Hi Mom's ...
Aku mau sharing pengalaman tentang RSAB Harapan Kita, biar balance yach, karena 
setiap RS pasti ada baik dan buruknya, dan alhamdulillah pengalamanku ini yang 
baiknya.
Aku melahirkan putri pertama (Umaira) Januari 2004 di RSAB Harapan Kita. Karena 
belum ada pembukaan aku sempat nginep satu hari di Ruang bersalin. Prosesnya 
gampang kok, mungkin juga karena Dsognya Dokter Harapan Kita jadi lebih mudah, 
masuk langsung ditangani dengan baik, susternya juga welcome banget dan sabar, 
terus ga marah karena yang mau nungguin aku banyak, maklum cucu pertama. 
Setelah pindah keruang perawatan, aku ambil yang kelas II, dengan perhitungan 
biar ada teman ngobrol, aku di tempatin satu ruangan dengan pasien dsog yang 
sama, tapi teman kamarku hanya bed rest. Walaupun hanya aku yang punya bayi di 
ruangan itu, susternya selalu lihat kondisiku. Suster juga dengan sabar 
ngajarin aku caranya mandiin bayi, ganti popok dan menyusui yang benar. Anakku 
juga tidak pernah di kasih empeng dan di plester mulutna, juga susternya tidak 
pernah meminta popok untuk bayiku. insya allah anak keduaku (sudah 16 minggu) 
akan dilahirkan di sana juga. Mengurus akte kelahiran juga mudah,
 dan tindik kuping bayi juga bisa (yang ini setiap rs pasti bisa yach.. 
he..3x). Aku senang dengan pelayananya. Kedua mbak ku juga melahirkan di RSAB 
Harapan Kita.
Mom's, tidak semua suster Harapanm Kita seperti itu loch, suster juga manusia 
yang pernah punya kehilafan. Aku setuju, kalau mba putri complain langsung 
dengan manajemen Harapan Kita, kan untuk kebaikan kita semua, biar RSAB Harapan 
Kita lebih baik lagi, dan semoga tidak ada pasien yang mengalami hal yang tidak 
mengenakkan.
Mudah - mudahan sharing ini berguna.
 
Ibunya Umaira (Bunga A)
 
  ----- Original Message ----- 
  From:   Ardiana   Putri 
  To: [email protected]   
  Sent: Thursday, January 26, 2006 12:02   PM
  Subject: [Ayahbunda-Online] pengalaman   melahirkan & anak dirawat di RSAB 
HArapan Kita
  

Pagi moms & dads,

Saya baru join lagi setelah   cuti melahirkan. Aku mau curhat tentang
pelayanan RSAB Harapan Kita,   mungkin bisa jd masukan buat moms & dads.
Maaf ya kalo   kepanjangan.

Aku melahirkan anakku yang pertama Exa(cowok lho) di RSAB   Harapan
Kita,15 Oktober 2005,melalui operasi caesar .  Aku milih RS   ini karena
deket tempat kost kami.  DSOG-nya Dr Subiyanto, baik banget   & helpful,
tapi pelayanan di RSAB Harapan Kita (suster, fasilitas,   keramahan dll)
jelek banget. 

Hari2 pertama kan ASI-ku belum keluar,   aku minta ajarin susternya cara
pijet payudara gimana eh mereka bilang ".ya   gitu2 aja bu''', waktu aku
tanya ada breast pump gak disini jawabnya ".ada   di apotik". Aduh emosi
jiwa banget waktu itu.  Udah gitu salah satu   susternya flu dan gak pake
penutup mulut, walhasil aku ketularan   batuk.  Waktu aku pulang mereka
cuek aja, gak ada suster yang   anterin.  Waktu aku minta form complain,
dibilang lagi abis.    Aduh bener2 deh.padahal aku ambil kelas 1 yang aku
pikir tadinya aku akan   dapat pelayanan OK.

Trus yg lebih sedih lagi, waktu Exa harus dirawat   karena diare.  Waktu
itu Exa umur 3mingguan BAB-nya lebih   10kali.  Aku tlp ke UGD RSAB Harkit
dibilang kalo nyusu-nya mulai   males harus langsung dibawa ke RS.  Waktu
itu Exa udah sedikit   males2an nyusu langsung aku bawa ke UGD RSAB
Harkit.  Dokter jaganya   langsung ambil sample feces Exa, hasilnya ada
lendir & darah   samar.  Dia konsultasi ke dokter anak ruangan, diputuskan
langsung   dirawat.  Aku+suami bingung kok gampang banget mereka putusin
anakku   dirawat padahal Exa minumnya gak males lagi, beratnya cukup dan
nangisnya   kenceng.  Begitu masuk ruangan isolasi utk bayi diare, udah
ada 2 bayi   lain yang diare dgn kondisi lebih parah.  DSA jaga waktu itu
(Dr Lusi)   gak pegang anakku cuma liat hasil labnya aja+tanya suster.
Waktu aku tanya   kenapa anakku bisa kena diare padahal aku kasih full asi
dia bilang ".bisa   aja dari virus".  Dr Lusi perintahkan sample darah Exa
dikulturkan   (dibiakkan) utk mengetahui bakteri apa yg ada di feces Exa
sekitar 5hari.   Ditakutkan ada virus lain yang berbahaya. Jadi tambah
panik karena kita   pikir kok jadi parah gitu ya...

Menurut aku DSA-nya gak welcome banget   dan susah dicari, kalo pasien gak
aktif tanya dia gak kasih info   apa2.  Suster2nya males banget ada bayi
lain dengan kondisi diare   lebih parah, bayi Rifki (urat sarafnya putus
karena salah penanganan dari   RS lain) nangis.. Aku bilang ke suster yg
jaga diruangan itu utk tolong   bayi itu dulu siapa tahu haus, eh dia cuek
aja malah sibuk nulis report   anakku. Suster2nya bolak balik bilang ke
aku utk bawa pampers dari rumah   karena mereka males bolak balik ganti
popok (sampai aku bilang emang suster   nyuci popok ya sampai bolak balik
aku disuruh bawa pampers...he3x).    trus kita gak boleh gendong abis
nyusuin, alasannya kalo malem nangis   susternya gak bisa gendong semua
bayi.  Trus biar gak nangis bayi2 itu   dikasih empeng + di plester
dimulut, katanya biar empengnya gak   jatuh2...aduh moms aku langsung
ngamuk dan ngancem kalo anakku dikasih   empeng aku akan tuntut mereka ke
pengadilan.  Sampai ada bayi lain,   bayi ardi, pipinya luka karena kena
plester yang bolak balik dibuka   tutup.  Kebayang gak sih karena
diplester kalau gumoh akan masuk lagi   ke mulut trus bayi itu gak bisa
nangis. Trus aku setengah mati perah asi-ku   dari rumah utk stok minum
anakku eh susternya kasih susu formula, alasannya   lupa ada stok asi.
Udah gitu ketemu dokter anaknya susah banget.  Hari   kedua karena DSA-nya
masih susah diketemuin juga akhirnya aku+suami minta   Exa pulang paksa
dan kami pindah ke RS Carolus.  Beda banget   pelayannanya.

Puji Tuhan Exa sekarang sudah baik, dan ternyata dia   sebenarnya gak
apa2.  Sekarang aku baru tahu kalau setiap bayi   penyempurnaan sistem
pencernaannya beda2, seperti Exa udah gak sering BAB   lagi setelah 2bulan
bukan 40hari seperti yang lain.  Moms & dads,   saya sedih dan sebelllll
banget kalo inget kejadian itu.   Gak   tau harus ngadu sama siapa.  Aku
complain sama DSOG-ku beliau udah   minta maaf sih, tapi kan pihak
management harus tau ya kelakuan   suster2nya.  Kalo emang kurang tenaga
seharusnya mereka minta ke   atasannya utk minta tambah bukannya bentak2
kita ortu or perlakukan bayi   kita seenak2nya.

Maaf kalau kepanjangan curhatnya, dan sorry kalau ada   yg tidak berkenan.
Peristiwa ini jadi pelajaran berharga buat aku+suami   karena bolak balik
disuntik antibiotik (utk pengobatannya) Exa jadi anak   yang cengeng &
kolokan karena trauma.  Untuk tenangin akhirnya   kita gendong..duh moms +
dads aku nyesel banget.  Semoga moms &   dads yg lain bisa ambil pelajaran
dari ceritaku   ini.

Regards,
Putri





[Non-text portions of   this message have been removed]



Subscribe:   [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe:   [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil:   [EMAIL PROTECTED]



    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

      
    Visit your group "Ayahbunda-Online"     on the web.
      
    To unsubscribe from this group, send an email     to:
 [EMAIL PROTECTED]
          
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.     

    
---------------------------------
  


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 With a free 1 GB, there's more in store with Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



Subscribe: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke