INDONESIA GAWAT DARURAT:

                        PRESIDEN SBY MEMBUKA TOPENG SANDIWARANYA. 

 

Presiden SBY tgl 1-3-2010 menyatakan sikapnya membenarkan dan bertanggung jawab 
atas kebijakan pemberian dana talangan kepada Bank Century (BC) demi 
penyelamatan perekonomian Indonesia . Kalau saya gunakan logika apakah harus 
selamat atau jatuh seperti krisis. Mengapa memilih? Pilihannya adalah tutup 
dengan keluarkan Rp 6.7 triliun dengan bail out. Pengucuran dana tsb dilakukan 
demi penyelamatan perekonomian Indonesia.

 

Pernyataan SBY bahwa beliau memegang tanggung akhir atas tindakan kebijakan 
-benar atau salah- yang dijalankan  para Menterinya bukan merupakan berita 
baru, karena tanggung jawab seperti itu berlaku umum untuk setiap kepala 
Negara. Berita yang paling mengerikan dan menakutkan dan membuat bulu roma kita 
tegak adalah kesaksian tegas dari Pres. SBY mendukung dan bertanggung jawab 
atas kebijakan Boediono dan Sri Mulyani. Padahal, bail out BC yang mereka 
jalankan melulu merupakan tipu muslihat luar biasa, karena dilakukan di luar 
dasar-dasar ilmiah yang selayaknya. 

There must be something seriously wrong with his economics, bila SBY yang nota 
bene ekonom, dengan gigih mendukung dasar-dasar non-ilmiah dari bail out yang 
dijalankan Boediono dan Sri Mulyani terhadap satu bank yang nota bene sudah 
lumpuh dirampok pemiliknya Robert Tantular cs. Lebih parah pula keyakinan SBY 
yang menganggap bail out tadi dilakukan demi penyelamatan perekonomian 
Indonesia. Dengan pernyataan dukungannya tsb, Pres. SBY membuka sendiri 
topengnya sejati, bahwa beliau pemain sandiwara juga sama seperti yang 
dimainkan Boediono dan Sri Mulyani. 

Mengapa harus bersandiwara adalah rahasia khusus antara SBY dan Sri Mulyani. 
Rahasia tsb telah dapat diindikasikan oleh temuan-temuan yang diperoleh Pansus. 
Khusus untuk meredam temuan-temuan Pansus inilah, SBY menegaskan tidak ada yang 
salah dengan bail out BC dan Presiden sepenuhnya mendukung kebijakan terpuji 
dari pembantunya Boediono dan Sri Mulyani. 

 

Dari semula sejak Konperensi Soal Lingkungan di Kopenhagen, SBY menyatakan 
bahwa menurut Undang-Undang, Boediono dan Sri Mulyani tidak mungkin 
dimakzulkan, bahkan Pansus sendiri dituduhnya bermaksud untuk mengkriminalisasi 
kedua otoritas moneter tadi. Rakyat didorong oleh hati nurani dan rasa 
keadilan- marak berdemonstrasi di mana-mana. Mereka menuntut bukan saja 
Boediono dan Sri Mulyani, bahkan SBY sendiri supaya turun takhta. Namun, SBY 
mencemoohkan para demonstran tadi yang dianggapnya tidak tahu sopan santun 
terhadap pimpinan Negara. Padahal persoalannya bukan etika atau penghinaan 
terhadap pimpinan, tapi penderitaan rakyat, khususnya dari para nasabah BC yang 
kehilangan uang-depositonya tega dibiarkan SBY dimalingi Boediono dan Sri 
Mulyani. 

 

Sekalipun tingkat ilmu para demonstran jauh dibawah ilmu kesarjanaan namun hati 
nurani dan rasa keadilan mereka jauh lebih unggul ketimbang Boediono, Sri 
Mulyani dan Pres. SBY karena dapat merasakan betapa pedihnya penderitaan 
keluarga para nasabah korban bail out BC tadi. Persoalannya jsuh di luar etika.

