Akmal, Tanzil, Bung, MJ, thanks atas kata2 yang selalu mendorong motivasiku. Yang mengejutkan, Pak Budi Darma juga nge-sms ngucapin selamat. Dan tentu saja Cik Lan Fang, si empunya Persebaya. Kalo Endah (selalu) bilang gini: wayang lagi ya. Hehehe.
--- Bung Kelinci <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Wah, hebat Kang Her... > > Anda piawai menulis cerita dengan setting dunia > pewayangan, something quite difficult for others. > > BK > > hermawan aksan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ini cerpen di Jawa Pos edisi Minggu, 10 > Desember 2006. Setelah Lanfang menyerbu Bandung, aku > ternyata baru bisa menembus Surabaya hari ini. > > > http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=260845 > > Madirda > > > Cerpen Hermawan Aksan > > SUNGGUH malang menjadi perempuan, pun di zaman > ketika manusia kadang lebih perkasa dibanding dewa. > Lihatlah Retna Anjani, yang terpaksa memencilkan > diri di tepi telaga Madirda yang sunyi, menjalani > tapa tanpa busana, hanya karena sebuah kutuk yang > tak dia pahami. Tapa yang membuat para dewa pun tak > tahan memandangnya. > > Bayangkan tubuh langsat tanpa cacat, duduk bersila, > dengan rambut hitam yang terurai menabiri payudara > dan bagian tubuhnya yang paling rahasia. Siapa yang > tak tergila-gila oleh pendar yang memancar > memantulkan cahaya angkasa? > > Dia tak pernah meminta cupu itu. Cupumanik Astagina. > Dia menerimanya dari sang ibu, Retna Windradi, > sebagai sebuah hadiah bahwa dia telah menjelang usia > dewasa. Dia juga tak tahu, dan tak ingin tahu, dari > mana sang ibu memperolehnya. Dia hanya merasa senang > bukan karena mendapat cupu, melainkan karena dia > sudah dianggap dewasa, sudah merasa menjadi wanita > sempurna. Pandanglah, dia memang wanita yang sangat > jelita. > > "Jangan kauperlihatkan kepada siapa pun, apalagi > kauberikan," pinta sang ibu. "Kalau pesan ini sampai > terlanggar, suatu kejadian yang tak diharapkan akan > terjadi." > > Wanti-wanti seperti itulah yang dia terima ketika > Batara Surya memberikannya sebagai tanda cinta. > > Sayangnya, mungkin karena cahayanya yang memancar ke > sekitar, pusaka kadewatan itu menarik juga perhatian > kedua adiknya --adik kembarnya, Guwarsi dan Guwarsa. > Bukankah lelaki selalu merasa lebih berhak terhadap > warisan para leluhur? Keduanya merebut cupu itu, dan > ketiga kakak beradik itu saling berebut, tanpa > mereka sadari kemudian bahwa cupu itu tiba-tiba > berada di genggaman sang ayah, Resi Gotama. > > "Siapa yang memberikan cupu ini kepadamu?" > Anjani tak berkata-kata. > "Kan kusumpah siapa pun yang berkata bohong." > Anjani pun mengaku dengan kata-kata yang lebih mirip > bisikan. > > Resi Gotama menatap tajam Retna Windradi. O, ia tahu > siapa yang memberikan benda dewata itu. Ia pun tahu > apa yang terjadi dengan Windradi saat-saat ia tengah > bermesu diri. Sang Resi tahu karena ia bukan manusia > biasa, melainkan keturunan Batara Ismaya, yang bisa > tahu segala hal. Namun Resi Gotama ingin mendapat > pengakuan secara jujur. > > "Dari mana kau mendapatkannya?" > Retna Windradi terdiam. Juga ketika Resi Gotama > bertanya untuk kedua kalinya. > "Bukankah ini tanda cinta Batara Surya?" > > Retna Windradi mengangkat wajahnya sejenak, tapi > bibirnya tetap terkatup rapat. Inilah puncak > kesedihan seorang Resi Gotama, lelaki tua yang tak > pantas bersanding dengan seorang bidadari > swargaloka, meski itu hadiah yang layak ia terima > sebagai balas jasa dari para dewa. > > "Tiga kali aku bertanya dan kau tetap diam saja. Kau > sungguh seperti tugu." > Halilintar menggelegar dan cahaya menyilaukan nyaris > membutakan. > Di hadapan mereka, Retna Windradi berubah menjadi > batu. > > Ah, mengapa perempuan selalu tak kuasa untuk > melawan? Bukankah bukan salahnya kalau Dewi Windradi > dilimpahi cinta sang Surya? Dia terlahir sebagai > perempuan jelita dan Resi Gotama terlalu renta untuk > bisa memberinya cinta. Bagaimana pula dia, seorang > perempuan yang mendamba, menolak cinta seorang > batara? > > Namun Resi Gotama adalah lelaki dan lelaki pantang > dikhianati. Maka dengan menyalurkan tenaganya ke > satu tangan kanan, ia lemparkan cupu itu ke angkasa, > meninggalkan kesiur suara yang menyayat telinga. > > Guwarsi dan Guwarsa berebut cepat memburu arah > lemparan. > Anjani terseok-seok di belakang. Dia tak mau > kehilangan cupu itu. Cupu miliknya. Cupu yang > diberikan sang ibu karena saatnya sudah tiba. "Cupu > ini mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam > kasuwargan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, > melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan > nyata dan jelas gambaran swargaloka yang serba > polos, suci, dan penuh kenikmatan. Sedangkan dari > tutupnya akan dapat kaulihat dengan jelas seluruh > kehidupan semua makhluk yang ada di jagat raya. > Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik > Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang > kauminta dan menjadi keinginan pemiliknya," kata > sang ibu waktu itu. > > Namun kini, di depan mereka membentang sebuah > telaga, dan mereka menyangka cupu itu jatuh ke > dalamnya. Mereka tidak tahu bahwa justru cupu itulah > yang telah berubah menjadi telaga. > > Guwarsi dan Guwarsa terjun ke dalam telaga, > sedangkan Anjani hanya membasuh muka. Ketika muncul > kemudian, Guwarsi dan Guwarsa berubah menjadi > sepasang kera, sedangkan Anjani hanya berwajah dan > bertangan kera. > > Ketiganya hanya bisa menangis dengan sesal yang > menggumpal. > Tanpa kata, Guwarsi dan Guwarsa menyuruk ke dalam > hutan, sama-sama hendak menjalani tapa, menebus rasa > sesal dan dosa. > > Di tepi telaga, Anjani melepaskan semua busananya, > menguraikan rambutnya, dan duduk bersila seraya > mengheningkan cipta. > > Bagaimana mungkin dia menghadapi dunia dengan wajah > mengerikan seperti itu? Dia memilih mati di tepi > telaga apabila tak memperoleh kemurahan dewata > sehingga wajahnya pulih kembali seperti sedia kala. > Maka, hari demi hari lewat, bulan demi bulan pun > berlalu, Anjani bertekad meneruskan tapanya hingga > penghuni surga mendengar semua doanya. Dia hanya > menelan makanan yang jatuh di hadapannya dan dia > minum embun yang membasahi bibirnya. > > Namun lihatlah, seluruh permukaan tubuh telanjang > Anjani tetap memancarkan sinar keindahan yang tiada > tara. Apalagi kalau kita memandangnya dari > ketinggian dan sudut tertentu di angkasa. Dada siapa > tak berdebur menikmati pemandangan yang demikian > menggairahkan? > > Bahkan Hyang Girinata, dewanya para dewa, pun tak > kuasa menahan gejolak dadanya. Padahal, dia datang > hanya untuk meluluskan permohonan Anjani, yang > doanya sudah memenuhi udara surga. Dia pun datang > diiringi Batara Narada dan para dewa lainnya. Namun > justru karena itulah, karena kedatangan para > dewalah, udara yang menyelubungi tapa Anjani menjadi > benderang. > > Dan semua dewa terkesima. > Tubuh sempurna Anjani memantulkan cahaya para dewa. > Pahanya yang kuning langsat sungguh sangat memesona > siapa pun yang menatapnya. Alangkah indahnya > pemandangan itu. Dan tanpa disadari Anjani, alangkah > dahsyat akibatnya. > > Para dewa belingsatan tak tahu hendak berbuat apa, > menimbulkan angin yang membadai di angkasa. > > Hyang Girinata pun tak kuat menahan badai berahinya. > Dia hanya bisa terpana dan air kelelakiannya > memancar seperti permata, jatuh membasahi selembar > daun sinom yang tengah melayang jatuh. > > Angin masih bertiup kencang dan daun sinom > meliuk-liuk sebelum jatuh di paha Anjani. > > Anjani mengunyah daun sinom dan menelannya. > Bulan demi bulan, perut Anjani membesar tanpa dia > ketahui sebabnya. Dia baru menyadarinya ketika > dirasakannya sebentuk makhluk yang menendang-nendang > dinding rahimnya. > > "Ah, apakah aku mengandung sesosok bayi? Kalau > benar, siapakah yang melakukannya? Lelaki mana yang > tega menghancurkan hidup perempuan tak berdaya? Oh, > apakah ia, siapa pun lelaki itu, melakukannya dalam > ketidaktahuanku? Duhai, alangkah terkutuknya aku?" > > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Cheap talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates. http://voice.yahoo.com
