SUARA PEMBARUAN DAILY 

Krisis Kebangsaan (1) 


Lampu Kuning bagi Ibu Pertiwi


Saat ini kita seperti penumpang perahu besar yang kehilangan arah. Kita
terombang-ambing oleh gelombang yang melelahkan dan memabukkan sehingga
kehilangan jati diri. 

Persoalan besar apa yang melanda bangsa ini dan apa yang harus dilakukan?
Ini pertanyaan vital, dan sejauh ini tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk
menjawabnya. Banyak yang tahu, tetapi pura-pura tidak tahu, dan ada pula
yang memang benar-benar kehilangan arah. 

Ucapan bernada resah itu dilontarkan Thomas Suyatno, Wakil Ketua Umum Dewan
Pimpinan Nasional (Depinas) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia
(SOKSI) di depan peserta pendidikan politik kader bangsa (P2KB) tahap kedua
angkatan I tingkat andalan di Depok, Jawa Barat, Rabu (20/6) lalu. 

"Kita rasakan benar, Ibu Pertiwi tengah bersusah hati, merintih dan sedang
lara,'' ujar mantan Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya
itu lirih. 

Mengapa dia begitu resah, sementara anak bangsa yang lain tenang-tenang
saja, seperti tak ada masalah. Pemerintah pun asyik-asyik saja dan tak
menyiratkan ada sesuatu yang tidak beres di republik ini. Lalu, apa yang
diresahkan Suyatno? 

Tentu saja dia tak mengada-ada. Pendiri SOKSI, Prof Dr Suhardiman SE, pun
menyatakan kekhawatiran serupa. ''Indonesia saat ini, sedang mengalami
kondisi yang memprihatinkan, yakni krisis kebangsaan yang mengancam
kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Falsafah Pancasila
dan UUD 1945 tidak lagi menjiwai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara,'' ujarnya dalam peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-47 SOKSI
di Jakarta, Rabu (20/6) malam. 

Suhardiman yang dikenal sebagai ''dukun politik'' di era Orde Baru itu
mengingatkan, kondisi semangat kebangsaan di Indonesia saat ini sedang di
persimpangan jalan. 

Dan menurut dia, fenomena seperti itu terjadi akibat kelangkaan pemimpin
yang tegas dan berani dalam menegakkan Pancasila sebagai falsafah bangsa. 

Saat ini terjadi krisis kepemimpinan ideologi, sehingga keyakinan terhadap
Pancasila melemah, sementara di pihak lain muncul berbagai upaya untuk
mengganti Pancasila sebagai ideologi negara. Tidak membuminya semangat dan
roh Pancasila belakangan ini, kata Suhardiman, sangat dipengaruhi oleh
ketidakkonsistenan dan ketidakkonsekwenan para pemimpin di negeri ini
menegakkan Pancasila. 

Di sisi lain, kata Suhardiman, juga terjadi krisis kepemimpinan politik
seiring dengan diberlakukannya multipartai. 

Era multipartai telah menimbulkan pengkotak-kotakan dalam masyarakat, karena
para pemimpin yang muncul lebih mencerminkan dirinya sebagai pemimpin
partai, pemimpin kelompok, atau pun golongan, sehingga terjadilah konflik
antarkepentingan partai, golongan dan kelompok dengan kepentingan negara
masih tetap mewarnai kehidupan berbangsa. 

Politisi muda Partai Golkar yang dijuluki Koboi Senayan, Ade Komarudin
Mohammad juga melihat kenyataan yang meresahkan bangsa tersebut. Menurutnya,
ada kecenderungan dewasa ini para pemimpin berlomba-lomba berjuang untuk
kelompoknya, kepentingannya, sukunya bahkan agamanya, sehingga sangat
berbahaya bagi masa depan bangsa. 

"Kalau semua orang, terutama pemimpin hanya berjuang untuk golongannya,
kelompoknya, sukunya dan agamanya, lalu siapa yang berjuang untuk bangsa
ini. Ini sudah lampu kuning bagi Ibu Pertiwi tercinta,'' kata Ade. 

Sebab, kata Ketua Panitia P2KB SOKSI itu, bangsa Indonesia yang
diproklamasikan 17 Agustus 1945, di- bangun dengan semangat Bhinneka Tunggal
Ika (berbeda-beda, tetapi tetap satu). Para pendiri negara ini membangun
bangsa ini tanpa sekat perbedaan etnis, ras, golongan, kultural dan agama. 

Terorisme 

Sementara itu, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono
pun mewanti-wanti tentang ancaman kelangsungan republik tercinta ini. 

Menurut Hendropriyono, terorisme yang dipropagandakan ideologi tertentu
dengan target ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara Indonesia itu,
suatu ancaman serius. 

Diingatkan, propaganda terorisme yang banyak kali mengatasnamakan agama
tersebut, paham Pancasila dan wawasan kebangsaan mulai terdegradasi.
Masyarakat baru sadar ketika satu per satu kelompok terorisme yang
mengatasnamakan agama itu, ternyata adalah pelaku teror bom di mana-mana dan
sasarannya tanpa kecuali (unlimited target). 

Terdegradasinya paham Pancasila dan nasionalisme, kata Hendropriyono,
diperparah dengan kurangnya instrumen hukum dan Undang-undang (UU) untuk
mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila tersebut. Saat ini, justru lahir
peraturan daerah (Perda) di beberapa daerah yang bertentangan dengan
Pancasila, tetapi anehnya dibiarkan pemerintah sekarang. [SP/Marselius Rombe
Baan] 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke