Halim HD adalah seniman dan aktivis rakyat asal Solo dari etnis Tionghoa. Berikut di bawah ini adalah tulisan tentang beliau oleh sahabatnya, Bung JJ Kusni, seorang seniman Dayak asal Kalimantan Tengah yang kini menetap di Paris.
tabik, PR ---------- Forwarded message ---------- From: sangumang kusni <[EMAIL PROTECTED]> Date: Oct 1, 2006 7:49 PM Subject: [dayak] surat mawar merah café bandar [1]: halim hd masih seorang pemimpi setia To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], matacerpen < [EMAIL PROTECTED]> Surat Mawar Merah Café Bandar: HALIM HD MASIH SEORANG PEMIMPI SETIA 1. Tak banyak kesempatanku berjumpa fisik dengan Halim HD. Bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Sekali pun demikian hubungan pribadi kami boleh dibilang sangat intens. Ketika ia bekerja di Amerika Serikat, aku pernah menunggunya di bandara JFK New York tapi akhirnya terpaksa kutinggalkan karena mengejar pesawat yang ke Washington DC.; Kemudian ia katakan ia terhalang menepati janji ketemu karena masalah kenderaan. Berkali-kali aku datang ke Solo mencarinya, tapi ia selalu tidak ada di rumah. Sedang bepergian kedaerah-daerah dan berbagai pulau. Tapi Halim selalu saja mencariku. Waktu aku bekerja di Palangka Raya, ia menelponku dan mengajakku serta dalam kegiatan sastra internasional yang sedang diselenggarakan di Makassar. Karena kegiatan yang cukup padat di Kalteng, ajakan ini tak bisa kupenuhi. Aku baru bisa menjumpainya beberapa jam di Solo saat balik kampung. Masih kuingat situasi waktu pertama kali bertemu. Aku mengucapkan "kulonuwun" karena karena kudengar ada suara air mengalir di belakang. Seorang lelaki langsing, berkulit kuning keluar setelah "kulonuwon" kuucapkan. Aku katakan bahwa aku mencari Halim HD. "Halim HD sedang mencuci pakaiannya", jawab lelaki setengah baya yang sedang menyambutku. "Tapi suara Anda seperti kukenal", ujar lelaki itu yang tak segera memperkenalkan dirinya. "Bagaimana Anda mengenalnya?" "Karena akulah orang yang Anda cari itu". "Buset". Kami berpelukan kuat. Itulah pertemuan pertama kami semenjak berttahun-tahun berkorespondensi dan sempat bersama-sama mengusulkan agar Wiji Thukul mendapatkan Wertheim Award berdasarkan kumpulan puisi stensilan Wiji. Dan berhasil. Pertemuan kedua kali kami berlangsung waktu peluncuran buku Agustus 2005 tahun lalu di Solo. Itu pun hanya beberapa jam karena kemudian, Halim HD, malam itu juga harus ke Malang menggunakan bus malam. Dan aku meneruskan perjalananku. Berapa banyakkah sastrawan-seniman yang berbuat seperti Halim HD di negeri ini? Perlukan manusia budayawan seperti ini? Bagiku sendiri jika sikap dan tindakan serta langkah-langkah Halim HD ini dipandang "gila", barangkali justru kita kekurangan "orang gila" seperti ini. Untuk Republik dan Indonesia yang benar-benar Republiken dan berkindonesiaan, kita justru memerlukan orang-orang "gila" seperti Halim HD.Barangkali! Republik Indonesia pun bisa berdiri karena adanya orang-orang "gila" yang sanggup menabur benih ide "merdeka sekarang juga" , "merdeka atau mati" di hadapan kekuatan kolonial yang masih tangguh. Halim HD secara nyata memperlihatkan dan mempraktekkan jalan lain tak jamak bagi sastrawan-seniman dan budayawan. Bukan tidak mungkin usaha Halim HD ini, tak obah sepercik bunga api yang cepat atau lambat akan membakar padang ilalang. Memberi dasar budaya tanggap dan apresiatif bagi republik dan Indonesia yang sesungguhnya. Yang menarik bahwa dalam kegiatan-kegiatannya di berbagai pulau dan daerah, Halim HD tidak menggantungkan diri pada dana luar tapi bersandar pada kekuatan komunitas-komunitas daerah dan pulau. Artinya , uang bukan segala-galanya baginya. Walau pun tidak berarti ia tidak memerlukan dana. Dalam sejarah kegiatannya, lelaki setengah baya ini pun tidak mengejar nama. Tapi lebih kepada kerja melaksanakan mimpinya tentang apa yang dinamakan sastra-seni dan kebudayaan republiken dan berkindonesiaan. Bepergian dari pulau ke pulau, dari daerah ke daerah adalah salah satu ciri Halim HD. Kutafsirkan kepergiannya, sehubungan dengan konsep sastra-seni kepulauan dan penghargaan tingginya pada sastra-seni daerah dan pulau yang sangat pontesial. Lagi pula sesuai dengan konsep Republiken dan keindonesiaan. Halim HD sangat mengagumi potensi sastra-seni rakyat berbagai daerah dan pulau tanahair tapi kurang dilirik serta diperhatikan oleh elit kebudayaan apalagi pemerintah baik pusat atau pun daerah sendiri. Dalam usaha melaksanakan konsep sastra-seni kepulauan ini , Halim HD sering berpergian sehingga Solo tidak lebih dari kemahnya, dan mendorong pembangunan komunitas-komunitas sastra-seni di berbagai pulau serta daerah. Hasil karya komunitas-komunitas ini pernah kusaksikan dalam pergelaran mereka di Solo beberapa tahun lalu dan bagiku sangat mengesankan baik dari segi bentuk mau pun dari segi isi atau pesan. Apa yang kusaksikan dari pementasan itu adalah padunya isi dan bentuk walau pun dilakukan dengan segala keterbatasan sarana. Dari pementasan musik, tari, puisi dan teater yang kusaksikan, kudapatkan bahwa komunitas-komunitas ini sangat mewakili daerah mereka. Permasalahan daerah diungkapkan, ciri seni lokal dimanfaatkan sebaik mungkin dalam pengungkapan masalah, sehingga malam pementasan itu mencerminkan kemajemukan negeri. Bahwa benar kebhinnekaan adalah adalah suatu kekayaan bagi kita. Usai melihat pertunjukan ini aku merasakan benar makna rangkaian nilai yang dikandung oleh kata-kata Republik dan Indonesia serta ketepatan rumusan filosof Perancis yang meninggal Mei tahun lalu, Paul Ricoeur: "kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu tunggal". Agaknya nilai-nilai dan pandangan inilah yang memberi Halim HD suatu kekuatan dan elan tak kunjung buram bahkan selalu memberikannya api untuk senantiasa ke akar rumput di samping mencoba menautkan lapisan elite dan akar rumput. Ketika tahun ini , tepatnya akhir Agustus 2006 aku ke Indonesia, mengganti gagalnya aku menemuinya di Solo, ia mengirimku sepucuk surat listrik ke Paris seperti berikut: ----- Original Message ----- From: "halim hd" To: <[EMAIL PROTECTED] <katingan%40club-internet.fr>> Sent: Tuesday, September 19, 2006 1:12 PM Subject: kabar kabur dari makassar. bung, sudah setahun terakhir ini saya keliling ke desa-desa di sulsel dan sulbar. kondisi lembaga kesenian di kota makin jelek. sementara itu pendukung khasanah tradisi yang ada pada para keluarga posisinya makin marjinal, dan hanya dijadikan lip service oleh para pejabat. bersama beberapa teman muda saya berusaha untuk membikin lingkaran pertemuan kecil dengan para keluarga itu. mungkin tahun depan ada beberapa acara di sulbar yang akan jalan. sementara itu, lontaran saya untuk dan dengan tema silaturahmi tradisi secara kecil-kecilan yang dimulai pada agustus yang lalu, kini bergulir secara kecil-kecilan di kecamatan tinambung, sulbar, dengan memanpaatkan teras-teras rumah keluarga, dan mengundang kaum muda untuk kembali merenungi posisi khasanah tradisi dalam perubahan sosial dan kebudayaan. gagasan silaturhami itu berkaitan dengan kondisi politik pilkada yang nampak cenderung mengundang konflik sosialk-politik diantara kaum muda pendukung calon masing-masing. ketika saya diundang ke sulbar untuk kesekian kalinya dalam setaon terakhir ini, saya mengajak kaum muda untuk melakukan silaturahmi. saya sendiri agak pesimis. tapi, harus ada sesuatu yang dikerjakan. bagaimana dengan keadaan bung? salam hangat untuk anda beserta keluarga. halim hd. - di makassar. Apa yang kubaca dari surat ini? Paris, Oktober 2006. --------------------------- JJ. Kusni [Bersambung......] --------------------------------- Meet your soulmate! Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
