Dear Mba Melynn Saya turut prihatin sebelumnya dgn kejadian yg menimpa teman mba. Tapi saya sangat terdorong untuk membalas email mba. Kebetulan dalam keluarga besar saya juga memiliki riwayat perceraian . Orang-orang yang sangat saya sayangi.
Memang cukup rumit ya mba bila kita berusaha membantu masalah ini. Tetapi saran saya mba, kalau bisa kita sebagai pihak luar tidak terlibat lebih jauh. Yang lebih memiliki peran vital adalah anggota keluarga pasangan tersebut. Sehingga kalaupun nantinya ada hal-hal yang tidak mengenakkan, mba Melynn tidak terbawa-bawa. Perceraian dari pasangan terebut memang kompleks mba. Sebagai teman ada baiknya mba meminta mereka berfikir panjang jauh kedepan, dan melupakan emosi serta ego mereka untuk sementara. Minta mereka memikirkan bagaimana nasib anak perempuannya nanti. Apakah rasa cinta kasih mereka pada sang anak tidak jauh lebih besar dari kemarahan yg ada..... Tentu saja ada beberapa hal yg tidak bisa dimaafkan, seperti selingkuh misalnya. Tetapi berdasar pengalaman org terdekat saya, dia sebagai wanita akhirnya dapat memaafkan karena memikirkan nasib anak-anaknya yang pasti akan kehilangan figur ayah dan dapat mempengaruhi psikologis mereka. Saya juga banyak belajar dari dia, bahwa ALLAH memang memberikan hati yg sangat luas dan lembuuuut pada wanita...sesuai fitrahnya sebagai ibu. Subhanalloh. Minta mereka memikirkan perjalanan yang mereka lalui selama ini. Apakah kebersamaan selama 3 tahun itu tidak ada artinya dibandingkan amarah yang hanya terjadi beberapa saat.. Bila mereka sudah introspeksi dan keputusannya tetap bercerai, itu hak mereka. sekali lagi, kita tidak berhak menilai pilihan itu. The point is, sebagai teman sebaiknya kita tidak memberikan pendapat pribadi atas masalah mereka Ataupun memberikan saran sebaiknya bercerai atau rujuk. melainkan kita sebaiknya netral. Senantiasa mengingatkan mereka agar berfikir jernih sebelum berkata2 dan berbuat dalam menyelesaikan masalah ini. Dan selalu memberikan komentar yang bersifat solusi. Bukan memanas-manasi dan mendukung saat mereka menjelekkan satu sama lain. Yah, anggap saja kita sebagai orang lain, seorang konsultan pernikahan profesional misalnya. Dan sesudah mereka introspeksi, kita dukung pilihan itu sebagai seorang teman tentunya. Sehingga saat permasalahan ini selesai, posisi mba sebagai teman tidak akan terusak oleh kejadian yang lalu (kalaupun ada). Maaf ya mba kalo kurang membantu.. Just an advice... cheers, kennia
