Purnomo
03/23/99 03:35 PM
Saya pernah dikirimkan milis mengenai ragam & manfaat teh dari
listOwner-sdm-Indonesia (dibawah ini) tapi tidak khusus untuk pertumbuhan
anak, mungkin informasi ini dapat membantu Bapak.
copy from intisari on line
MENGENAL RAGAM & MANFAAT TEH
Bila dibandingkan dengan jenis minuman lain, teh ternyata lebih banyak
manfaatnya. Minuman ini bisa mencegah atau membantu penyembuhan
penyakit ringan sejenis influenza hingga yang berat macam kanker.
Jenis tehnya juga bisa dipilih menurut selera masing-masing.
Di antara sekian banyak jenis minuman, teh termasuk minuman paling
banyak dikonsumsi masyarakat. Di Indonesia, semua kalangan, dari bawah
hingga atas, tak ada yang tak mengenal minuman khas Asia ini. Di Bumi
Parahyangan, Jawa Barat, umpamanya, minuman teh menjadi minuman wajib
untuk menjamu tamu. Di rumah makan atau warung Sunda pun setiap tamu
selalu disodori minuman teh tawar lebih dulu sebelum makanan atau
minuman yang dipesan disajikan.
<Picture: Upacara minum teh di Jepang>Bahkan, di Jepang dikenal adanya
upacara minum teh. Rangkaian upacara ini diawali dengan pembersihan
teko penyajian, memasak air, menuang teh hijau ke dalam teko tadi,
menuang air panas ke dalamnya, mengaduknya sampai rata dan berbuih,
serta kemudian menyajikannya pada tamu dengan tata cara khas Jepang.
Mesti upacara ini kelihatannya sederhana, tapi ada suatu getaran
ritual dilibatkan, yang membuat upacara minum teh ini suatu seni yang
bertahan berabad-abad hingga sekarang.
Mengatasi flu hingga kanker
Selain nilai-nilai kultural dan ritual tadi, minum teh ternyata
memberi pula manfaat kesehatan. Dari hasil penelitian ilmiah, teh
memiliki kemampuan menghambat pembentukan kanker. Teh juga mampu
mencegah penyakit jantung dan stroke. Minuman alami ini terbukti pula
mampu menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, dan
menurunkan kolesterol dalam darah.
Teh pun bisa membantu meningkatkan jumlah sel darah putih yang
bertanggung jawab melawan infeksi. Terutama teh hijau, bisa mencegah
serangan influenza. Bahkan, bahan minuman dari pucuk daun Camellia
sinensis ini bisa memperkuat gigi, melawan bakteri dalam mulut,
mencegah terbentuknya plak gigi, serta mencegah osteoporosis.
Di dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan
makanan dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Prof. Dr.
Sumarno Poerwo Soedarno, ketika menjabat staf ahli Menteri Kesehatan
bidang teknologi kesehatan menyatakan kebiasaan minum teh dapat
menurunkan angka serangan diare. Di dalam buku Shennong Bencao,
Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat dinetralisir oleh
teh. Dengan kemampuan antibakterinya, teh membantu menghambat infeksi
tenggorokan. Penelitian juga menunjukkan, meminum teh memperbaiki
konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Lebih dari itu, teh bisa pula digunakan sebagai obat luar untuk
beberapa penyakit. Di Cina, umpamanya, teh hijau digunakan sebagai
obat rumah untuk menyembuhkan luka atau mencegah penyakit kulit dan
penyakit kaki karena kutu air.
<Picture>Selain itu, semua bagian tanaman teh juga bisa digunakan
sebagai bahan-bahan kosmetik. Di antaranya, untuk lotion; cream
antiseptik; produk-produk perawatan rambut macam shampo atau
conditioner; perawatan mulut seperti pasta gigi, mouthwash, dan
pelindung bibir; deodoran; produk pembersih macam sabun atau pembersih
kulit; perawatan tubuh seperti hand & body lotion; perawatan kaki; dan
produk-produk pelindung tubuh dari sengatan matahari atau yang
diperlukan selama perjalanan. Barangkali produk kosmetik dari tanaman
teh ini belum dikenal secara luas, namun produk tersebut sudah bisa
dipesan lewat jaringan Internet.
Beragam manfaat teh tadi tentu tak lepas dari keberadaan
senyawa-senyawa dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Setidaknya
terdapat 450 senyawa organik dan lebih dari satu senyawa anorganik
bisa ditemukan dalam daun teh. Menurut Tea Board India, dalam
secangkir teh terkandung energi sekitar 4 kkal, di samping flour,
mangan, vitamin B kompleks, asam nikotinat, dan asam pantotenat.
Hasil penelitian membuktikan teh mengandung senyawa utama yang disebut
polyphenol, sejumlah vitamin (niacin atau vitamin B kompleks seperti
vitamin B1 dan B2; serta vitamin C, E, dan K), dan mineral (a.l.
mangan, potasium, dan fluor). Kandungan vitamin B2 teh kira-kira 10
kali lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada sereal dan
sayuran. Vitamin C-nya pun lebih tinggi dari buah apel, tomat, atau
jeruk. Dengan kata lain, dua cangkir teh hijau memiliki vitamin C sama
banyaknya dengan segelas besar jus jeruk.
Di dalam teh juga terkandung kafein. Pada teh hijau juga ditemukan
adanya catechin, r-amino butyric acid, flavonoid, polisakarida, dan
fluoride. Tak ketinggalan, minyak esensial yang memberi teh aroma khas
dan keharuman.
Senyawa antioksidan di dalam teh yang disebut polyphenol misalnya,
diketahui memiliki kemampuan melawan kanker. Senyawa yang sama juga
memberi efek positif berupa pencegahan penyakit jantung dan stroke.
Senyawa antioksidan tsb. dapat pula memperlancar sistem sirkulasi,
menguatkan pembuluh darah, dan menurunkan kadar kolesterol dalam
darah. Dengan polyphenol, teh membantu pula dalam penambahan jumlah
sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi. Bahkan,
polyphenol mengurangi pembentukan plak dengan mempengaruhi kerja
bakteri mulut.
Sementara, kemampuan teh dalam mencegah dan melawan flu tak lepas dari
peran vitamin C-nya yang tinggi, terutama pada teh hijau. Vitamin ini
juga bisa menurunkan stres.
Kalau seorang dokter gigi menyarankan pasiennya minum teh untuk
memperkuat gigi, Anda tak perlu heran. Itu terjadi lantaran dokter
tersebut tahu bahwa teh kaya fluoride, suatu mineral yang juga baik
untuk melawan osteoporosis. Sedangkan kafein dalam teh bermanfaat
untuk menghalau kantuk dan kelelahan.
Sementara, cathecin pada teh hijau mengurangi kemungkinan terserang
kanker, menurunkan kolesterol darah, mencegah peningkatan tekanan dan
kadar gula darah, membunuh bakteri dan virus influensa, serta mencegah
bau mulut. Senyawa r-amino butyric acid-nya berkhasiat menurunkan
tekanan darah. Flavonoidnya memperkuat dinding pembuluh darah dan
mencegah halitosis (bau mulut). Polisakaridanya menurunkan kadar gula
darah. Sedangkan vitamin E-nya bertindak sebagai antioksidan dan
menunda penuaan.
Dari putih hingga hitam
Selama ini orang mengenal empat jenis teh, yakni teh putih, hijau,
oolong, dan teh hitam. Perbedaan keempatnya terletak pada metoda
pemrosesan daun teh setelah dipetik. Tiap jenisnya dijuluki
berbeda-beda pula sesuai tempatnya diproduksi.
<Picture: Teh hijau>Teh hijau.
<Picture: Teh Hitam>Teh hitam.
<Picture: Teh Putih>Teh putih.
Di antara jenis-jenis teh tadi, teh hijau memang lebih populer.
Setelah selama berabad-abad menjadi minuman pilihan di Asia,
kepopuleran teh hijau kini merambah ke negara Barat. Kunci
popularitasnya terletak pada aroma alaminya dan manfaatnya bagi
kesehatan.
Teh hijau ini dikenal dua macam menurut asalnya, yakni teh hijau Cina
dan Jepang. Hampir semua teh yang diminum di Cina adalah teh hijau.
Begitu pula dengan di Jepang. Di AS popularitas teh jenis ini
meningkat setelah menjadi bagian penelitian ilmiah yang mengaitkannya
dengan penurunan risiko terhadap kanker.
Meski tak sepopuler teh hijau, teh oolong juga memiliki penggemar
sendiri. Teh oolong terbaik di dunia kebanyakan diproduksi secara
eksklusif di Cina, Darjeeling (India), dan Formosa (Taiwan).
Sementara, teh hitam terbaik di dunia dihasilkan di India (Assam,
Darjeeling, dan Nilgiri), Sri Lanka (Ceylon), dan Cina. Di
negara-negara Barat konsumsi tehnya lebih dari 80% menggunakan teh
hitam. Khusus, di AS konsumsi teh jenis ini mencapai lebih dari 90%.
Keempat jenis teh tersebut berbahan mentah sama, yakni tanaman teh
Camellia sinensis. Meski di banyak tempat di dunia bisa ditemukan,
namun yang terbanyak dibudidayakan di India, Cina, Kenya, dan Sri Lanka.
Ragam proses produksinya
Teh yang benar-benar baik umumnya berasal dari pucuk daun atau daun
teh muda yang belum mekar. Untuk menghasilkan 1 pound (0,45 kg) teh
berkualitas paling baik, diperlukan lebih dari 80.000 petikan.
Produksi teh merupakan proses padat karya dan setiap tahap penting
untuk mendapatkan teh berkualitas tinggi.
Untuk menghasilkan teh putih, diperlukan daun teh pilihan yang
menuntut penanganan ekstra hati-hati setelah pemetikan. Cuma daun-daun
paling muda, yang masih dipenuhi bulu putih pendek atau bulu halus,
yang digunakan. Proses produksi teh putih ini terdiri atas dua tahap,
yakni penguapan dan pengeringan. Terkadang teh putih juga difermentasi
dengan sangat ringan. Tanpa adanya pelayuan, penggilingan dan
fermentasi ini membuat penampilannya nyaris tak berubah. Teh yang
dihasilkan pun berwarna putih keperakan.
Ketika dihidangkan, teh putih memiliki warna kuning pucat dan aroma
yang lembut dan segar. Teh ini merupakan yang paling lembut di antara
semua jenis teh.
Untuk memproduksi teh hijau juga tidak bisa dilakukan sembarangan.
Yang hendak dicapai dalam memproduksi teh hijau adalah mempertahankan
manfaat kesehatannya, kemurnian, dan senyawa aktif daun teh segar
sehingga semuanya itu dapat dirasakan ketika teh disajikan.
Setelah dipetik, daun-daun yang masih hijau dilayukan di udara panas.
Begitu menjadi layu, daun-daun itu secara tradisional disangrai dengan
menggunakan wok (kuali logam untuk masak masakan Tionghoa). Tujuannya,
untuk mencegah oksidasi pada daun. Proses berikutnya memberi bentuk
pada daun-daun tersebut, yakni terpilin, keriting, atau bundar,
sekaligus menambah keawetannya. Proses ini juga membantu pengaturan
pengeluaran senyawa alami dan aroma selama penyeduhan. Tahap terakhir,
daun-daun itu dikeringkan dengan pengapian sehingga keharuman dan
aroma alaminya tetap terjaga. Begitu pula dengan warna hijaunya.
Proses produksi untuk menghasilkan teh oolong lebih rumit lagi. Tapi
tidak serumit pembuatan teh hitam. Teh ini diproses dengan menjaga
agar daun tehnya tetap utuh. Karenanya dibuat dari daun-daun teh yang
lebih besar dan lebih tua.
Segera setelah dipetik, daun dijemur di bawah sinar matahari untuk
pelayuan. Tujuannya untuk menurunkan kadar air dan menjadikannya lebih
lembut. Daun-daun itu kemudian diletakkan dalam keranjang bambu dan
dikocok-kocok dengan cepat untuk merusak pinggiran daun. Pada tahap
berikutnya, daun-daun itu ditebar dalam suatu tempat untuk
dikeringkan. Proses pengocokan dan penebaran daun-daun tersebut
diulang beberapa kali. Tepi daun yang rusak akan berubah merah akibat
proses fermentasi sementara bagian tengahnya masih hijau.
Tingkat fermentasinya tergantung pada tipe oolongnya. Variasinya
kira-kira dari 20% untuk oolong "hijau", hingga 60% untuk oolong
formosa klasik. Begitu tingkat fermentasi yang diinginkan tercapai,
proses itu mesti dihentikan segera. Ini dilakukan dengan pemanasan
daun-daun itu dalam panci pada temperatur tinggi.
Sedangkan dalam proses produksi teh hitam, proses fermentasi
berlangsung penuh, yang menyebabkan daun-daun teh berubah menjadi
hitam dan memberi rasa khas. Setelah pemetikan, daun yang masih hijau
ditebar di atas wadah pada rak untuk dilayukan selama 12 - 18 jam.
Selama proses pelayuan yang lama itu, daun kehilangan banyak kadar
airnya, menjadi lembut dan layu sehingga daun-daun itu mudah digiling.
Selama penggilingan, membran daun hancur, memungkinkan keluarnya sari
teh dan minyak esensial yang memunculkan aroma khas. Setelah
penggilingan, daun-daun itu dibawa ke sebuah ruangan yang besar,
dingin, dan lembab. Di sana daun-daun itu ditaruh dalam semacam baki
untuk difermentasi. Selama proses fermentasi, warna daun menjadi lebih
gelap dan sarinya menjadi kurang pahit. Sebaliknya, ciri-ciri rasa teh
hitam - dari harum sampai berbau seperti buah-buahan atau
kacang-kacangan dan pedas - mulai muncul. Proses fermentasi itu
dihentikan pada saat di mana aroma dan rasanya sudah maksimal. Ini
dilakukan dengan memanaskan daun-daun itu di dalam oven. Sarinya
mengering di permukaan daun dan bertahan relatif tetap sampai
dilepaskan oleh air panas selama penyeduhan.
Pada tahap akhir, daun-daun dipisah-pisahkan menurut ukuran. Selama
proses produksi, banyak daun teh robek atau remuk sehingga teh akhir
terdiri atas daun utuh, daun robek, dan partikel-partikel yang lebih
kecil.
Untuk menyeduh teh juga tak bisa sembarangan kalau ingin mendapatkan
hasil seduhan yang sempurna serta nikmat dan manfaatnya bisa
dirasakan. Tata cara penyeduhan itu meliputi lima tahap. Pertama,
siapkanlah teko/ceret teh. Kalau tidak ada teko, cukup sediakan wadah
yang tak melepaskan bau dan tahan panas. Tuangkan satu sendok kecil
daun teh untuk setiap cangkir teh yang akan disajikan.
Untuk menyeduh teh hitam dan oolong, gunakan air matang yang masih
dalam keadaan mendidih. Untuk teh putih dan hijau, gunakan air yang
baru mulai menguap. Setelah air dituang, tunggu 3 - 5 menit untuk teh
hitam, 1 - 3 menit untuk teh hijau, dan 5 - 7 menit untuk teh putih
dan oolong. Masa penyeduhan ini bisa diatur menurut selera
penikmatnya. Saring daun tehnya dan sajikan. Sruupppp ... hmmm ....
Selain keempat jenis teh tadi, belakangan juga muncul teh "bohongan"
yang dikenal dengan nama teh herbal. Teh imitasi ini dikemas seperti
layaknya teh betulan, diseduh seperti teh, dan diminum seperti teh.
Tapi teh ini tak terbuat dari daun teh yang sebenarnya. Teh herbal
dibuat dari bebungaan, bebijian, dedaunan, atau akar dari beragam
tanaman. Teh jenis ini umumnya diminum untuk keperlukan pelangsingan
tubuh. (*/I Gede Agung Yudana/dr. Audrey Luize)
------------------------------------------------------------------------
eGroup home: http://www.eGroups.com/list/sdm-indonesia
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
Untuk melihat diskusi milis ini sebelumnya, klik:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
--------------------------------------------------------------------------
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
Berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet