Bacaan menarik semoga bermanfaat...


---------- Forwarded message ----------
From: sautsitumorang <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/8/13
Subject: [kunci-l] Fwd: SULFIKAR AMIR: Kisah Pendukung Utama Kenaikan BBM
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]


  --- In [EMAIL PROTECTED] <ppiindia%40yahoogroups.com>, A Nizami
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=991997

[Berita] Kisah Pendukung Utama Kenaikan BBM "Freedom-Rizal
Mallarangeng-Institute" Selingkuh Freedom Institute?

Oleh Sulfikar Amir

SELINGKUH itu indah", begitu bunyi frase yang sempat populer di
Jakarta. Selingkuh bagai fenomena "wajar", yang bagi kalangan
tertentu dianggap rekreasi yang menantang. Tetapi, wajarkah bagi
intelektual untuk melakukan selingkuh dengan pemegang kekuasaan?

Pertanyaan ini menjadi penting dalam kontroversi iklan Freedom
Institute yang mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga
BBM. Lepas dari tujuan "mulia", iklan itu "selain membujuk
masyarakat" juga untuk "meyakinkan dan mendorong pemerintah untuk
segera dan tidak ragu mengambil kebijakan tepat" (Rizal Mallarangeng,
Kompas 3/3), aroma selingkuh mudah merebak ke publik. Ada dua faktor
yang menggoda kita mengambil kesimpulan selingkuh.

Pertama, koneksi antara Freedom Institute dan Menteri Koordinator
Perekonomian Aburizal Bakrie, pengusaha besar yang juga penyandang
dana Freedom Institute. Oleh karena itu, tidak sulit untuk melacak
kepentingan apa yang bermain di sini. Se-freedom apa pun Freedom
Institute, pengaruh Aburizal atas sikap dan dukungan pusat studi ini
tentu tidak dapat dinafikan begitu saja.

Kedua, aliran ideologi. Freedom Institute adalah salah satu kantung
liberalis di Indonesia. Ini terlihat dari orientasi pemikiran
Direktur Freedom Institute Rizal Mallarangeng, liberalis tulen yang
menulis disertasi tentang dinamika gagasan liberalisme ekonomi di
Indonesia. Karena itu, tidak heran jika kenaikan harga BBM yang
didukung Rizal dan rekan-rekan dimaknai sebagai bentuk kemenangan
kaum liberal ("Kenaikan BBM, Kemenangan Neoliberal", Kompas 3/3).

Semenarik apa pun kesimpulan yang dapat diambil dari relasi kekuasaan
dan kepentingan yang ada dalam kasus iklan Freedom Institute tidak
mudah untuk menjawab pertanyaan apakah Freedom Institute telah
berselingkuh atau tidak. Kalaupun benar, dana iklan Freedom Institute
yang berbiaya besar (Effendi Gazali, "(Maaf) Tak Mampu Beriklan",
2/3) itu berasal dari Aburizal, "pemilik" Freedom Institute, itu
belum cukup menjelaskan apakah selingkuh atau, seperti kata Rizal,
pemihakan pada gagasan.

RIZAL menegaskan, "selingkuh" kaum intelektual adalah hal wajar.
Dikemukakan beberapa nama seperti Condy Rice dan Henry Kissinger.
Bahkan, Soekarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir pun dianggap
ber-"selingkuh" dengan kekuasaan. Hati-hati dengan klaim ini.

Pertama, kita harus bisa memisahkan kaum profesional dan kaum
intelektual. Kaum profesional adalah pengguna pengetahuan yang
cenderung bersikap taken for granted dengan pengetahuan yang
dimiliki. Sementara kaum intelektual adalah penghasil pengetahuan
yang senantiasa bersikap kritis dan reflektif terhadap bentuk dan
implikasi dari pengetahuan.

Kedua, kita harus bisa memberi batasan antara intelektual dan
politisi. Mencampuradukkan keduanya akan membuat pemahaman kita
ambivalen.

Namun, lepas dari catatan kecil ini, apa yang disampaikan Rizal
sebagai respons terhadap tuduhan selingkuh adalah indikasi bagaimana
bingungnya kaum intelektual di Indonesia tentang posisinya di
masyarakat. Apakah kaum intelektual harus steril dari jaringan
kekuasaan? Apakah pengetahuan sebagai cultural capital kaum
intelektual harus benar-benar murni dari berbagai kepentingan? Jika
semua tuntutan netralitas dan obyektivitas menjadi syarat bagi sebuah
intelektualisme, apakah itu dapat terjadi atau hanya sekedar utopia?

