakan terminologi
> > selling point itu, sebab memang paradigma jual-beli yang mereka pakai.
> > Itu sama artinya dengan yang Pak Ekadj maksudkan. Kenapa begitu
> > terlambat menanganinya ya Pak ?
> > >
> > > Salam,
> > > Djarot
> > >
> > > ---------------------
> > > --- On Sun, 7/20/08, ekadj08 4ekadj@ wrote:
> > >
> > > From: ekadj08 4ekadj@
> > > Subject: [perkotaan] Re: Pemanfaatan Ruang (3): Strategi real-estate
> > menyiasati jarak
> > > To: [email protected]
> > > Date: Sunday, July 20, 2008, 10:54 PM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Pak Risfan ysh,
> > > Apa yang bapak sampaikan sebenarnya merupakan 'manajemen value' dalam
> > konteks 'land value'. Saat ini memang baru pihak swasta (: pengembang)
> > yang mendalami mengenai land value ini, dan sayangnya juga belum
> > didalami oleh lembaga-lembaga penelitian, institusi pendidikan, dan juga
> > institusi pemerintah.
> > > Value itu dapat dikuantifikasi tidak saja berdasarkan lokasi, juga
> > faktor-faktor lain; seperti yang diungkapkan : kehijauan, kemandirian,
> > keamanan, dst. Dalam praktek real-estat di Indonesia juga dikembangkan
> > masalah fengshui, kelengkapan fasilitas, pemandangan, akses, dll.
> > Seharusnya juga diperhitungkan juga faktor negatifnya, misal: dekat
> > dengan pembuangan sampah, sutet, genangan banjir, dll. Bila hal ini
> > dapat 'diukur', sebenarnya dapat dihitung secara exact land value
> > tersebut; dan kita pun dapat memetakan land value itu untuk kawasan yang
> > luas. Sayangnya justru pekerjaan ini mulai dikerjakan oleh Depkeu tanpa
> > rujukan RTRW.
> > > Sementara demikian, salam.
> > > -ekadj
> > >
> > >
> > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "risfano" risfano@ wrote:
> > > >
> > > >
> > > > Menyiasati lokasi yang 'jauh'
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > "Location, location, location."
> > > >
> > > > Begitulah semboyan dunia real-estate (properti), itu pula yang
> > > > mempertemukannya dengan dunia planning (PWK). Tulisan ini mencoba
> > > > memahami cara pengembang menyiasati lokasi.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Lokasi yang yang strategis, akses yang tinggi ke berbagai "pusat"
> > > > pelayanan, dan terutama CBD, temat kerja - menimbulkan nilai lahan
> > yang
> > > > tinggi. Implikasinya adalah pada harga tanah di lokasi tersebut.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Pengembangan real-estate di Jabodetabek sudah begitu meluas.
> > Akibatnya,
> > > > proyek baru umumnya berada di lokasi lebih dari 30 km dari Monas.
> > D.p.l
> > > > nilai lokasinya relatif rendah.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Maka untuk menyiasati kendala jarak tersebut, diciptakanlah
> > nilai-nilai
> > > > lain untuk menarik konsumen. Sebagaimana dilaporkan Kompas
> > (17-7-2008)
> > > > antara nilai daya tarik yang diciptakan itu antar lain:
> > > >
> > > > * Konsep hijau, yaitu menampilkan citra hijau, pertamanan,
> > pepohonan,
> > > > untuk menonjolkan citra kepatuhan pada prinsip sustainable
> > development.
> > > > Ini penting karena, pertama, menunjukkan kenyamanan hunian. Kedua,
> > > > memberikan 'jaminan' kepada investor bahwa investasi jangka panjang
> > > > mereka di properti akan meningkat nilainya;
> > > > * Konsep 'kemandirian' . Karena lokasinya jauh dari CBD konvensional
> > > > di Jakarta, maka diterapkan konsep kota mandiri (self-contained new
> > > > town) agar semua kebutuhan warga tercukupi. Sehingga calon penghuni
> > dan
> > > > investor tidak kuatir, bahkan bisa melupakan faktor jarak. Hanya
> > dalam
> > > > kenyataan tempat kerja tidak mengikuti tempat tinggal, sehingga yang
> > > > terjadi umumnya dormitory town saja. Dengan akibat arus lalu lintas
> > ke
> > > > Jakarta kian padat, macet.
> > > > * Konsep keamanan. Ini menyiratkan kontradiksi. Karena kenyataannya
> > > > suami istri tempat kerjanya tetap jauh, maka butuh keamanan. Maka
> > > > lingkungan perumahan saat ini kian syarat sistem keamanan, baik yang
> > > > sederhana dengan 'portal' dan menambh 'satpam'. Maupun yang
> > menggunakan
> > > > teknologi mutakhir, dengan CCTV dst.
> > > >
> > > > Hanya, komentar dari ahli, belum semua menerapkan 'kemandirian'
> > dalam
> > > > pengelolaan sampah. seharusnya pengembang sudah menerapkan 3R
> > (reduce,
> > > > reuse, recycle). Kedua, seharusnya pengembang juga bisa menyerap air
> > > > hujan hingga 75% misalnya. Itu dengan membangun sumur resapan,
> > > >
> > > > Kolam penampung air, sehingga tidak membebani lingkungan lebih luas.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Apakah konsep-konsep tersebut berhasil menarik konsumen? Tampaknya
> > iya.
> > > > Ini karena nature dari bisnis real estate tampaknya: ketersediaan
> > lahan
> > > > terbatas (tetap), sementara yang membutuhkan meningkat terus, karena
> > > > kohort penduduk dan urbanisasi. Sehingga soalnya tinggal konsumen
> > pilih
> > > > lingkungan yang mana, tipe apa, kelas harga berapa.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam,
> > > >
> > > > Risfan Munir
> > >
> >
>
> 
>



-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F : +62 21 7997039
INDONESIA

Kirim email ke