Menuju Kemerdekaan Indonesia: Tanggal 10 Agustus Sjahrir Dengar Berita 
Kekalahan Jepang
Banjar Chaeruddin
- Rabu, 10 Agustus 2022 | 07:50 WIB
https://www.sinarharapan.co/politik/pr-3854103927/menuju-kemerdekaan-indonesia-tanggal-10-agustus-sjahrir-dengar-berita-kekalahan-jepang

Sutan Sjahrir(dok)

SINAR HARAPAN--Kabar jatuhnya bom atom di Hiroshima (6/8/1945) dan Nagasaki 
(9/8) tidak serta merta diketahui oleh para tokoh pergerakan Indonesia. Maklum 
saja, ketika itu sarana komunikasi masih sangat sederhana dan hanya sedikit 
orang yang bisa mengaksesnya.

Pada tanggal 10 Agustus 1945, tepat 77 tahun lalu, Sutan Sjahrir mendengakan 
siaran berita yang dikumandangkan sebuah stasiun radio BBC (British 
Broadcasting Corporation) bahwa bom telah dijatuhkan tentara Sekutu di Jepang. 
Kemudian dikabarkan bahwa tentara Jepang sudah berniat menyerah.

Ketika itu penguasa Jepang melarang penduduk mendengarkan siaran berita asing, 
terutama dari Sekutu, yang dinilai sebagai propaganda perang. Sjahrir tentu 
saja mendengarkan siaran BBC secara sembunyi-sembunyi.

Hal tersebut tentu saja merupakan berita sangat baik bagi kaum pergerakan. 
Ketika itu tentara Jepang masih menduduki Indonesia. Namun Jepang juga setuju 
dengan pembentukan BPUPKI dan yang kemudian diubah menjadi PPKI.

Mendengar berita tersebut, Sutan Sjahrir kemudian menghubungi penyair Chairil 
Anwar agar kabar tersebut diteruskan kepada para pemuda. Para pejuang bawah 
tanah pun bertekad untuk segera menyatakan kemerdekaan serta menolak bentuk 
kemerdekaan sebagai hadiah Jepang.
Dalam catatan sejarah, pada tanggal 10 Agustus tersebut tentara Jepang secara 
prinsip setuju untuk menyerahkan diri kepada Sekutu. Namun dengan syarat, 
Sekutu tidak menggulingkan tahta Kaisar Hirohito.

Di Indonesia, kalangan muda menginginkan agar Soekarno dan Hatta segera 
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang bukan hadiah atau 
pemberian dari penjajah Jepang. 

Sikap yang keras tersebut menimbulkan perbedaan pandangan antara kalangan tua 
dan muda. Kalangan Tua berpandangan bahwa pembentukan PPKI merupakan langkah 
nyata menuju kemerdekaan. Namun kalangan Muda berpandangan PPKI merupakan 
bentukan Jepang dan sangat kerjangan sangat dipengaruhi oleh penguasa Jepang.

Perbedaan pandangan tersebut yang kemudian menyebabkan Bung Karno dan Bung 
Hatta disembunyikan di Rengasdengklok, Karawang Jawa Barat. Kedua tokoh 
tersebut dibawa ke markas PETA di daerah Rengasdengklok.

Sementara itu, Ahmad Soebardjo (golongan tua) bersama Wikana (golongan muda) di 
Jakarta mengadakan kesepakatan untuk mengumumkan kemerdekaan di Jakarta. 
Penguasa Jepang Laksamana Maeda mempersilakan rumahnya untuk dijadikan tempat 
perundingan dalam penyusunan naskah proklamasi.

Maka pada tanggal 16 Agustus para pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta 
kembali ke Jakarta langsung dibawa ke rumah Laksamana Maeda. Proklamasi 
Kemerdekaan RI dilakukan pada esok harinya, tanggal 17 Agustus 1945di 
Pengangsaan Timur Jakarta.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/902BDA1C3A33428EAA2F946DE7169000%40A10Live.

Reply via email to