http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/08/28/Opini/krn.20080828.140782.id.html
Mensenyawakan Pendidikan dengan Riset

*Lukman Hakim*
Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Pidato pengantar rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara oleh
Presiden di depan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada 15 Agustus
lalu mengandung elemen penting dalam mengaitkan upaya di bidang pendidikan
dengan penelitian. Perspektif semacam ini penting mengingat pembukaan UUD
1945 mengamanatkan kita untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Lebih lanjut,
dalam Amendemen Keempat UUD 1945 Pasal 31 ayat 5 disebutkan: "Pemerintah
memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi
nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta
kesejahteraan umat manusia." Pasal tersebut secara eksplisit mengamanatkan
bahwa negara berkewajiban mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Landasan idiil dan wacana tentang pendidikan serta riset tersebut sudah luas
diperbincangkan, namun lambat sekali diterjemahkan menjadi aksi. Pernyataan
Presiden, yang mengaitkan langsung peningkatan pembiayaan sektor pendidikan
dengan upaya meningkatakn iklim penelitian melalui peningkatan kesejahteraan
guru dan peneliti, karena itu, patut disambut.

Pemerintah memberi pengakuan akan pentingnya riset ilmiah dalam penguasaan
ilmu pengetahuan, dalam pelatihan bagi ilmuwan, serta pendidikan bagi
publik. Riset ilmiah akan membawa kita pada pengetahuan baru yang akan
memperkaya pendidikan, kebudayaan, kemajuan teknologi, dan kesejahteraan
ekonomi. Riset dan pengajaran bagai dua sisi mata uang yang erat berkaitan
satu dengan lainnya. Misi pendidikan (tinggi) adalah melakukan edukasi untuk
menghasilkan lulusan yang berkualitas, melatih warga masyarakat berkemampuan
untuk belajar sepanjang hayat, dan mengembangkan, menciptakan, serta
mendesiminasikan ilmu pengetahuan melalui riset. Dalam kehidupan yang makin
berbasis ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi dan riset berperan sebagai
komponen esensial dari sosial-ekonomi-budaya untuk pembangunan individu dan
bangsa secara berkelanjutan.

Kegiatan ekspansi pendidikan yang tidak dibarengi peningkatan dalam
penelitian pada gilirannya menurunkan kualitas pendidikan menjadi
semata-mata kegiatan pengajaran. Kecenderungan menyatukan portofolio
pendidikan dengan riset, seperti di Jerman, Jepang, Australia, dan di banyak
negara lain, atau membangun universitas menuju universitas riset, yang
dicanangkan banyak universitas, termasuk universitas besar di dalam negeri,
adalah fenomena yang mengukuhkan perlunya kesatuan upaya pendidikan dengan
riset.

Keterkaitan penelitian antara perguruan tinggi dan lembaga riset bisa
dilihat dari sisi anggaran, personel, dan program. Dilihat dari sumber
dananya, sebesar 75 persen dana penelitian di perguruan tinggi bersumber
dari pemerintah (APBN departemen dan lembaga pemerintah non-departemen);
hanya 11 persen yang berasal dari perguruan tinggi sendiri, sebanyak 6
persen dari swasta, 6 persen dari hibah luar negeri, dan 2 persen dari
lain-lain (Indikator IPTEK 2007).

Adalah kenyataan bahwa sampai saat ini Anggaran Riset Insentif Kementerian
Riset dan Teknologi sebagian besar dimanfaatkan oleh perguruan tinggi.
Begitu pula anggaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Daerah Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (Iptekda LIPI), banyak dimanfaatkan oleh perguruan
tinggi. Kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan
perguruan tinggi tidak kalah intensif, seperti terlihat bahwa proyek kapal
bersayap WISE (*wing in surface effect*) yang digarap bersama di antara
BPPT-ITB-ITS, dan keberadaan Laboratorium Energi Gelombang BPPT di
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang dimanfaatkan untuk pendidikan dan
penelitian.

Selain dari aliran dana dan kerja sama program, kerja sama sektor riset
dengan pendidikan terlihat pula dari mobilisasi personel. Lebih dari 80
persen profesor riset berafiliasi ke perguruan tinggi, baik sebagai
pengajar, pembimbing skripsi, tesis, dan disertasi, serta penguji.
Sebaliknya, pada berbagai program dan kegiatan penelitian di lembaga
penelitian, pemerintah melibatkan staf pengajar baik sebagai peneliti,
narasumber, maupun sebagai panel ahli.

Menteri Pendidikan Nasional Prof Bambang Sudibyo ketika menyambut pengukuhan
Profesor Riset Indonesia pada 5 Januari 2005 sangat berharap kehadiran
profesor riset dapat meningkatkan kualitas pengajaran di perguruan tinggi.
Bersamaan dengan itu, mengalirnya suplai tenaga peneliti dari mahasiswa dan
dosen yang melakukan kerja penelitian di laboratorium lembaga penelitian
akan mengatasi kekurangan tenaga peneliti yang dikeluhkan lembaga penelitian
sekarang ini.

Sebenarnya, bila kita menilik program beasiswa riset yang diberikan
pemerintah asing dan lembaga internasional kepada peneliti dan staf pengajar
kita, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Tersedianya dana dan kesempatan
melakukan riset pascadoktor maupun untuk disertasi di universitas dan
pusat-pusat penelitian luar negeri menjadi petunjuk bagi pemerintah bahwa
sumber daya yang dialokasikan untuk riset masih kurang. Banyak sekali riset
mendasar yang dilakukan peneliti Indonesia yang kualitas ilmiahnya sangat
tinggi ternyata dilakukan di bawah kemitraan dan hibah riset asing.

Selain dampak positif tersebut, riset bersama dengan asing mengandung pula
potensi yang dapat merugikan. Sering kali riset bersama tersebut menempatkan
peneliti kita tidak dalam posisi seimbang, karena universitas dan badan
penelitian asing pemberi dana membatasi kita dalam menarik manfaat hasil
penelitian. Sumber dana asing juga mewakili minat dan kepentingan pihak
pemberi dana, yang apabila tanpa disertai kesadaran tinggi para peneliti,
dapat merugikan ditinjau dari kepentingan nasional. Mengalirnya informasi
dan kekayaan biodiversitas yang kita miliki adalah salah satunya. Adanya
upaya serius membangun iklim yang kondusif di lembaga-lembaga penelitian
kita, terutama dengan memperbaiki fasilitas dan insentif penelitinya, tentu
akan berpengaruh dalam mengupayakan kesejajaran peneliti kita ketika
berhadapan dengan mitra asing.

Di tengah keprihatinan kita akan merosotnya kualitas pendidikan dengan
semakin terbukanya persaingan global di bidang ini, rasanya momentum
mensenyawakan pendidikan dengan riset, yang telah lama diwacanakan, perlu
segera diwujudkan. *


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dosen-peneliti/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dosen-peneliti/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke