Artikel:  Bagaimana Merekonstruksi Masa Depan Bangsa Ini?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
                  
Kelihatannya tantangan yang dihadapi Sumber Daya Manusia kita semakin 
mengkhawatirkan saja. Khususnya dalam konteks mempersiapkan generasi masa 
depan. Bukan saja karena sudah sejak lama kita menengarai kelemahan sekolah dan 
pemerintah untuk mempersiapkan SDM terampil yang siap bersaing di dunia kerja. 
Bahkan, akhir-akhir ini situasinya makin mengerikan saja karena entah disadari 
atau tidak; menorehkan warna buram potret masa depan generasi muda kita. 
Ironisnya, kedua instansi berwenang itu  seolah tidak begitu memperdulikannya.
 
Pagi itu, saya baru selesai mengisi acara on air di sebuah radio di Jakarta. 
Sekitar jam 9 pagi saya meninggalkan studio. Dijalan, saya dihentikan oleh 
lampu merah perempatan. Jadi, saya bisa leluasa melirik kiri-kanan. Lalu, mata 
saya tertahan oleh kerumunan orang yang sangat banyak dihalaman sebuah pusat 
perbelanjaan. Agak aneh juga kalau pagi-pagi begini sebuah mall sudah diserbu 
begitu banyak orang. Apakah mungkin sedang ada diskon besar-besaran?
 
Saya keliru, karena itu bukan kerumunan orang yang hendak rebutan diskon. 
Melainkan penonton konser musik group band ternama. Saya kagum pada industri 
musik masa kini. Bahkan mereka bisa melakukan konser sepagi ini. Disisi lain, 
saya melihat ironi. Karena ternyata penontonnya adalah para remaja yang 
seharusnya berada diruang-ruang sekolah menggembleng diri. Ada apa ini? Rasa 
perih seperti mengiris-iris hati. Membayangkan betapa beratnya persaingan yang 
akan mereka hadapi nanti.  
 
Setelah peristiwa itu, secara tidak sengaja saya melihat tayangan siaran 
langsung konser musik di sebuah stasiun televisi. Jam sembilan tigapuluh pagi. 
Lalu kejadian di mall itu terbayang lagi. Sekarang saya melihat benang 
merahnya, karena ternyata acara seperti itu difasilitasi oleh media televisi. 
Lalu saya memindahkan chanel tivi. Saya terkejut sekali lagi. Karena ternyata, 
ada tivi lain yang melakukan siaran langsung serupa. Penonton yang 
jingkrak-jingkaknya juga sama-sama remaja. Lalu saya memindakan channel tivi, 
sekali lagi. Dan kali ini, saya seperti terkena alergi. Karena, ada tivi lain 
juga yang menyiarkan program dengan format yang sama. Sekarang, saya mulai 
menemukan sebuah link. Yaitu sebuah sistematika yang menghubungkan industri 
musik dan hiburan, uang, popularitas, serta media massa, dalam mendorong proses 
migrasi anak dan remaja kita; dari ruang-ruang kelas, menuju ke arena 
jingkrak-jingkrak di pagi hari.
 
Sungguh, sekarang saya sangat sedih. Mengapa di negara kita hal yang semacam 
ini dibiarkan terjadi. Tanpa ada yang peduli. Atau secara sungguh-sungguh 
mengawasi. Disaat bangsa China berada dipuncak gairah untuk menembus 
benteng-benteng diseluruh penjuru bumi, generasi muda kita dinina bobokan oleh 
buaian hura-hura secara membabi buta. Lalu, saya bertanya dalam hati; 
bagaimanakah nasib masa depan sumber daya manusia kita?
 
Jaman ayah saya masih remaja, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan 
karena banyaknya lowongan. Namun lebih karena sedikitnya orang berpendidikan. 
Itu sekitar 40 tahun silam. Jaman saya lulus sekolah, mencari pekerjaan dengan 
imbalan sesuai dengan harapan sungguh tidak gampang. Itu sekitar 15 tahun yang 
lalu. Ketika saya memilih untuk berhenti bekerja, dan bertekad untuk mencoba 
mandiri; saya tahu bahwa banyak karyawan yang berjibaku untuk sekedar 
mempertahankan pekerjaan mereka. Itu baru dua belas bulan ditambah 3 minggu 
yang lalu. Biang keladi utamanya adalah; ketatnya persaingan bisnis, suramnya 
dunia usaha, dan berjubelnya pengangguran. 
 
Tidak bisa dibayangkan betapa semakin ketatnya mencari pekerjaan lima atau 
sepuluh tahun yang akan datang. Apalagi kita tahu bahwa sebentar lagi, 
persaingan tidak hanya terjadi melawan bangsa sendiri. Melainkan dengan sumber 
daya manusia asing yang semakin banyak berdatangan kesini. Menyadari hal ini, 
saya merasa semakin perih dihati. Membayangkan anak-anak yang dibujuk untuk 
berjingkrak disaat seharusnya mereka berlatih mengasah otak.
 
Mungkin saya sudah terlampau kuno. Sehingga mudah kaget melihat orang berpesta. 
Tapi tidak juga. Karena, mereka yang pernah melihat saya dilantai dansa tentu 
tahu bahwa; jika saya sudah berdansa, saya sering lupa pada usia. Tetapi, saya 
tidak melakukannya dipagi hari dimana seharusnya saya bekerja. Sehingga, saya 
percaya bahwa merayu anak-anak sekolah dengan acara-acara semacam itu adalah 
kekeliruan besar. Entah atas nama eskpresi bermusik. Kebebasan siaran 
terlevisi. Ataupun kerja keras para produser dan event organiser untuk 
meningkatkan pendapatan. Jika kita lebih mementingkan penghasilan dan 
persaingan bisnis dengan mengorbankan masa depan generasi muda kita; bagaimana 
kita bisa merekonstruksi masa depan bangsa ini?
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“SS-Pro™ Personality Leadership Strategy” Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
 
Catatan Kaki: 
Selamat pagi Pak Menteri Pendidikan RI. Selamat pagi para produser televisi. 
Selamat pagi para pemusik. Selamat pagi para pendidik. Apakah kita masih peduli?
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

Kirim email ke