Dalam tulisan "Cendekiawan Bukan Malaikat" (Kompas, 15/12) saya
jelaskan, bagaimanapun dan di mana pun juga kaum intelektual
senantiasa bersinggungan dengan kekuasaan. Berbagai bentuk
pengetahuan yang dihasilkan kelas terdidik ini tidak pernah lepas
dari pengaruh kepentingan yang datang melalui berbagai saluran
politik, sosial, ekonomi, atau budaya. Tetapi, harus dicatat,
kekuasaan yang berhimpit pada kaum intelektual tidak harus dilihat
semata-mata dalam makna represif dan otoritatif. Kekuasaan itu adalah
aliran energi yang memungkinkan interaksi antara elemen masyarakat
terjadi secara dinamis dan harmonis.

Mungkin inilah yang ingin dilakukan Freedom Institute dengan
menjadikan iklan sebagai media kekuasaan yang dinamis. Oleh karena
itu, Rizal menantang kaum penentang kenaikan harga BBM untuk membuat
iklan serupa. Tantangan ini sedikit naif karena protes dan
demonstrasi menentang kebijakan itu terjadi di mana-mana. Kaum
intelektual penentang kebijakan BBM tidak perlu menghabiskan ratusan
juta rupiah untuk menunjukkan sikapnya. Tetapi, yang lebih penting
untuk dicermati adalah bagaimana kekuasaan intelektual itu dimainkan
Freedom Institute.

Jika kembali kepada prinsip bahwa kaum intelektual senantiasa
bersikap kritis dan reflektif terhadap pengetahuan dan konsekuensinya
bagi masyarakat, dukungan Freedom Institute terhadap kebijakan BBM
yang diekspos secara mewah adalah tindakan tergesa-gesa. Apa pun
logika dan argumen yang digunakan serta secanggih apa pun model
ekonomi yang dipakai dalam mengambil kebijakan harga BBM, sebagai
lembaga studi yang independen selayaknya Freedom Institute bersikap
kritis dan reflektif terhadap keputusan pemerintah dan tidak
mendahului reaksi publik terhadap kebijakan itu.

Dukungan secara terbuka justru menimbulkan pertanyaan tujuan iklan
itu. Apakah dengan adanya dukungan itu membuat masyarakat mau
mengerti dan menerima kebijakan kenaikan BBM saat mereka menghadapi
realitas hidup yang kian sulit akibat kebijakan itu? Lain halnya jika
Freedom Institute adalah think tank resmi pemerintah yang melakukan
penelitian kebijakan yang akan diambil pemerintah. Jika ini yang
terjadi, dukungan Freedom Institute tidak akan menjadi masalah.
Namun, Freedom Institute adalah lembaga studi independen. Oleh karena
itu, terasa janggal jika sebuah lembaga independen memberi dukungan
penuh pada kebijakan pemerintah lepas dari setuju-tidaknya mereka
pada kebijakan itu. Kaum intelektual memang tidak pernah lepas dari
faktor kekuasaan, tetapi apa yang ditunjukkan Freedom Institute
adalah bentuk submissive terhadap pihak otoritas.

APAKAH Freedom Institute telah berselingkuh?

Selingkuh atau tidak sebenarnya tidak relevan lagi jika kita melihat
fenomena ini secara lebih luas. Hebohnya kasus iklan Freedom
Institute tidak hanya bukti, bagaimana carut- marutnya proses
pembuatan kebijakan yang terlalu bertumpu pada pandangan sepihak
pemerintah, tetapi juga menunjukkan bagaimana kaum intelektual kikuk
saat berhadapan dengan sumber-sumber kekuasaan yang berasal dari
birokrasi dan pemilik modal.

Ini bukan soal pilihan "rasional" kaum intelektual, tetapi sebuah
kondisi struktural dari sejarah panjang relasi antara kaum elite
terdidik dengan pemegang otoritas publik. Kaum intelektual masa kini
adalah jelmaan kaum priayi masa lalu yang merupakan subordinasi kaum
penguasa. Oleh karena itu, tantangan kaum intelektual masa kini
adalah mencari sosok jati diri yang otonom dan lepas dari bayang-
bayang masa lalu. Dengan begitu, kaum intelektual dapat menggunakan
kekuasaannya secara bijaksana.

Sulfikar Amir Kandidat Doktor di Dept Science and Technology Studies,
Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York

http://64.203.71.11/kompas-cetak/050...ni/1600946.htm




-- 
Rgds,
Kamaruddin Azis
http://daengnuntung.com
[make it simple, make it works]

Kirim email ke