Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang

Rabu, 15 Juli 2009 | 03:32 WIB

Oleh *Sonya Hellen Sinombor*

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi,
tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota
Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa
menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah
dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo,
tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen,
Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun
tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang
datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan
27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak
mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa,
untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa
dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya
bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar,
ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan
dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu
sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia
juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih
uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan,
para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga
tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter,
lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan
dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak
terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang
untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera,
padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan
resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya
menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien
atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo,
petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat
tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan
ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu
dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari
dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu
membebankan biaya perawatan kepada Lo.

*Kerusuhan 1998*

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu,
relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak
suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari
media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang
tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu
biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo
dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang
membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada
Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh
masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak
membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan,
terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan
itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis.
Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka
praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,”
cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya
tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke
tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian
berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?”
ucapnya.

*Anugerah*

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita,
seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya,
dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini
telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah
kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi
dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya,
siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus
terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku
Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang.
Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu
karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15
tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan.
”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya
sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat
kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak
menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang
tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian
pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa
lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia
dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya
tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa
banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies
(55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan
tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam.
Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu
ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria
Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: -
Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen,
Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/15/03321720/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang


      

Kirim email ke