Kenyataannya, bail out BC tsb melulu sandiwara belaka, karena sama sekali 
terlepas dari dasar-dasar ilmu-ekonomi-moneter-perbankan .

            

            Tidak ada ilmu dan teori moneter atau logika Taman Kanak-Kanak 
sekalipun, yang memperbolehkan kedua otoritas moneter Boediono dan Sri Mulyani 
dengan  alasan apapun untuk mem-bail out satu bank -BC- yang oleh SBY sembrono  
dihubung-hubungkan begitu saja seolah-olah dengan maksud murni untuk  
menyelamatkan perekonomian Indonesia!?! Di mana teorinya Pak SBY?

            Mutatis mutandis, logika awam saja tidak akan menerima dalil yang 
mengatakan bahwa bila Bank Mandiri, misalnya,  dibantu dengan tambahan modalnya 
10x lipat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan maju dengan pesat. Dengan   
kata lain,  ilmu atau logika SBY, Boediono dan Sri Mulyani dalam penanganan   
BC, jauh lebih rendah dari kaum awam.

            Begitu pula perlu dipahami, bahwa semua peraturan-peraran, seperti 
FPJP, KSSK, PERPU, INSTRUKSI, DLL yang dirumuskan Sri Mulyani (baca Laporan di  
bawah) untuk mengahalkan tindakan bail-out BC harus dianggap batal demi ilmu 
moneter perbankan, karena merupakan pelanggaran saja atas kebenaran ilmu  
moneter perbankan sendiri.

 

Demikian pula rapat akbar yang digelar Sri Mulyani bulan Desember 2008 dengan 
mengumpulkan seluruh tokoh-tokoh ilmuwan Indonesia dan yang dengan aklamasi 
mendukung gagasannya mem-bail out BC, hanya sandiwara belaka. Sebab, jika 
aklamasi dukungan tsb benar-benar ilmiah sifatnya, maka rapat akbar tsb tidak 
perlu diadakan. Sebab kebenaran ilmiah tidak memerlukan dukungan apa-apa dari 
cendekiawan manapun. Berarti pula bahwa para tokoh ilmuwan yang dikumpulkan Sri 
Mulyani tadi turut diajak supaya bersandiwara belaka. 

 

Ekonom yang masih mendukung kebijakan bail out Boediono dan Sri Mulyani harus 
dianggap bukan lagi sarjana, tapi ekonom-dagelan saja yang hanya pinter 
berpura-pura dan bersandiwara seolah-olah ahli moneter, seperti Sri Mulyani 
yang halnya diuraikan lebih lanjut di bawah ini.

 

Kompas tgl 5 Desember 2008 melaporkan, bahwa Sri Mulyani, Menteri Keuangan 
sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Bidang Perekonomian berkata <<Dalam 
menghadapi krisis keuangan global, yang sedang kami rumuskan adalah respons 
yang paling tepat. Karena jika berbicara tentang PHK, mana yang akan dibantu, 
pekerja, pengusaha, atau kedua-duanya. Lalu apakah bantuannya sementara atau 
jangka panjang? 

Meski demikian, Sr Mulyani menegaskan, pihaknya akan merevisi semua paket 
kebijakan yang telah disusun untuk menghadang dampak krisis ekonomi global. 
Paket kebijakan pasti akan disesuaikan, karena kami  juga mendengarkan suara 
pengusaha dan industri. Kami akan lihat berdasarkan statistik, penarikan 
pajaknya, volume penjualan, dan perkembangan harga komoditas. Pemerintah terus 
melakukan penyesuaian kebijakan yang tanggap terhadap krisis sepanjang 2009. 
Seluruhnya akan dibahas dalam sidang Kabinet, kemudian baru diumumkan. 
Sementara ini, Pemerintah akan menggunakan ruang fiskal yang telah dimiliki 
dalam APBN 2009, untuk mengakomodasi pertolongan terhadap sektor-sektor yang 
mengalami pelambatan akibat tekanan krisis global . Pada 28 Oktober 2008, 
Presiden SBY mengeluarkan 10 instruksi untuk menanggulangi dampak krisis nilai 
tukar rupiah dan gejolak ekonomi global.  Selain itu, sebelumnya pada 13 
Oktober 2008, Pemerintah menerbitkan tiga Peraturan Pemerintah pengganti 
undang-undang (Perpu) untuk meredam krisis moneter dan menghindarkan Indonesia 
dari krisis seperti yang terjadi tahun 1997. Melalui tiga Perpu itu, Pemerintah 
membolehkan perbankan meminjam dana kepada BI dengan jaminan asset yang lebih 
ringan. Kebijakan lain, dana simpanan nasabah yang dijamin Lembaga Penjamin 
Simpanan (LPS) dinaikkan dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar per nasabah per 
bank >>

                                                

Banyak masalah dan solusi-solusi yang melompat dari sana kemari disajikan Sri 
Mulyani di atas, namun kita bingung  menemukan hubungan-ilmiah dari masalah 
yang satu dengan yang lain, begitu juga antar-faktor-faktor penyebabnya. Semua 
serba campur aduk dan kacau dan disusun terburu-buru. Namun, psychoanalysis dan 
mindset reading meyakinkan dengan jelas bahwa peran utama dengan sangat lincah 
dan lihai dijalankan oleh Sri Mulyani sendiri dan menjadi single fighter dan 
aktor intelektualitas utama mem-bail out BC. Dapat disimak bahwa dialah yang 
terlebih dahulu dan yang sudah lama mempersiapkan 'segala sesuatunya' untuk 
menghalalkan tindakannya memilih sebuah bank yang sekalipun sudah lumpuh total 
-Bank Century- tapi di luar norma-norma akal sehat dijadikan korban empuk untuk 
di-bail out dengan talangan-uang yang harus luar biasa pula jumlahnya, sambil 
menyulapnya sekaligus menjadi bank milik Negara. Penjelasan panjang lebar Sri 
Mulyani di atas hanya bumbu-bumbu seolah-olah ilmiah bunyinya tapi 
dimaksudkannya hanya sebagai kedok untuk mengelabui rakyat belaka, yang 
dianggap Sri Mulyani sekadar awam belaka yang tidak akan mempertanyakan 
tindakan-tindakan yang dipermainkannya. Target pokok bagi Sri Mulyani adalah 
apa yang dijelaskannya pada akhir pernyataannya di atas, bahwa (i) bank-bank 
diperbolehkan Pemerintah meminjam dana dari BI dan (ii) dan jaminan LPS bagi 
setiap nasabah bank-bank diroketkannya 20x lipat. Akhirnya Sri Mulyani berhasil 
mengumpulkan dana bail out Rp 689 miliar dari BI dan Rp 6.7 triliun dari LPS. 

 

Sri Mulyani yakin bahwa -berdasarkan rahasia bank, Pansus tidak akan berhasil 
menelusuri terjadinya pelanggaran  hukum dari aliran dana ke dan dari Bank 
Mutiara yang disulapnya secara illegal menjadi milik Negara menggantikan BC 
milik swasta. Dalam menghilangkan BC dari peredaran, Sri Mulyani mengikuti 
jejak hilangnya Bank Bali dari muka bumi bisa terjadi berkat kerjasama antara 
Menteri Keuangan dan Gubernur BI pada waktu Pemilu 1971. Sekarang juga demikian.

Sri Mulyani dengan mudah berhasil membentuk kerjasama dengan memperalat 
Boediono, yang ternyata kokokbeluk belaka selama menjabat sebagai Gubernur BI. 
Boediono dijadikannya anggota pasif saja dari KSSK ciptaan dan diketuai Sri 
Mulyani, yang mengambil alih tugas pokok BI yang seyogianya satu-satunya 
lembaga yang berfungsi untuk stabilisasi Sektor Keuangan (=Moneter). 

Dari kutipan di atas dengan terang benderang dapat disimak kelicikan Sri 
Mulyanilah yang dengan halus dan tanpa rintangan apa-apa, berhasil mengambil 
alih tugas moneter dari Gubernur BI. Segala sesuatunya berjalan mulus untuk 
menghalalkan pencaplokannya atas BC. Inilah kebanggan tersendiri dari SBY atas 
Sri Mulyani.

 

Dari kutipan di atas dapat pula disimak bahwa Sri Mulyani tidak pernah 
menyebutkan,  bahwa Indonesia pada 2008 mengalami krisis, selain dari krisis 
finansial global yang bermula di USA. Untuk mengahadapi krisis global tsb, Sri 
Mulyani mendongeng, bahwa pada tgl 28 Oktober SBY mengeluarkan instruksi untuk 
menanggulangi dampak krisis nilai tukar rupiah dan gejolak ekonomi global. 
Instruksi itu -katanya- a.l. memberlakukan kontrol devisa untuk BUMN. dongeng 
belaka dari Sri Mulyani. Selanjutnya kutipan di atas menunjukkan pula khayalan 
Sri Mulyani bahwa pada tgl 13 Oktober 2008, Pemerintah menerbitkan tiga PerPu 
-katanya- untuk meredam Krisis Moneter dan menghindarkan Indonesia dari krisis 
seperti yang terjadi tahun 1997. Padahal, Sri Mulyani sendiri butahuruf dan 
tidak memahami apa arti Krisis Moneter itu sendiri. Demikian pula pengertiannya 
tentang krisis nilai tukar sangat keliru, karena krisis nilai tukar rupiah 
tidak pernah ada di Indonesia dan di dunia. Lagi pula, dalam realita, dia 
sendiri -sama seperti Boediono- buta huruf total untuk tidak menyadari, bahwa 
kurs rupiah ditentukan oleh Bloomberg dan Reuters, sedang BI tinggal 
menyonteknya saja. 

 

Untuk mempertegas kebenaran pengertiannya atas krisis moneter, Sri Mulyani 
melakukan wawancara umum dan di TV, di mana dia dengan sangat berani berbohong, 
mempertaruhkan dan memperalat nama Presiden SBY, seolah-olah SBY mengerti apa 
Krismon dan atas dasar itu -katanya- menginstruksikan padanya supaya coute que 
coute mencegah krisis 1997 jangan kembali lagi menjelang akhir 2008. Padahal, 
instruksi tsb tidak pernah ada, tapi dicetuskan menjadi alasan kuat, sekalipun 
dibuat-buat,  melulu untuk menghalalkan pencaplokan Sri Mulyani atas BC. Kata 
Sri Mulyani pula- BC tiba-tiba kesurupan "Dampak-Systemic" yang sangat 
membahayakan  seluruh perbankan nasional, atas dasar mana -sambungnya- BC harus 
segera di-bail out untuk meniadakan 'dampak-systemic' tadi, agar perekonomian 
Indonesia bisa terhindarkan dari jeratan krisis moneter yang lebih dahsyat dari 
Krismon 1997. lagi-lagi khayalnya belaka.  

 

Khusus si Mulut-Kotor Ruhut Sitompul dan Prof. Moneter Amir Syamsuddin dari 
Partai Demokrat mengelu-elukan dan memuja-muji Sri Mulyani sebagai pahlawan 
ekonomi, yang dengan bail out BC Indonesia bisa terhindar dari malapetaka 
KrisMon 1997.

