MERAIH AMPUNAN ALLAH AL-GHAFUR DI BULAN RAMADHAN YANG MULIA
http://almanhaj.or.id/content/3144/slash/0

Di antara nama Allah Azza wa Jalla adalah al-Ghafûr (Yang Maha
Pengampun), dan di antara sifat-sifat-Nya adalah maghfirah (memberi
ampunan). Sesungguhnya para hamba sangat membutuhkan ampunan Allah
Azza wa Jalla dari dosa-dosa mereka, dan mereka rentan terjerumus
dalam kubangan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللََّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ
يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan
kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa,
lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni
mereka. [HR. Muslim, no. 2749]

Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Allah Azza wa
Jalla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya
selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat
dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat
‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan
pribadi) dan kesombongan.

Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, karena bulan itu
merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan
untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan
kesabaran yang pahalanya adalah surga. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
tanpa batas. [az-Zumar/39:10]

Puasa adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta
pelindung dari neraka. Dalam hadits shahîh dijelaskan:

الصَّحَابَةُ : أَمَّنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّه قَالَ : جَاءَنِيْ
جِبْرِيْلُ فَقَالَ :بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ
يُغْفَرْلَهُ قُلْتُ : آمِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّانِيَةُ قَالَ
بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ :
آمِِيْن فَلَمَّا رَقَيْتُ الشَّالِشَةَ قَالَ بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ
أَبَوَاهُ الْكِبَرَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ قُلْتُ
آمِيْن

Sesungguhnya Nabi mengucapkan amîn sebanyak tiga kali tatkala Jibril
berdoa. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau telah
mengucapkan amîn”. Beliau menjawab: “Jibril telah mendatangiku,
kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu
tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga
mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu
di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu”. Maka aku
menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia
berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua
berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam surga”.
Maka aku jawab: “Amîn”. [1]

Seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia
dengan adanya amalan-amalan shalih agar Allah Azza wa Jalla
menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa
menghapus kejelekan.

Sebab-sebab ampunan yang disyariatkan itu di antaranya:

1. TAUHID
Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan
ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan
yang paling agung. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ
ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. [an-Nisâ‘/4:48]

Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allah
Azza wa Jalla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun,
hal ini berhubungan erat dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila
Diak berkehendak, akan mengampuni. Dan bisa saja, Dia Azza wa Jalla
berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut
tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir
kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah Azza wa Jalla dari
hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan,
walaupun sebanyak buih di lautan. ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallahu
‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menyendirikan seorang dari
umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat.
Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan
amal) miliknya. Setiap lembaran seperti sejauh mata memandang.
Kemudian Allah berfirman: “Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat
pencatat amalan menzhalimimu”. Maka ia pun menjawab: “Tidak wahai
Rabbku”. Lalu Allah berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?” ia
menjawab: “Tidak ada wahai Rabb”. Lalu Allah berfirman: “(Yang benar)
ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami, tidak ada
kezhaliman atasmu pada hari ini”. Lalu dikeluarkan satu kartu berisi
syahadatain. Kemudian Allah berfirman: “Masukanlah dalam timbangan!”
Ia pun berkata: “Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan
lembaran-lembaran itu?” Maka Allah berfirman: “Sungguh kamu tidak akan
dizhalimi”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak
timbangan dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata
lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih berat.
Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah”. [2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ
أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ
تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًاَلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa
dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak
mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja
Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan. [HR Muslim].

Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah Azza wa Jalla dengan
pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran-lembaran tersebut
dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas
yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allah Azza wa Jalla
menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya
memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka
Allah Azza wa Jalla menggantikannya dengan ampunan.

2. DOA DENGAN PENGHARAPAN
Allah Azza wa Jalla memerintahkan berdoa dan berjanji akan
mengabulkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu”. [Ghâfir/40:60]

Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan
syarat dan bersih dari penghalang-penghalang. Kadangkala, pengabulan
itu tertunda, karena sebagian syarat tidak terpenuhi atau adanya
sebagian penghalangnya.

Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati,
mengharapkan ijâbah dari Allah Azza wa Jalla, sungguh-sungguh dalam
meminta, tidak menyatakan insya Allah (Ya Allah Azza wa Jalla,
kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendakinya-red), tidak
tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan
yang mulia, mengulangulang doa tiga kali dan memulainya dengan pujian
kepada Allah Azza wa Jalla dan shalawat, berusaha memilih makanan dan
minuman yang halal dan lain-lain.

Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada
Rabbnya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari
pengampunan dosa seperti diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Kepada
seseorang yang berujar: “Saya tidak mengetahui doamu dengan perlahan
yang juga dilakukan Mu’âdz.

”حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ

Permohonan kami di seputar itu. [3]

Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga
dan diselamatkan dari neraka. Abu Muslim al-Khaulâni mengatakan:
“Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku, kecuali saya jadikan doa
itu permohonan agar dilindungi dari api neraka.”

3. ISTIGHFÂR (MEMOHON AMPUNAN)
Permohonan ampun ini merupakan pelindung dari adzab, penjaga dari
setan, penghalang dari dari kegelisahan, kefakiran dan penderitaan,
pengaman dari masa paceklik dan dosa; meskipun dosa-dosa seseorang
telah menggunung sampai menyentuh langit. Dalam hadits Anas bin Malik
Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ
عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلاَأُبَالِىْ يَاابْنَ آدَمَ لَؤْ بَلَغَتْ
ذُنُوْ بُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ
وَلاَ أُبَالِيْ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أََتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ
اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا
َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan
Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu
mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan
mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau
datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian
engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau
menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang
kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga. [HR. at-Tirmidzi]

Membaca istighfâr adalah penutup terbaik bagi berbagai amalan, umur,
serta penutup majelis.

4. BERPUASA DI SIANG HARI DAN SHALAT MALAM KARENA IMAN, MENGHARAPKAN
BALASAN PAHALA DARI ALLAHk, IKHLAS SERTA DALAM RANGKA TAAT KEPADA
ALLAH AZZA WA JALLA
Dia berpuasa bukan dengan niat mengikuti orang banyak, juga tidak
untuk mendapatkan sanjungan orang, tidak untuk melestarikan adat atau
supaya sehat; juga tidak berniat pamer serta tidak untuk mensukseskan
urusan duaniawi. Dia juga tidak berniat untuk mendoakan keburukan yang
tidak pantas buat seorang Muslim. Dia melaksanakan ibadah puasa
terdorong oleh niat beriman kepada Allah Azza wa Jalla, merealisasikan
ketaatan kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla.
Dalam sebuah hadits dinyatakan :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala,
maka diampuni semua dosanya yang telah lewat.[al-Bukhâri dan Muslim]

Alangkah luar biasanya seorang yang melaksanakan ibadah puasa lalu
keluar dari ibadahnya dalam keadaan sebagaimana ketika dilahirkan oleh
ibundanya, yaitu tidak menanggung dosa dan berhati suci.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ
وَسَنَنْتُ لَكُم قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا
وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan
bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah
puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan
pahala, niscaya dia keluar dari dosadosanya sebagaimana saat dia
dilahirkan oleh ibundanya.[4]

Dengan melaksanakan semua ini berarti seorang Muslim telah menjaga
waktu siangnya dengan puasa, memelihara waktu malamnya dengan shalat
tarawih serta berusaha mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla
.
5. MELAKSANAKAN SHALAT MALAM PADA LAILATUL QADAR KARENA IMAN DAN INGIN
MENDAPATKAN PAHALA
Lailatul Qadar adalah suatu malam yang Allah Azza wa Jalla muliakan,
melebihi semua malam lainnya, suatu malam saat Allah k menurunkan
kitab-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur‘ân) pada malam
kemuliaan. [al-Qadr/97:1]

Allah Azza wa Jalla menjadikan Lailatul Qadar ini lebih baik daripada
seribu bulan. Pada malam ini para malaikat turun dan menjadikannya
malam keselamatan dari segala keburukan dan dosa. Allah Azza wa Jalla
mengkhususkan satu surat dalam al-Qur’ân yang membicarakan tentang
malam ini. Orang yang terhalang dari berbagai kebaikan pada malam ini
berarti dia terhalang dari semua kebaikan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencari Lailatul Qadar
ini pada seluruh hari pada bulan Ramadhan, karena beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan
Ramadhan, kemudian sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Orang
yang ingin mendapatkan keberuntungan, maka dia akan antusias untuk
melaksanakan shalat malam pada malam yang lebih baik dari delapan
puluh tiga tahun dan empat bulan.

Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ

Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman
dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang
telah lewat. [5]

Untuk mendapatkan ampunan di malam itu, tidak disyaratkan untuk
menyaksikannya secara langsung. Namun syaratnya adalah orang melakukan
qiyamul lail sebagaimana tertuang dalam hadits tersebut.

6. BERSEDEKAH
Bersedekah termasuk salah satu qurbah (ibadah yang mendekatkan diri)
yang agung di hadapan Allah Azza wa Jalla . Dengannya, seorang hamba
memperoleh kebaikan, sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla :

تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا
تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna),
sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa
saja yang kamu nafkahkan. sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali
Imrân/3:92].

Dalam hadits Mu’âdz, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَبِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّهٌ
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ
النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

“Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah
perisai. Bersedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan
api. Dan shalat seseorang di kegelapan malam …” [at-Tirmidzi no: 2541]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang sangat dermawan.
Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau berjumpa
dengan malaikat Jibril. Saat itu beliau lebih berbaik hati daripada
angin yang bertiup sepoi-sepoi. Di antara bentuk sedekah terbaik
adalah memberi makan orang yang puasa (ifthârus shâim). Disebutkan
dalam hadits:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِشْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ
يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّا ئِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberi buka puasa bagi orang yang puasa maka ia
memperoleh pahala sepertinya, tanpa mengurangi pahala orang itu
sedikit pun.” [HR. at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albâni]

Pahala orang yang bersedekah dilipatgandakan sampai tujuh ratus lipat
dan kelipatan yang lebih banyak lagi. Di bulan Ramadhan, penggandaan
pahala itu semakin besar. Di antara pemandangan yang sangat menarik,
antusiasme orang di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan masjid-masjid
lainnya untuk memberi buka puasa bagi kaum Muslimin di bulan Ramadhan.

7. MELAKUKAN UMRAH
Ibadah umrah termasuk faktor yang menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ
الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ibadah umrah ke ibadah umrah (berikutnya) adalah penggugur dosa
antara keduanya. Dan pahala haji mabrur tiada lain adalah surga”
[al-Bukhâri no: 1650]

Umrah di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar daripada di bulanbulan
lainnya. Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sehabis pulang dari haji Wada’ berkata kepada seorang wanita
dari Anshar bernama Ummu Sinân : “Apa yang menghalangimu untuk berhaji
(denganku).” Ia menjawab: “Abu Fulan (suaminya) memiliki dua onta.
Salah satu dipakainya untuk berhaji dan yang lain untuk mengairi
persawahan.”

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمََضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِيْ

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan dapat mengganti haji
bersamaku.”[HR Bukhâri no 1863; Muslim no 3028]

Betapa besar keberuntungan orang yang umrah di bulan Ramadhan. Ia
bagaikan berhaji bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
seperti orang yang menyertai beliau dalam ihram, sai dan thawaf dan
seluruh manasik haji beliau.

8. MENYEMPURNAKAN PUASA SEBULAN PENUH
Ada sekian banyak orang yang akan bebas dari api neraka di bulan
Ramadhan, dan itu terjadi di setiap malam. Allah Azza wa Jalla
menyempurnakan pahala orang-orang yang sabar tanpa perhitungan khusus.
Ada Ulama yang mengatakan:

مَنْ صَامَ الشَّهْرَ وَاسْتَكْمَلَ اْلأَجْرَ وَأَدْرَكَ لَيْلَةَ
الْقَدَرِ فَقَدْ فَازَ بِجَائِزَةِ الرَّبَّ

Barang siapa berpuasa sebulan penuh dan meraih pahala sempurna, dan
berjumpa dengan malam lailatul qadar, sungguh ia telah menggapai
hadiah dari Allah.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa kita sekalian dan
menutupi kekurangan-kekurangan kita dan memudahkan segala urusan kita.

Diambil dari kitab Tadzkîrul Anâm Bidurûs ash-Shiyâm, karya Syaikh
Sa‘d bin Sa‘îd al-Hajri, Dâr Ibnul Jauzi hlm 265-27

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 06-07/Tahun XIII/1430/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Penulis kitab Nadhratun Na��m (10/5014) berkata : Hadits ini dikeluarkan 
al-H�kim dalam Al-Mustadrak (4/154) dan berkata: hadits ini shah�h sanadnya, 
namun imam al-Bukh�ri dan Muslim tidak mengeluarkannya. Imam adz-Dzahabi 
menyetujui hal ini. (Dishah�hkan al-Alb�ni dalam Shah�h at-Targh�b wat-Tarh�b).
[2]. HR at-Tirmidzi kitab Iman b�b M� J��a F�man Yam�tu Wahuwa Yasyhadu An L� 
Il�ha Illall�h dan dishah�hkan al-Alb�ni dengan no. 2639
[3]. Dishah�hkan oleh Syaikh al-Alb�ni dalam Shah�hul J�mi� no. 3163
[4]. Penyusun kitab Nadhratun Na��m mengatakan : Diriwayatkan oleh Imam 
an-Nas��i 4/158 dan lafazh ini adalah lafazh imam an-Nas��i; diriwayatkan juga 
oleh Imam Ahmad 1/191. Syaikh Ahmad Sy�kir mengatakan : �Sanad hadits ini 
shah�h.�
[5]. HR Imam Muslim, Kit�b Shal�til Mus�fir�n, bab At-Targh�b F� Qiy�mi 
Ramadh�n Wa Huwa Shal�tut Tar�w�h, no. 1778 

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke