http://202.169.46.231/News/2008/12/23/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILYAnggaran Minim, Peneliti Tak Bergairah
  [www.drn.go.idAndrianto Handojo]

  [M] encengangkan ketika kita mencermati apa yang dilakukan Malaysia
baru-baru ini. Pemerintah negara jiran itu sangat tanggap terhadap
kemajuan Iptek melalui insentif dana riset yang luar biasa. Tahun 2008,
mereka menyediakan Rp 31 triliun. Tidak bermaksud membandingkan atau
terlalu hitung-hitungan, tetapi untuk memperoleh hasil yang baik dan
berkualitas dalam riset, tentunya bisa diukur melalui biaya, waktu, dan
kualitas.

Karena itu, dana yang telah disediakan oleh Pemerintah Indonesia untuk
riset melalui APBN 2009 sebesar Rp 800 miliar untuk 8.000 paket riset,
masih sangat jauh dari yang diharapkan. Belakangan Direktur Jenderal
Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal, mengoreksi angka itu dan
mengatakan, alokasi dana penelitian di Perguruan Tinggi (PT) dinaikan
menjadi sekitar Rp 2 triliun.

Harian Malaysia The Star edisi Jumat (19/9), melaporkan, sektor
pendidikan tinggi Malaysia mendapat suntikan dana 12 miliar ringgit
untuk membiayai berbagai proyek dan program, terutama penelitian,
pengembangan, dan komersialisasi hasil penelitian di empat universitas
riset, yakni Universitas Sains Malaysia (USM), Universitas Kebangsaan
Malaysia (UKM), Universitas Malaya (UM), dan Universitas Putra Malaysia
(UPM).

Dana ini juga akan membayar hak royalti kepada para peneliti sebesar 80
persen. Saat ini para peneliti di Malaysia yang hasil risetnya
dikomersialisasikan hanya menerima 50-70 persen dari total hak royalti.
Masih menurut The Star, setiap universitas riset mendapatkan alokasi
minimal 400 juta ringgit untuk meningkatkan kemampuan penelitiannya.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia termasuk negara yang sangat gencar
menumbuhkan sektor penelitian dan pengembangan, atau dengan istilah lain
membangun komunitas berbasis pengetahuan. Dari data tentang besaran dana
riset setiap negara tahun 2005, Malaysia tercatat mengalokasikan 0,7
persen GDP-nya (gross domestic product) untuk keperluan riset dan
pengembangan.

Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Umar Anggara Jenie,
seperti dilaporkan Antara, mengatakan, dari data tersebut terlihat bahwa
untuk negara-negara maju, mereka menganggarkan 2-4 persen GDP untuk
keperluan riset, sementara negara-negara berkembang seperti Malaysia dan
Turki 0,5-1 persen. "Indonesia sendiri hanya mengalokasikan sekitar 0,7
persen GDP untuk pembiayaan riset, tetapi trennya terus menurun dari
tahun ke tahun," katanya.

Sementara itu, di tingkat dunia, keterlibatan peneliti Indonesia sangat
kurang.  "Dari 300 ranking peneliti negara-negara OKI, hanya enam
peneliti Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut," kata Menteri
Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek) Kusmayanto Kadiman usai
membuka The Fourth Asia-Pacific Conference on Few-Body Problems in
Physics 2008 (APFB 2008) di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia
Depok, Jawa Barat, Selasa (19/8) lalu.

Salah satu penyebab kurangnya jumlah peneliti Indonesia adalah karena
kecilnya anggaran penelitian. Idealnya, jumlah anggaran penelitian,
sesuai dengan UNESCO mencapai sebesar tiga persen dari PDB. "Tapi, di
Indonesia baru 0,07 persen, kalau dibulatkan jadi 0,1 persen dari PDB.
Padahal, beberapa negara seperti Malaysia dan Thailand besarnya mencapai
hampir dua persen," tegasnya.

Wakil Ketua APFB 2008 Terry Mart, seperti dilaporkan media massa
nasional, mengatakan bahwa kurangnya peneliti Indonesia dalam dunia
internasional harus dianggap sebagai peringatan bahwa negara ini akan
tergilas. Salah satu penyebab hal tersebut adalah sulitnya memperoleh
dana penelitian.

Kendala lainnya, menurut Terry, yang juga pengajar di Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI, adalah penelitian yang
belum fokus pada keunggulan lokal. Penelitian di Indonesia, masih
sebatas mengikuti tren penelitian-penelitian dunia. "Tahun lalu trennya
bioteknologi, kita ikutan. Tahun ini trennya nanoteknologi, kita juga
ikutan. Kita hanya jadi follower saja," tegasnya.



Riset Hulu vs Hilir

Terkait riset hulu dan hilir, beberapa waktu lalu, Ketua Dewan Riset
Nasional (DRN) Andrianto Handojo mengungkapkan riset di PT lebih banyak
riset hulu dibandingkan riset hilir. Perbandingannya, 8:1. Kondisi itu
tak jauh berbeda dengan riset di lingkungan non-PT. Berdasarkan temuan
DRN, sepanjang tahun 2005-2007 perbandingan riset hulu terhadap riset
hilir adalah 4:1.

Dari temuan itu, riset yang ada saat ini lebih pada riset yang
menghasilkan metode dan model (hulu), daripada riset yang menghasilkan
prototipe, yang dekat dengan industri sebagai pemakai hasil riset.
Kondisi ini yang melatarbelakangi DRN dan Kementerian Negara Riset dan
Teknologi (KNRT) menyediakan topik penelitian untuk dipilih para periset
dalam Program Riset Insentif untuk tahun 2010.

Ada enam bidang riset, yakni pangan, energi, pertahanan, kesehatan,
teknologi informasi, transportasi. "Iptek itu perlu. Para periset
hendaknya melakukan riset yang nyata dan dekat dengan aplikasi, menjadi
solusi suatu masalah di tengah masyarakat," kata Andrianto.

Menurutnya, banyak periset sekolah dan lulus dari PT di negara maju,
tetapi tak bisa menerapkan ilmunya di Indonesia karena perbedaan
teknologi/fasilitas. Padahal, katanya, tidak ada kewajiban menggunakan
teknologi canggih bila hendak melakukan riset. Artinya, periset harus
memahami masalah dan teknologi yang ada di Indonesia.

Anggota DRN Prasetyo Sunaryo menyebut, dari hasil pemetaan DRN periode
2006-2007, pada PT negeri ditemukan riset hulu 1.389 judul, sedangkan
yang di hilir (disebut sebagai peningkatan kapasitas Iptek sistem
produksi) ada 70, dan riset yang sudah mencapai tahap difusi 171.

Penentuan judul riset, menurutnya, dilatarbelakangi pendidikan periset,
ketersediaan infrastruktur penelitian (peralatan laboratorium, area
penelitian yang tersedia, ketersediaan bahan), studi awal yang dimiliki
periset, sumber dana. "Paling penting adalah persyaratan ilmiahnya yang
terkait dengan persyaratan jenjang karier seorang periset di suatu
perguruan tinggi," katanya. [N-4/L-8]
Last modified: 23/12/08


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dosen-peneliti/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dosen-peneliti/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke