FYI saja...

Dear all

""Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa 
baru aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai, 
sementara DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase karena 
DHA/AA pada dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi. "

Saya prihatin sekali dengan generasi bangsa yang sejak piyik sudah dicocok oleh 
pseudoiklan, pseudoscience...dan sederek kepalsuan lainnya.

Sementara draft rpp pemasaran susu formula yang konon katanya berubah menjadi 
Draft Pemberian ASI semakin hari semakin bias dan bahkan tidak jelas 
juntrungannya.

Info terakhir dari Pak Agus Pambagyo "Saat ini RPP msh dlm pembahasan antara 
Dephukham dan team Depkes. Tgl 3 Mei akan ada mtg lagi tp mmg isinya blm 
memuaskan kami para pegiat ASI"

Terus masih mau sampai kapan....

Sampai bangkrut dan ribut rumah tangga gara-gara gajinya hanya cukup buat beli 
susu formula anaknya saja.

Bahwa ASI terbaik untuk bayi sampai dengan usia 6bulan masih kalah santer 
dengan promosi susu formula untuk anak usia 6bulan yg sudah sanggat 
meresahkan...membabi buta......bahkan dengan tipu daya AA/ DHA.......dan 
melanggar kode etik internasional....

salam ASI.

Waspadai Promosi Susu Formula 




Dewasa ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula untuk bayi 
berusia di bawah enam bulan. Meski begitu, sebaiknya orangtua yang memiliki 
bayi pada usia tersebut harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih 
susu formula. 

Sudah sangat sering diulas oleh dokter anak maupun ahli gizi anak bahwa 
satu-satunya makanan terbaik untuk bayi berusia 0 hingga 6 bulan adalah air 
susu ibu (ASI). Bahkan para ahli sangat menyarankan agar para ibu memberikan 
ASI eksklusif atau tak memberi asupan makanan apa pun kepada bayi kecuali ASI 
selama enam bulan pertama sejak bayi lahir. 

"Sayangnya, pemberian ASI eksklusif ini belum jadi gaya hidup keluarga di 
berbagai lapisan masyarakat. Padahal, menyusui merupakan cara terbaik dan 
paling ideal dalam pemberian makanan bayi baru lahir dan bagian tak terpisahkan 
dari proses reproduksi," kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia DKI Jakarta 
(IDAI Jaya) dr Badriul Hegar SpA (K) (Kompas, 1 April 2006). 

Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan para ibu untuk tidak memberikan ASI 
eksklusif, misalnya karena sang ibu bekerja sehingga tidak sempat menyusui bayi 
secara teratur. "Saya sengaja memberi susu formula sejak awal, karena nanti 
setelah cuti hamilnya habis kan saya enggak bisa memberi ASI secara teratur 
lagi," ujar Dewi (31), pialang saham, yang baru saja melahirkan anak pertamanya 
sebulan lalu. 

Belum terbiasanya masyarakat memberikan ASI eksklusif kepada bayi ini menjadi 
celah pemasaran yang bisa dimanfaatkan produsen susu formula. Selain itu, para 
produsen juga memberi iming-iming berbagai vitamin dan zat gizi tambahan ke 
dalam produk mereka, seperti DHA dan AA, yang sering diklaim dapat membantu 
perkembangan otak bayi. 

Ada dalam ASI 

Menurut dr IG Ayu Pratiwi Surjadi SpA,MARS, anggota Satuan Tugas ASI IDAI Jaya, 
DHA (docosahexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid/asam arakidonat) memang 
sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama perkembangannya. 
"Otak manusia sebenarnya sudah terbentuk 90 persen saat lahir. Setelah 
kelahiran kemudian terjadi mielinisasi dan sinaptogenesis dalam otak," papar 
dokter yang akrab dipanggil Tiwi ini. 

Proses mielinisasi adalah pembentukan selaput mielin atau selimut serabut saraf 
yang membutuhkan laktosa atau zat gula dari susu. Sementara proses 
sinaptogenesis adalah proses pembentukan susunan sistem saraf pusat yang 
membutuhkan DHA dan AA. 

"Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa baru 
aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai, sementara 
DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase karena DHA/AA pada 
dasarnya adalah asam lemak," ungkap Tiwi. 

Tiwi menambahkan, baik laktosa maupun DHA/AA hanya hadir lengkap dengan 
enzim-enzimnya dalam ASI. "Susu formula jenis apa pun, semahal apa pun, meski 
dibuat semirip mungkin dengan ASI, tetap saja tak ada enzimnya. Jadi, 
satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi memang hanya ASI," katanya. 

Tiwi menambahkan, akibat gencarnya promosi susu formula, banyak anggota 
masyarakat yang mengira DHA/AA tak terkandung dalam ASI. "Jadi, tolong tekankan 
DHA/AA yang terbaik itu justru ada di dalam ASI. Komponen apa pun yang 
dipromosikan ada di dalam susu formula, semuanya sudah ada di ASI," kata Tiwi. 

Mitos dan promosi 

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir juga mengatakan, 
pihaknya sama sekali tidak merekomendasikan pemberian susu formula kepada bayi. 

"Susu formula hanya diberikan dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat 
darurat. Di luar itu, pemakaian susu formula hanya pemborosan belaka," 
tandasnya. 

Husna juga mengungkapkan adanya mitos bahwa bayi sehat adalah bayi yang gemuk. 
Sementara bayi yang diberi ASI eksklusif memang cenderung tidak menjadi gemuk. 
"Mereka kemudian menambahkan susu formula agar bayinya gemuk. Padahal, bayi 
sehat tidak harus gemuk. Itu cuma mitos," ujar Husna. 

Husna mengingatkan, kondisi bayi baru lahir masih sangat rentan sehingga harus 
ekstra hati-hati saat memberi zat makanan dari luar. 

"Klaim-klaim dari produsen bahwa susu formulanya dapat memberi berbagai dampak 
positif bagi bayi perlu dipertanyakan lebih lanjut. Misalnya, informasi dosis 
atau jumlah yang tepat supaya dampak tersebut akan terjadi. Selama ini banyak 
orang merasa aman apabila sudah mengonsumsi susu tersebut karena termakan 
promosi," tambah Husna. 

Di atas semuanya, ia juga menyarankan agar masyarakat waspada terhadap 
penawaran-penawaran susu formula di tempat-tempat pelayanan kesehatan. 
"Sekarang ini banyak rumah bersalin yang menawarkan susu formula kepada 
orangtua bayi yang baru lahir. Itu sebenarnya melanggar kode etik," katanya. 

Kode etik yang dimaksud Husna adalah Kode Internasional Pemasaran Produk 
Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes) yang 
dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 lalu. 

"Pemasaran produk susu formula untuk bayi berusia di bawah enam bulan 
seharusnya diatur secara tegas. Kalau perlu ada pelarangan promosi susu formula 
di tempat-tempat pelayanan medis resmi," ujarnya tegas. 

Sumber: Kompas


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke