Sebenarnya hanya satu saja yang ditakutkan oleh pemerintahan China, masa
depan kekuasaan Partai Komunis, pemerintah hanya akan bergerak kalau
mengancam stabilitas politik dan ekonomi.

Pada 25 Juni 2010 10:31, ayen <[email protected]> menulis:

>
>
>
>  
> Maaf kalo reposting
>
>
>  Maaf Kalau Reposting
> China Membela Buruhnya!
>
> Kamis, 24 Juni 2010 | 03:13 WIB
>
> Oleh *I Wibowo*
>
> Mulanya adalah keprihatinan akan banyaknya buruh di pabrik Foxconn yang
> bunuh diri. Buruh- buruh di pabrik milik Taiwan itu ternyata menerapkan
> sistem kerja yang di luar kemanusiaan.
>
> Tempat kerja/tidur sempit, udara pengap, tempat peturasan yang berbau
> menyengat. Mereka dipaksa bekerja lebih dari 8 jam sehari dengan pengawasan
> ketat (kamera di mana-mana). Sistem hukuman yang amat kejam diterapkan untuk
> buruh-buruh yang terlambat. Dan mereka diberi upah amat rendah. Foxconn
> adalah perusahaan subkontraktor raksasa yang terletak di Shenzhen yang
> menghasilkan produk Apple yang tersohor, juga Dell dan Hewlett Packard.
>
> Ketika berita ke luar, serentak muncul reaksi keras dari masyarakat.
> Ternyata tidak hanya Foxconn yang memperlakukan buruhnya di luar batas
> kemanusiaan, ada banyak perusahaan lain. Buruh-buruh di tempat lain yang
> membaca laporan Foxconn marah, dan mereka disadarkan mereka juga mendapat
> perlakuan yang tidak kalah mengerikan. Demonstrasi dan pemogokan meledak di
> pabrik milik investor asing Jepang, Honda Lock di Zhongshan (Prov.
> Guangdong).
>
> Pemogokan dan demonstrasi oleh buruh bukanlah hal yang baru-baru ini saja
> terjadi di China. Di wilayah terkenal sebagai jantung manufaktur, di Delta
> Sungai Mutiara, Shenzhen, terjadi rata-rata 10.000 sengketa perburuhan.
> Namun, sengketa-sengketa itu biasanya diabaikan oleh manajer perusahaan.
> Seorang pejabat dikutip mengatakan bahwa sengketa itu biasa, seperti halnya
> cek-cok antara suami dan istri.
>
> *Serikat buruh tak berguna*
>
> Di China bukannya tidak ada serikat buruh. Partai Komunis China hanya
> mengakui satu serikat buruh, yaitu Federasi Buruh Seluruh China, seperti
> Indonesia di masa Orde Baru. Serikat buruh ini bertindak sebagai agen
> pemerintah dan partai. Para pengurusnya digaji oleh pemerintah, dan mereka
> bertugas memantau dan menghancurkan setiap gerakan buruh. Ketika terjadi
> konflik antara buruh dan manajemen, serikat buruh ini selalu berdiri di
> samping pemerintah dan pengusaha. Bahkan, mereka tidak segan-segan untuk
> menentang dan berkelahi dengan para buruh. Ini terjadi saat buruh pabrik
> Honda melakukan protes.
>
> Namun, hal ini tidak menyurutkan keberanian para buruh di China untuk
> memperjuangkan nasib mereka. Di banyak tempat muncul aktivis-aktivis yang
> dengan terang-terangan menentang perlakuan tidak adil terhadap para buruh.
> Mereka juga berusaha untuk mendirikan serikat buruh di luar serikat buruh
> resmi. Namun, Pemerintah memperlakukan mereka sebagai ”penjahat politik”
> atau ”antirevolusi”. Para aktivis itu akan ditangkap, dianiaya, dan
> dijebloskan ke penjara. Salah satu aktivis yang terkenal adalah Han
> Dongfang.
>
> Dalam koran International Herald Tribune, (17 Juni 2010), Han menulis:
> ”Yang kita saksikan sekarang adalah fase intensif aktivisme para buruh yang
> mencerminkan pemulihan ekonomi yang depat di China.” Buruh sadar ketika
> pertumbuhan ekonomi terus meningkat, mereka berhak juga atas keuntungan yang
> berasal dari situ. Namun, Han buru-buru menambahkan bahwa Pemerintah China
> juga telah gagal menanggapi masalah fundamental yang memicu semua sengketa
> itu, yaitu gaji yang rendah, tidak adanya saluran resmi untuk menyalurkan
> kepedihan para buruh, serta dilucutinya para buruh migran dari hak akan
> pendidikan, santunan kesehatan, dan santunan sosial lainnya.”
>
> *Perhatian Hu Jintao*
>
> Gelombang demonstrasi dan protes akhirnya menarik perhatian pemerintah
> pusat. Presiden Hu Jintao yang juga adalah Sekretaris Jenderal Partai
> Komunis China yang sejak awal kepemimpinannya menaruh perhatian besar kepada
> kaum papa tidak berlambat-lambat mengubah kebijakan dalam perburuhan. Pada
> tahun 2008 disahkan UU Kontrak Kerja, yang mengatur bahwa buruh yang sudah
> bekerja selama 10 tahun pada perusahaan yang sama berhak mendapatkan kontrak
> kerja ”tanpa batas”, dan memberinya jaminan kompensasi finansial sekiranya
> terjadi pemutusan hubungan kerja. Legislasi ini merupakan tonggak penting
> untuk menyelamatkan buruh yang tidak lagi menikmati status ”buruh tetap”.
>
> Dalam perayaan Hari Buruh 1 Mei 2010, Hu merayakannya dengan menganugerahi
> penghargaan bagi ”buruh teladan”. Sejumlah 2.115 buruh teladan mendapat
> anugerah dari Hu. Dia menyatakan bahwa para buruh telah ”memberikan
> kontribusi sangat jelas dalam mendorong kemajuan sosial dan ekonomi bangsa”.
> Parade buruh teladan yang diadakan pada 1 Mei dihadiri oleh semua pemimpin
> tertinggi Partai Komunis China.
>
> Beberapa minggu sebelumnya di bulan April, Hu Jintao menyatakan, kenaikan
> upah buruh tidak boleh ditunda-tunda. Hu rupanya merespons para demonstran
> yang menuntut kenaikan upah. Koran Rakyat (17 Juni 2010), corong resmi
> pemerintah, memuat perintah PM Wen Jiabao agar upah buruh dinaikkan.
>
> Maka, pabrik-pabrik, terutama milik investor asing, menaikkan upah buruh
> sampai ke tingkat 30 persen. Foxconn dan Honda yang dilanda demonstran
> paling besar menaikkan upah buruhnya 24-30 persen. Pengusaha-pengusaha
> mengeluhkan perkembangan baru ini, tetapi mereka dihadapkan pada pilihan
> risiko yang sulit antara menaikkan ekspor atau dilanda demonstran dan
> kerusuhan. Pemerintah China tak melarang demonstrasi para buruh.
>
> Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintahan Hu Jintao dan Wen Jiabao
> memang memperlihatkan ciri kebijakan yang berbeda dari pendahulunya. Jiang
> Zemin dan Zhu Rongji jelas- jelas cenderung kepada kebijakan yang bersifat
> neoliberal, yang berdasar race to the bottom. Hu maupun Wen mau membalikkan
> keadaan ini, terutama karena mereka berpegang pada visi tentang ”masyarakat
> yang harmonis” (hexie shehui). Kesenjangan sosial yang makin lebar antara
> yang kaya dan yang miskin, antara desa dan perkotaan, mereka sadari benar
> dapat mengancam stabilitas politik maupun ekonomi.
>
> Dalam hal ini baik Hu maupun Wen dapat dikatakan telah bergeser lebih ”ke
> kiri”, barangkali sesuai dengan suara keras yang didengungkan oleh para
> intelektual China yang tergabung dalam ”kiri baru” (xin zuopai). Kelompok
> ini mengecam fase pemerintahan Jiang dan Zhu yang mereka tuduh telah menjual
> bangsa. Salah satu tokoh penting adalah Cui Zhiyuan dari sebuah universitas
> paling terkemuka di China, Universitas Qinghua.
>
> *I Wibowo **Ketua Centre for Chinese Studies-FIB, UI
> *
>
> *
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/24/03132197/china.membela.buruhnya
> *
>
> --
> "One Touch In BOX"
>
> To post : [email protected]
>
> "Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius
> Syrus
>
> Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
> - Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
> - Hindari ONE-LINER
> - POTONG EKOR EMAIL
> - DILARANG SARA
> - Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
> Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
> - Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
>
> -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
> “Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi
> perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” --
> Otto Von Bismarck.
>
> "Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di
> belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
>
>
>
>
> --
> Sudiyanti (Ayen)
> Advocacy Division
> Trade Union Rights Centre
> Jalan Mesjid III No.1 Pejompongan, Jakarta 10210
> Telp. 62 21 5703929 Fax. 62 21 5708912
> [email protected]
>
>  
>

Kirim email ke