Benar pak, tapi kiranya perlu diliat dulu maksud dari ngomong itu sendiri,
apakah ngomong = :
1. Kritik
2. Minta ijin, punten, kulonuwun, spada :-)
3. Ngomel
4. Ngeluh
5. Menceritakan cerita orang, kelakuan orang (=ngomongin ?).

wah banyak sekali arti dari ngomong pak....

>apalagi media phobia khan itu jaman2 orde baru, paradigma lama

Iya pak tapi dari sisi wacana berita memang saya kira sekarang sudah cukup
merdeka, tetapi dari sisi wacana (atau mungkin lebih tepat disebut wawasan
disini ya) yang mencerna berita itu sendiri tiap komunitas beda-beda, ada
yang hati-hati, kreatif, atau terhasut.......saya kira ini perlu disurvey
dulu oleh media supaya nantinya tak menimbulkan kasus satu berita yg
menyulut sebuah tindakan anarkis disebuah daerah......Soalnya pemerintah dan
masyarakat mampu nantinya yang harus iuran untuk nyumbangin korban anarkis
tadi :-).....Tapi kalau masalah IT saya kira tak begitu dikenal masyarakat
luas jadi jangan hawatir kalau mau nulis berita ya tulis saja karena yang
bacanya juga masih banyak yang belum ngerti :-),  kalo soal tanah sudah
pasti bakalan ada yang berantem kalau beritanya salah pak........:-)  itu
termasuk item sensitif masyarakat kita....bisa jadi hukum pertanahan kita
masih lemah dan memprioritaskan pembangunan saja, dan yang kecil tergusur
biar saja :-).

>tkti tidak jadi dibubarkan, multimedia boleh dimasuki oleh investor >asing
>dan sk 2,4 ghz direvisi, bukankah itu salah satunya karena >pemberitaan
oleh
>media dan lalu menjadi pembahasan bersama oleh publik?

Kalau yang ini saya gembira pak, karena ruang pengambilan kebijakan
dilembaga itu sepertinya kurang memperhatikan kepentingan masyarakat atau
mungkin sudah penuh sesak dengan sumpelan investor jadi kurang sensitif pada
publik, padahal produk dari lembaga itu akan dibeli oleh masyarakat kita
sendiri hehehehehehe.......

Saya mendukung kalau ada sebuah solusi hasil dari diskusi di milis di pres
riliskan agar masyarakat juga tahu dan mulai banyak yang mengerti IT atau
soal IT. Karena media masa juga sudah lama jadi ajang belajar mereka
termasuk saya dulu hehehehehe, tapi suka kesel karena materinya suka
bolak-balik ndak selesai-selesai akhirnya jadi malas bacanya........karena
kurang jelas awal dan akhirnya hehehehehe.....atau ada juga yang sudah jelas
kok diulang -ulang terus topik beritanya meski ceritanya lain-lain
hehehehehe...seperti berita politik itu pak.....mbulet saja nggak
selesai-selesai.....:-) padahal sudah pemilu dulu :-).

Kalau "domain jadi" dimasyarakatkan untuk dijual belikan apakah tidak sama
dengan menjualbelikan angka lotere :-)....maaf ini sekedar intermeso saja
:-).

Karena saya takut muncul pedagang lotere baru yang hanya menjual angka-angka
jadi saja, dan orang bernafsu membelanjakan uangnya hanya untuk angka-angka
saja :-) akan jadi apa masyarakat kita kalau banyak yang begitu pak, apakah
itu tak menjadikan banyak orang malas bekerja pak. Sekarang saja banyak yang
ngamen di jalan sudah bikin repot (saya kira ngamen=malas, meski masalah
anak jalanan amat komplek sebab musababnya), memang sih mereka ada kegiatan
informal kreatif tapi juga bisa mengancam orang yang lewat atau pengguna
motor dan mobil atau penumpang angkot terancam pula....broker domain jadi
bisa menyumbat munculnya pengusaha swasta baru yang katanya diharapkan harus
banyak di Indonesia supaya ekonominya cepat entas. Saya kira sumbatan itu
karena tingginya beli domain jadi itu nantinya, sebagai ekses dari
dibolehkanya penjualan domain jadi. Ya katanya sih kalau permintaan pasar
tinggi dan barang sedikit jadi harga melangit.....:-)
anti harga domain jadi melangit hehehehehe.....

Salam
-Marno-


--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke