At 01:17 PM 11/18/01 +0700, Sulis'tp wrote: >On 17 Nov 01, at 11:08, Sulis'tp wrote: > > tapi mengingat demand dunia yg tinggi thd ID, dimekarkan saja domain utk > > kebutuhan global. misalnya dibikinin .ltd.id, .inc.id, .com.id > > kasih lisensi ke swasta global yg mau ngelola. > > 80% buat swasta (teknologi regisrar dia, promo dia), 20% buat IDNIC (stake > > holder) > >tidak demikian mekanismenya. >mekanisme yang lebih baik adalah model seperti ICANN >dimana ada banyak registrars. nanti IDNIC juga mengarah ke sana. >infrastruktur (teknis, network, hardware, software, >aturan, dll.) yang harus dan sedang dipikirkan ke sana. > >-- budi
Pak Budi & forum Yth., Maksud usulan saya ttg pemekaran domain ID utk global itu berbeda dg pengembangan program registrar. Pemekaran level dua spt inc.id, ltd.id, atau com.id itu sbg offer kalo ada perusahaan lagi yg mau bayar lisensi USD 10 juta itu. Terima aja, tapi jangan TLD-ID-nya yg mentah2 dikasih, tapi level dua itu aja - kalau masih mau. Karena, berapapun banyaknya registrar, tetap terpentok beberapa hal prinsipil al. sbb: - CO.ID harus berbadan hukum Indonesia (kecuali aturan ini ditiadakan) - WEB.ID harus minta permisi pemilik CO.ID yg namanya sama duluan - Batasan nama geografis - dan hal2 lain yg sebetulnya membuat domain ID memang SPESIFIK untuk LOKAL Indonesia Seberapapun banyaknya registrar dan secanggih apapun sistem otomatisnya, semua akan bottleneck di sisi sentral IDNIC Pusat (bukan salah IDNIC lho, tapi krn sifat lokalisasi ID yg utk Indonesia itu). Lokalisasi .ID dg aturan2 utk kepentingan spesifik kebutuhan internet di Indonesia perlu dipertahankan. Di satu sisi, demand global thd domain ID yg berpeluang menyusul sukses cTLD-TO (utk Tonga) bisa dikomersilkan tanpa berbenturan dg kepentingan spesifik CO.ID, WEB.ID, dll itu. Kalau maksudnya ini dipahami, mekanisme bukan masalah. Begitu ada yg tertarik lisensi level dua domain ltd.id, inc.id, com.id, web.id (coba saja tawarkan USD 100 juta), my.id, gov.id (go.id tetap utk pemerintah Indonesia), dll - harga cocok, kasih lisensinya. Jadi bukan seperti ICANN dan ratusan registrar-nya. Tapi IDNIC seperti Internic yg memberi lisensi ke swasta global utk mengelola domain (bukan registrar , yg memasarkan domain saja, tapi MENGELOLA), seperti NEW.NET, dotCC, pengelola .TO, dll. Jadi misalnya ada perusahaan di Malaysia - misalnya "Global ID Domain Sdn. Bhd." yg dikasih lisensi oleh Pak Budi utk jadi pengelola ltd.id, inc.id, com.id dengan lisensi USD 50 juta, perusahaan itu full mengelola ltd.id, inc.id, com.id terpisah dari IDNIC (yg dalam hal ini bersifat spt Internic). Perusahaan "Global ID Domain Sdn. Bhd.' itu yang nantinya mengembangkan program registrar sendiri dengan panel otomatis segala macem yg tidak terikat aturan2 utk CO.ID, NET.ID, dll yg tetap spesifik utk internet Indonesia. Orientasi global dan lokal ini yg perlu dibedakan. Karena hal2 prinsipil yg membuat CO.ID, NET.ID, GO.ID, AC.ID restricted emang perlu dipertahankan. Dan karakteristik yg begitu tidak bisa ditembus oleh program dg otomasi secanggih apapun. Sementara yg versi global, bisa dilepas tanpa dipusingkan lagi oleh IDNIC. Yg ini benar2 First In First Served - gak ada cek2an legalitas formal dll. Contoh paling sederhana: WEB.ID Begtiu web.id dibebaskan dari segala aturan apapun dan hanya 1 aturan yg berlaku: "minta duluan dapat duluan" (MD3), lepas saja ke global. Nah, kalo begini, dibikinin panel otomatis yg canggih kagak percuma dah... Network Solutions (yg masih mahal), dll juga bakalan demen dah ngejualin tuh domain... (Paling ganjalannya harga modal dari IDNIC - jangan kemahalan spt dotTV krn WEB.ID kan level dua). Sekedar sumbang saran... Sulis'tp -- STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED] START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