 

Investor Daily, 1 Maret 2010, melaporkan, bahwa antek-antek Sri Mulyani, Sigit 
Pramono, Purbaya Sadewa, Sudargo, Pande Raja Silalahi, Dyah Makhijani 
sependapat, bahwa langkah BI menyelamatkan BC lewat pemberian FPJP sudah benar 
dan sesuai Undang-Undang. Dalam situasi yang memburuk dan kondisi system 
keuangan yang rawan, bank sekelas apapun (BC) tak boleh dibiarkan bangkrut guna 
mencegah kerusakan system keuangan yang lebih dahsyat.                         

            

            Di salah satu kampung di Jawa Tengah -50 tahun yl- sudah menjadi  
kebiasaan ibu-ibu rumah tangga -sewaktu terjadi hujan lebat dan sambaran petir- 
 untuk melemparkan segenggam nasi ke halaman rumah untuk makanan raja petir  
supaya rumahnya jangan terbakar oleh amukan petir.

 

Memang benar, bahwa tidak ada satupun rumah di kampung tadi disambar petir. 
Demikian pula hampir seluruh ekonom bersyukur memuji tindakan brilyan Sri 
Mulyani yang mem-bail out BC lepas dari "Dampak-Systemic.Ternyata Sri Mulyani 
benar, bahwa KrisMon bisa diusirnya menghilang dari Indonesia.                  
     

 

Krisis bisa saja berulang kali kembali dialami setiap Negara, namun jenis dan 
bentuk khas dari krisis yang satu tidak akan pernah berulang dan kembali pada 
masa berikutnya, karena situasi dan penyebab dari krisis yang satu berbeda 
diametral dari situasi dan penyebab dari krisis berikutnya tadi. Mari kita 
simak apa itu Krisis Moneter 1997.

            

            Soedradjad Djiwandono -yang sama kebadutannya dengan Boediono- 
keliru    menyebut Krisis Moneter (yang terkenal dengan sebutan Krismon) 
menimpa  Indonesia pada pertengahan 1997. Padahal krisis moneter tsb tidak 
pernah ada,  karena tidak ditandai sebagai ciri khasnya oleh cepatnya terjadi 
inflasi yang  diakibatkan oleh melonjaknya peredaran uang. Soedradjad, yang 
dianya bukan  ahli-moneter,  membiarkan dirinya ditipu- muslihati oleh IMF 
(Baca dalam  hubungan ini Bab III  dari buku kami: Tsunami SBY). Memang IMF 
mengantisipasi akan datangnya Krisis Valas pada tahun 1998 dan untuk itu IMF 
menyediakan standby loan sebanyak  $41 miliar pada November 1997. Memang Krisis 
Valas tadi tidak terelakkan, sebagai akibat dari Pakto 1986 yang keliru    
dikeluarkan Gubernur BI -Adrianus Mooy dan Menteri Keuangan -JB Sumarlin. Pakto 
tadi memperbolehkan para       konglomerat bebas meminjam valas dari luar 
negeri sambil memperbolehkan mereka pula memarkir valas miliknya di luar 
negeri. Pada permulaan 1998, persediaan devisa memang akan ludes kosong-  
habis, bila utang valas Indonesia yang jatuh tempo pada waktu itu harus 
dilunasi.  Syukur, Indonesia oleh kreditur valas diizinkan memperoleh 
moratorium untuk    menunda pembayaran utang tsb. Namun, sekalipun standby loan 
sudah tersedia  untuk menampung gejolak neraca pembayaran,Soedradjad memelihara 
persediaan  valas tertimbun saja, dan membiarkan kurs rupiah melonjak terus 
hingga  terdepresiasi sebanyak 500%. Akibatnya export Indonesia memperoleh 
rezeki nomplok luar biasa yang dibiayai dengan pajak impor yang luar biasa pula 
tingginya. Alhasil, ongkos impor naik luar biasa yang pada gilirannya langsung  
meroketkan ongkos produksi di dalam negeri. Ketololan Soedradjad meroketkan  
kurs rupiah tadi membuat ketimpangan dimana sektor ekspor dimanjakan  
memperoleh extremely high-income earnings, sedang sektor ekonomi dalam   negeri 
menderita high-cost-economy. Akibat dari high-cost economy tadi  timbullah 
krisis ilikuiditas perekonomian, yang menciptakan kebangkrutan dan  tertutupnya 
banyak perusahaan dan bank yang sekaligus menciptakan   pengangguran 
besar-besaran. Dewan Gubernur BI kebingungan dan menyediadan  pinjaman BLBI 
besar-besaran untuk mem-bail out perbankan. Namun, BI  melakukan kekeliruan, 
karena pembayaran kembali BLBI ditagih segera, sedang  kesulitan likuiditas 
perusahaan dan bank, sifatnya sudah jangka panjang. Dalam pada itu  Soedradjad 
dan anggota Dewan Gubernur lainnya, karena jiwa  banditisme mereka,  masih 
berani saja melakukan korupsi uang BLBI tsb, praktek  mana diikuti juga oleh 
beberapa anggota Dewan Gubernur berikutnya. Tapi jauh lebih kejam lagi 
ketimbang korupsi moneter tadi, adalah kejahatan para Gubernur  BI -seperti 
Boediono sendiri- yang bersandiwara seolah-olah menguasai keahlian-moneter, 
sehingga merusak fungsi BI sebagai Bank Sentral. Ulah sandiwara  Boediono  dan 
para Gubernur sebelumnya membuat system perbankan di Indonesia rusak total dan 
berada jauh di bawah system Bank Sentral beserta  perbankan nasional di Negara 
tetangga ASEAN.

            Saya sendiri mengirimkan kepada Pres. SBY 1 copy dari Undang-Undang 
Bank  Sentral Filipina agar kiranya dapat dipahami kepalsuan Undang-Undang BI 
No. 23, 1999, yang sejak lama dibiarkannya berjalan berlarut-larut dan dengan 
demikian membiarkan Boediono bersandiwara saja terus selama menjabat di BI sama 
halnya seperti Sri Mulyani yang bersandiwara seolah-olah menjadi  Gubernur BI, 
khususnya berkaitan dengan bail out BC.

 

Jelaslah dari uraian di atas bahwa sandiwara dari Boediono  dan lebih-lebih 
dari Sri Mulyani membuat mereka berdua menjadi biang keladi utama dari skandal 
BC, yang ditengarai -seperti diindikasikan temuan-temuan Pansus- sebagai 
keterlibatan mereka dalam siasat Mafia Moneter Team Sukses Partai Demokrat 
untuk Pemilu dan PilPres 2009.

 

Memang, kejahatan-moneter Boediono dan Sri Mulyani tidak bisa dijerat "KUHP". 
Namun demkian, setelah sekarang topeng-sandiwara Presiden SBY sendiri terbuka 
lebar, kedua ahli-moneter-gadungan tsb tidak mungkin lagi bisa memperoleh 
perlindungan terus dari Pres. SBY. Pilihannya tidak lain selain dari SBY harus 
segera mencopot  ke-2 kesayangannya tadi dari jabatan mereka sekarang, agar 
demonstrasi hati nurani dan rasa keadilan rakyat tidak memakzulkan SBY sendiri. 
Orang kuat bisa diturunkan orang lemah.

            Siapa nyana, Soekarno bisa turun lantaran KAMI/KAPPI atau Soeharto 
turun 

            takhta karena pembunuhan mahasiswa di Trisakti dan Semanggi I&II.

            Siapa nyana parlemen-jalanan sanggup meruntuhkan singgasana SBY.

 

4-3-2010.                                                                       
 hmt oppusunggu

 

(Sebarkan ke kantor-kantor Pemerintah, DPR, Yudikatif, Dewan Mahasiswa-BEM 
universiras di Jakarta dan tentunya ke 'Sabang-Merauke')


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke