Setujuuuuu
Itu juga aku lakukan dengan Suami ku, mbak Tri.
Kami sama2 selalu mengutarakan apa yg disukai atau apa yg tidak disukai.
Komunikasi dan berterus terang akan perasaan kita sangat baik utk meningkatkan 
suatu hubungan.





Regards,
YUSRI
email: [email protected]
YM: yusri_smpn1

Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Kundarwati Tri <[email protected]>

Date: Mon, 2 Feb 2009 19:59:17 
To: <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] 50 tahun salah paham


50 tahun salah paham
 
Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior 
istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. 
Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para 
bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari 
seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan 
tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah 
dan sangat meriah.
 
Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu 
jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan tersebut, 
seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang 
pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong 
ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu 
dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.
 
"Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah ikan 
kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai 
kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan 
ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan 
cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat senior dalam pidato singkatnya.
 
Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak 
khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, lalu 
memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. 
 
Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan 
kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. 
 
Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan 
dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh 
suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.
 
Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak 
tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan 
memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak 
jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat tampak kikuk 
dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya "Mengapa engkau 
menangis, isteriku?"
 
Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan "Suamiku…sudah 50 tahun usia 
pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan melayani dalam duka dan suka 
tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan 
kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di 
hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah 
suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai." tutur sang isteri.
 
Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, 
ia berkata kepada isterinya," Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat 
aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia 
dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa 
seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan 
pengorbananmu. "
 
Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi Tuhan, 
setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. 
Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua 
kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu."
 
Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi "Walaupun telah hidup 
bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup 
saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara 
membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan erat. 
Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka 
kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.
 
Moral cerita diatas:
 
Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah selama 
bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling keterbukaan 
dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan dengan konflik. 
Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena seperti menyimpan bom waktu 
dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak 
pernah dibiacarakan secara tulus dan terbuka, dan ketidakpuasan terus 
bermunculan, maka konflik akan semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa 
meledak. Jika keadaan sudah seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan 
semakin dalam dan terasa lebih menyakitkan.
 
Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan dilandasi 
kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan kebiasaan berpikir 
positif.
 
Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut untuk 
menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja 
untuk menjelaskan. 
 
Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls. com 


      

Kirim email ke