Itu tandanya bangsa Indonesia masih jauh di bawah Malaysia dalam hal
colong-mencolong atau tipu menipu. Dengan perkataan lain, orang Indonesia
ternyata lebih goblok daripada Malaysia dalam hal ilmu kelicikan.
Ahh...jangan omong soal yang lain, Kalah juga. Teknologi kalah, kesejahteraan
apalagi. Kita cuma bisa berkoar-koar sebagai bangsa besar, tetapi tidak punya
kemampuan memadai untuk mempertahankan jadi diri dan citra diri.
Kita cuma bangga punya peninggalan adiluhur seperti Borobudur dan Prambanan,
tetapi kalah dalam paromosi, dan tidak bisa membangun gedung atau menara
semisal Petronas yang tinggi dan megah itu.
Jangan banggakan kuli-kuli kita yang mencampur semen membangun gedung megah
itu. Oh, itu penghinaan. Mosok cuma bisa jadi kuli? Waktu zaman Belanda kita
cuma jadi kulinya Daendels dan Van den Bosch. Waktu zaman Jepang kita jadi
romusha. Kuli juga. Kenapa kok sekarang jadi kuli lagi di negara jiran yang
luasnya hanya setengah Pulau Sumatera?
Kenapa kita kalah dalam pengadilan internasional memperebutkan Sipadan dan
Ligitan? Karena kita ternyata bodoh dalam berpolitik, sebab tak mampu
berkomunikasi dan berbahasa Inggris. Karena kita tidak mampu memperlihatkan
jati diri kita kepada dunia internasional, bahwa wilayah ini, dan tanah ini
memang milik kita.
Yang melakukan pembalakan liar itu siapa? Dalangnya Malaysia, dan kita cuma
bisa jadi kuli yang menebang pohon itu. Kita dibodohkan lagi.
Di Indonesia ini, kita hanya bisa peras bangsa sendiri, tipu bangsa sendiri,
nyolong milik bangsanya sendiri, tetapi tidak mampu berbuat banyak untuk
mencolong milik Malaysia, atau menipu orang Malaysia.
Ke Malaysia kita cuma bisa jadi budak, kuli, jongos, dan babu. Tinggal di
rumah bedeng, di situ kita perkosa perempuan dari bangsa sendiri pula. Mengapa
kita tidak mampu memperkosa istri majikan di Malaysia itu? Oh, itu penyanyi
Siti Nurhaiza cuma seorang diri dari negeri jiran. Kita sanjung-sanjung dan
terlena sampai bodoh ketika dia bersenandung. Eh, tahu-tahu uang kita habis
berpindah juga ke Malaysia.
Lalu, apakah kehebatan kita? Kita adalah bangsa yang paling beragama, tetapi
kita juga lelbih terkenal sebagai bangsa yang paling korup di dunia
internasional. Korupsi itu pun bukan dilakukan di negeri Malaysia, tetapi kita
peras bangsa sendiri juga.
Bagi saya, orang yang bercuap-cuap menghina Malaysia itu justru pengecut yang
tak mengenal diri bangsanya sendiri. Yang disebut bangsa "yang malu-maluin" itu
sebenarnya adalah kita juga. Kenapa kita tidak bisa seperti Malaysia? Malaysia
bisa menipu kita, kenapa kita tidak bisa menipu Malaysia?
Sebentar lagi kita berhari raya Idulfitri. Habis berminal aidin wal faidzin,
dan bermaaf-maafan, kita lupa semua. Yang tinggal adalah akal bulus untuk
menjarah lagi di negeri sendiri, menghabiskan uang rakyat dan negara dengan
berkorupsi ria, memeras bangsa sendiri.
Maaf seribu kali maaf...! Saya tidak bermaksud menyakiti Anda sekalian yang
sedang memusuhi Malaysia. Saya sungguh benci kelakukan Malaysia, tetapi saya
SANGAT MALU melihat tingkah kita sendiri.
Dengarkan Ebiet G Ade bersenandung:
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
Hohohohoh Hohohoho, Haha haha....Hahahahah
Dududu Dududu duuuuu. Dudu dududu Hehehe hehe...!!!!
IUR
whiskydoo2000 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
kita udah kehilangan Pulau Sipadan ... belum lagi alat musik angklung
dan batik yang seenak2nya diaku sama negara yg katanya serumpun.
sekarang lagu "Rasa Sange" mau juga dicaplok sama Malaysia. kenapa sih
... pemerintah gak pernah belajar dari masalah yang kemarin2 ... ??? apa
perlu kita kembali ke jaman Bung Karno ... GANYANG MALAYSIA
--- In [email protected], urban opini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Malaysia tuh pintar n licik
> Ketika Menbudpar kita menanyakan hal ini
> justru pihak sana yang minta "Pembuktian Terbalik" ghuhahaha
> Apa benar kalau lagu "Rasa Sayange" milik Indonesia
> Bukan sebaliknya....
>
> Kok Menbudpar mengiyakan permintaan Malaysia
> Kok... kita yg mesti repot-repot mencari pembuktian
> sementara Malaysia ongkang-ongkang kaki merasa tidak bersalah
> Walah....
>
> Kalau memang demikian...
> Terlanjur basah neh...
> Yuk... rame-rame kita ngumpulin bukti
> Dari musisi... tuh dikoordinasi sama Andre Hehanusa, Christ
Pattikawa dan Enteng Tanamal
> Musikolog juga dikumpulin deh... gimana kalau Bang Rizaldi n the
genk
> Wartawan hiburan... nah urusannya bos Ludi, Remy Soetansyah, Miller,
Bens Leo, Denny Sakrie n the genk untuk ngumpulin data...
> Nah... semuang ngumpul dan berkoordinasi deh.
> Kita lawan tuh negara tetangga
>
> yuk... kita buktikan kalau kita ini masih punya harga diri (yang
tersisa)
>
> Urban
>
> Note: forwarded message attached.
>
>
> ---------------------------------
> Got a little couch potato?
> Check out fun summer activities for kids.
> refleksi: Kalau ada arkif musik, mungkin bisa dibuktikan dengan
piring hitam musik hawaian Rudy Wairata atau lain yang dibuat pada
tahun 1950-1960an. Tiap anak atau orang di Maluku pasti bisa menyanyi
lagu tsb. Apakah di Malaysia juga demikian.
>
>
> HARIAN ANALISA
> Edisi Kamis, 4 Oktober 2007
>
> Malaysia Minta Bukti 'Rasa Sayange' Lagu Milik Indonesia
>
> Jakarta, (Analisa)
>
> Mendbudpar Jero Wacik mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri
Kebudayaan Malaysia tentang lagu Rasa Sayange.
>
> "Mereka bilang, kalau Indonesia bisa membuktikan, mereka akan
melakukan sesuai kewajibannya," ujar Jero Wacik kepada wartawan sebelum
menghadiri rapat kabinet di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara,
Jakarta Pusat, Rabu (3/10).
>
> Sebelumnya Menteri Kebudayaan dan Menteri Pariwisata Malaysia
menyatakan bahwa lagu yang di negeri jiran bernama Rasa Sayang itu
adalah lagu rakyat yang biasa terdengar di Kepulauan Nusantara (Melayu)
yang merupakan warisan leluhur. Jadi bukan milik Indonesia semata.
>
> Jero menuturkan, menggugat kepemilikan lagu tersebut bukan perkara
mudah. Apalagi Indonesia tidak punya bukti. "Kepedulian kita pada hukum
(hak cipta) masih rendah," kata Jero.
>
> Jero mengaku dirinya telah mengecek lagu Rasa Sayange yang digunakan
Malaysia sebagai tema kampanye pariwisata Truly Asia.
>
> "Saya cek no name. Kalau didengarkan lagu ini memang seperti lagu
Ambon, Manado, Melayu, karena budayanya mirip-mirip," ujarnya.
>
> "Sekarang bagaimana kita buktikan kalau itu karya kita. Kita masih
mengumpulkan data," ujarnya.
>
> Jero menyatakan puluhan ribu karya budaya belum didaftarkan hak
ciptanya. "Saya berkali-kali minta para seniman kalau punya karya budaya
cepat didaftarkan agar tidak mudah diklaim. Dan kalau diklaim, kita
mudah menuntutnya," paparnya.
>
> "Saya minta para seniman Ambon, beri saya bukti. Kalau ada, agar bisa
kita gunakan. Tanpa bukti kita akan sulit," demikian Jero
>
---------------------------------
Don't let your dream ride pass you by. Make it a reality with Yahoo! Autos.