Mumpung mau bulan puasa sekalian aja minta maaf dulu ya, utk hal apa pun. Sorry saya agak telat posting post-interlagos karena selama seminggu ngendon di RS jagain anak yg terbaring loyo. Syukur alhamdulillah sekarang udah sembuh. Gara2 ingat mesti posting milis, saya sampai ngisi angket di RS pada bagian "fasilitas apa yang perlu ditambahkan" saya jawab simpel: internet rental, kalau perlu yg 24 jam.
Fernando Alonso resmi kini sudah bukan pangeran lagi, dia sdh jadi raja. Bedanya, raja yg satu ini gak abadi, yg baru diganti setelah dia mangkat. Kalau di pemerintahan mungkin spt di Malaysia, di mana "raja" dipilih secara bergilir dari masing-2 provinsi. Kalau kembali ke Alonso, sampai kapan dia bakal jadi raja? Akankah tercipta Era Alonso, seperti halnya Era Schumi dan Era Senna/Prost? Prediksi awal saya mengatakan: kecil kemungkinan itu terjadi. Ada beberapa penyebab. Pertama: Alonso sendiri mengatakan dia tak akan lama di F-1, tidak akan sampai umur 35-an seperti Schumi. Kedua: Alonso sendiri mengatakan dia sdh mencapai impiannya: jadi juara dunia, plus termuda lagi. Ketiga: Pat Symonds, pembanding pas antara Alonso dan Schumi karena pernah menangani keduanya, mengatakan Alonso tak terlalu suka tes. Keempat: Alonso punya rival yg kalau diberi mobil reliable akan sulit ditaklukkan: Kimi dan JPM. Kelima: masih ada Jenson Button yg di tahun 2004 terbukti bisa lebih bagus dari Alonso. Keenam: Schumi belum mau pensiun. Ketika Alonso mengatakan dia bukan dari negara dgn kultur F-1 bagus, tapi punya juara dunia, semestinya itu jadi nilai tambah yg besar. Namun kemudian dia mengisyaratkan rasa puas diri, teramat puas bahkan. Benar, kini dia tak punya beban apa pun di sisa kariernya di F-1 yg sudah dipatoknya sendiri tak akan berumur panjang, maksudnya mungkin tak melebihi usia 30. Tapi, memang, biasanya status The Youngest (juara dunia, pemenang GP, podium, pole sitter) di F-1 terkadang jarang membawa seseorang jadi one of The Greatest. Emerson Fittipaldi sampai sblm rekor juara dunianya patah oleh Alonso dianggap kalah pamor dari Senna (sesama Brasil) atau Jackie Stewart (pembalap seangkatan). Rubens Barrichello (pemegang pole termuda sebelum Alonso) sampai skrg juga biasa2 aja. Satu2nya "harapan" Alonso adalah dia kini memegang semua rekor termuda. Barangkali karena dipegang oleh satu orang maka akan jadi spesial jadinya. Pat Symonds waktu di Benetton dulu melihat Schumi muda dan kini melihat Alonso muda. Dia menyorot banyak kesamaan antara keduanya, yg gak perlu diperjelas panjang lebar apa itu karena sudah banyak yg tahu. Satu hal yg disorot Pat adalah Alonso gak hobi tes, seperti halnya Schumi. Padahal, itu adalah salah satu faktor kenapa The German bisa kayak sekarang. Dan di F-1 modern, tes adalah unsur paling besar dlm menentukan perjalanan seorang pembalap atau tim. Di Ferrari, jangankan Schumi yg tes, pembalap lain yg tes aja mesti report ke dia (atau Schumi sendiri yg telepon) tentang perkembangan hasil tes, bad or good. Makanya, Schumi bisa dgn cermat memprediksi akan spt apa penampilannya, relatif dibanding pesaing tentu. Masih ingat cerita wartawan yg kelelahan karena mengikuti tes Schumi di Fiorano? Cerita ini dulu termuat di F1 Racing. Soal para pesaing, berpijak pada 2005 ke 2006 kayaknya McLaren akan jadi yg terdepan utk urusan title contender. Kimi dan JPM sdh memperlihatkan gak ada ampun bagi siapa pun kalau ingin menang di suatu GP. Kimi sudah mewanti-wanti Alonso, silakan pesta skrg tapi jgn lupa mempersiapkan diri lebih keras karena tahun depan Alonso bakal kesulitan lawan dia dan McLaren. Sebuah warning yg masuk akal. Dgn tambahan masih ada Schumi, Button, Barrichello, dan regulasi baru 2.4 V8, Alonso wajib merefleksi diri sendiri. Dia harus meng-explore semua potensi yg belum mencuat dari dirinya. Spanyol di F-1 gak punya sejarah hebat sblm Alonso, tapi di motorsport punya. Ada Carlos Sainz dan Alex Criville. Alonso gak boleh mengikuti mental tim sepakbola Spanyol, yg sampai skrg belum juga sukses di Piala Dunia. Untuk itulah dia mesti mengikuti langkah klub favoritnya, Real Madrid, yg merupakan Klub Terbaik Abad 20, dgn segudang prestasi di dalam negeri, Eropa, dan antarklub dunia. Meminjam kisah Dora The Explorer, Alonso The Explorer harus menemukan partner sehebat Boots kalau ia ingin menciptakan Era Alonso. Karena, Swiper-Swiper berkeliaran di sekeliling dia utk mencuri gelar idaman itu. MAGIC #5 Sejak standar penomoran mobil diberlakukan di F-1 tahun 1973, nomor 5 punya daya magis yg tinggi, bahkan tertinggi selain nomor 1. Mobil dgn nomor 5 ini sudah melahirkan delapan juara dunia dari sembilan kesempatan, atau terbanyak ketimbang mobil bernomor selain 1. Mereka adalah Jackie Stewart (1973), Emerson Fittipaldi (1974), Mario Andretti (1978), Nelson Piquet (1981 and 1983), Nigel Mansell (1992), Michael Schumacher (1994), Damon Hill (1996), dan tentu saja Fernando Alonso (2005). Kalau magic ini berlanjut tahun depan, pembalap2 muda patut waspada karena ternyata nomor itu sepertinya akan nempel di mobil merah lagi. KIMI, BETTER DRIVER? Benarkah Kimi the better driver? Kalau kita hapus faktor luck dan paket mobil, maka tinggallah head-to-head utk urusan kualifikasi dan race management. Utk kualifikasi, Kimi jelas jauh lebih baik dari Alonso. Berulangkali dia mampu lebih cepat dari Alonso walau bahan bakar di mobilnya lebih banyak. Jadi jelas, patokan hebat di kualifikasi ini bukan dia menempati pole apa nggak (karena faktor bahan bakar), tapi kualitas dia melahap satu lap dgn bahan bakar yg tersedia. Utk ini, kalaupun Kimi kalah, tapi dgn membandingkan kondisi bahan bakar di mobilnya, kekalahan itu tidak sebanding dgn misalnya kalau kedua mobil diisi bahan bakar yg sama. Demonstrasi Kimi di hari Sabtu ini bahkan menurut saya mengalahkan apa yg diperlihatkan Jarno Trulli, another great qualifier, bersama Toyota. Cepat utk single lap ini juga membawa Kimi menjadi pembalap yg paling sering membuat fastest lap saat lomba, di mana sampai GP Brasil dia sudah 8 kali melakukannya. Soal race management, ini kompleks. Tapi kesimpulan mudah adalah Kimi made more mistakes than Alonso. Tercatat, kesalahan Alonso di race hanya terjadi sekali, tepatnya di GP Kanada ketika dia nabrak tembok di saat leading. Selebihnya, dgn pemikiran matang dan target jelas: juara dunia, Alonso seperti menutupi diri bahwa umurnya baru 24 tahun. Very smart, very mature. Dlm catatan saya Kimi melakukan, tepatnya mengalami, hal-hal yg semestinya tidak terjadi, kalau tidak itu disebut sebagai kesalahan. Yg paling kentara tentu di Nurburgring, ketika dia dgn alasan dpt persetujuan tim, memaksakan diri finis ketika ban sudah flat-spot sampai suspensi rusak. Lalu di GP Jerman ketika dia sudah leading jauh, tapi "salah pencet" tombol sehingga mobil ngadat. Di Prancis, ketika dia punya kesempatan menang kalau mau nge-push mobilnya, Kimi malah merasa aman settle di tempat kedua di bawah Alonso. Di Brasil juga begitu, walau kondisinya gak sama persis, karena kalau mau Kimi bisa nge-push lagi utk membuktikan diri bhw dia memang lebih kencang dari JPM, bukan karena team order yg sudah tidak diperlukan itu. 2005 Kimi punya better car, tapi dia kalah dari Alonso. 2004 Kimi punya worse car, dan dia juga kalah dari Alonso. Paling enak memang membandingkan kedua pembalap ada dalam satu tim. Jadi intinya, Kimi, menurut saya, belum tentu the better driver than Alonso tahun ini. McLAREN, BEST CAR Setelah lima tahun menunggu, McLaren akhirnya bisa finis 1-2 lagi. Mestinya, melihat kondisi terkini, finis 1-2 bagi Silver Arrows terjadi bukan hanya sekali. Klasemen konstruktor kini mereka kuasai dan sepertinya sulit direbut kembali oleh Renault, kecuali ada masalah reliability yg menimpa McLaren lagi. Kehebatan mobil McLaren terlihat ketika dgn bahan bakar lebih banyak saja JPM mampu dengan mudah menyusul Alonso di lap ketiga. Alonso mengakui keunggulan McLaren ini. Yg mencengangkan adalah ternyata Kimi masuk pit stop jauh lebih lama, 9 lap belakangan dari Alonso, dgn gap antara Alonso-Kimi sebelum Alonso masuk pit di lap 22 relatif stabil. Setelah Kimi masuk pit, dan keluar lagi, dia sudah di depan Alonso dan gak terkejar sejak itu. Setelah itu fastest lap adalah trading antara JPM dan Kimi. Dgn lima seri terakhir dimenangi McLaren (mestinya tujuh, kalau di Jerman Kimi gak error), sdh terbukti MP4-20 adalah best car of 2005. EMMO AT BRANDS HATCH Timing yg pas bagi Emmerson "Emmo" Fittipaldi utk melihat rekornya pecah dari kejauhan. Boleh dibilang, inilah win-win solution. Di Brands Hatch, Emmo menukangi tim A1GP Brasil yg sukses memenangi 2 seri awal (lewat Nelson Piquet Jr.) lomba yg langsung spektakuler di kesempatan pertamanya itu. Dia tersenyum lebar di sana. Bayangkan kalau hari Minggu itu dia ada di Interlagos, melihat rekor juara dunia termuda-nya dihapus oleh rekor baru milik Alonso. Akhirnya, secara sportif Emmo pun mengakui bahwa Alonso pantas jadi juara dunia, walau dalam hatinya ia ingin Kimi yg sukses karena berarti rekornya tak pecah. "SCHUMACHER WHO" T-SHIRT Saya bersyukur tim Renault tidak mengagung-agungkan dan memblow-up lebih kasus t-shirt "Schumacher Who". Orang ini mesti diajari tata krama berkompetisi secara sehat. Ketika McLaren sukses di era Mika Hakkinen, mereka tidak meledek Ferrari dgn t-shirt seperti itu. Di saat Ferrari merajai dunia selama lima tahun, tak satu pun t-shirt yg menjelek-jelekkan tim lain, apalagi khusus ke nama tertentu. Satu2nya ekspresi "berlebihan" Ferrari adlh ketika mereka meraih double-winners pertama tahun 2000, dgn parade wig merah di Malaysia. Itu jelas tidak menyinggung siapa pun. Yg menarik, Schumi tidak merasa tersinggung akan ulah sang mekanik. Dia bahkan dgn sabar menunggu di pit Renault utk memberi selamat kepada Alonso. Saat itu Alonso baru dpt telepon dari raja Spanyol dan sedang melayani kru TV utk press conference resmi. Ketika Schumi memberi selamat sambil memegang kepala dan muka Alonso bak adiknya sendiri, semua kagum. Bahkan Schumi kemudian bilang ikut bahagia dgn kru Renault, termasuk sang mekanik tentu, karena mereka sdh menunggu lama utk jadi juara dunia lagi. Terakhir adalah saat Schumi sendiri jadi juara dunia bersama mereka (Benetton) tahun 1994-95. Ledekan dibalas simpati. Itu yg membedakan pembalap yg sudah tujuh kali juara dunia dgn mekanik yg timnya jarang juara. TYRE WAR BRIDGESTONE 1, MICHELIN 16 Bridgestone pakai spec 2004? Ini jadi topik menarik di Interlagos. Tidak total, memang. Menurut mereka, beberapa bagian tertentu dari spec 2004 di Interlagos masih cocok utk dipakai di tempat yg sama setahun kemudian. Tapi, dampak yg dihasilkan luar biasa. Ban itu konsisten sejak start hingga finis. Bahkan, aksi Schumi menahan Fisichella (setelah sempat menyusulnya di lap 1, kemudian disusul ulang oleh Fisichella) adalah cerminan Bridgestone jauh lebih kompetitif. Udara mendung ikut mempengaruhi konsistensi Bridgestone. Michelin gak perlu diomongin lagi. Ban ini masih terlalu hebat utk dijadikan benchmark musim ini. IMPROVED FERRARI Schumi menahan Fisichella adalah pencapaian luar biasa Ferrari di Interlagos. Yg menarik adalah itu juga tercermin dari fastest lap yg dibuatnya, di mana Schumi juga lebih cepat dari Fisichella. Dgn tambahan Barrichello finis keenam dan fastest lap-nya hanya kalah 0,002 detik dari Fisichella, F2005 memang improved. Kalau sudah begini, Toyota pasti sulit meredam Ferrari utk memperebutkan posisi ketiga konstruktor. RUBENS-JENSON TUSSLE Calon teman tahun depan, tapi duel mereka asyik dilihat di Interlagos. Rubens termotivasi ini balapan kandangnya dan mobilnya jauh lebih cepat dari mobil Jenson. Berkali-kali dia mencoba menyusul Jenson, tapi gagal karena Jenson bagus mempertahankan posisinya. Tapi, di lap 44, Button gak tahan mendapat serangan bertubi-tubi Rubens. TIAGO'S FIRST DNF Percaya atau tidak, Tiago Monteiro adalah pembalap yg selalu finis (walau bukan berarti harus dpt poin) di musim ini sampai sebelum GP Brasil. Terhitung, ia finis di 16 GP! Sebuah catatan hebat bila melihat timnya, Jordan, yg rentan terhantam masalah reliability. Sayang, di Interlagos gara-gara oil leak ia harus terhenti. Tiago gagal mendekati rekor2 Schumi. Schumi finis di 24 GP berurutan dari GP Hongaria 2001 ke GP Malaysia 2003. Rekor nomor 2, 18 kali non-DNF tanpa putus, juga dipegang Schumi dari GP San Marino 2003 sampai GP Spanyol 2004. Bagaimanapun, bravo Tiago! salam, arief k. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
