>From: Istiarso <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Thu Nov 10, 2005  8:47 am 
>Subject: Tanya Firqoh ?
>Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
>Ana pernah melihat buku di tempat saudara ana, dengan judul " Sudah
>luruskah aqidah anda ?" dan diberi note "Untuk kalangan sendiri".
>diantara isinya :
>- mensyaratkan pengucapan syahadat disaksikan oleh banyak orang
>untuk memastikan keislaman seseorang ?!
>- membagi tauhid menjadi 3, yaitu Rubbubiyah, Uluhiyah
>dan "mulkiyah" (bukannya asma wa shifat, sebagaimana definisi ulama
>salaf) dari ciri-ciri bacaan mereka ini, kira-kira mereka dari 
>firqah mana ?
>jazakallah khair,
>wassalam,

Alhamdulillah,
Syahadat ulang di depan orang banyak (kelompok mereka) atau di depan 
pemimpin jamaah firqoh, merupakan ciri khas kelompok hizbiyyah, cara 
ini merupakan cara-cara orang firqoh untuk menamkan seseorang untuk 
taat pada pemimpin/jamaah walaupun sang pemimpin/jamaah itu
salah atau tersesat. Ucapan shahadat seperti itu di kenal dengan 
nama  'Baiat'. Sedangkan bai'at yang sekarang ini merebak di 
sebagian kelompok  islam adalah bai'at yang menyimpang

Memang ada sebagian gerakan Islam yang katanya ingin mendirikan Daulah
mensyaratkan kepada calon anggotanya untuk di-Islam-kan kembali dengan
mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum memasuki kelompoknya (seperti
kasus pertanyaan di atas), walaupun telah melaksanakan shalat, puasa, zakat
dll. Dengan alasan karena Islam-nya kita ini adalah Islam turunan
(menurut pemahaman mereka), yang belum mengenal Rubbubiyah Allah
Subhanahu wa Ta'ala.

Model pengajiannya, biasanya secara sembunyi-sembunyi dan tidak terbuka
untuk kaum muslimin yang lain, apabila kita mau mengikuti kajian-kajian
mereka, maka kita diharuskan melewati tahapan-tahapan tertentu yang telah
dibuat oleh mereka, menjelaskan Islam seperti struktur sebuah perusahaan,
sehingga muncullah dalam kelompok tersebut tingkatan-tingkatan dalam
keanggotaanya.

Melihat kenyataan seperti itu.., sebaiknya kaum muslimin waspada
terhadap pengajian yang semodel dengan itu.

Kembali ke pokok pertanyaan diatas, yaitu : "mensyaratkan pengucapan 
syahadat disaksikan oleh banyak orang untuk memastikan keislaman seseorang 
?!". Ucapan atau kalimat tersebut secara tidak langsung telah menuduh orang 
yang bukan dari kelompok mereka belum Islam.

Untuk membantah anggapan mereka yang salah kaprah tersebut, saya salinkan 
penjelasan ringkas dari kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy edisi 
Indonesia Kitab Tauhid 1 oleh Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah 
Al-Fauzan.

Penjelasannya sebagai berikut :

Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan fitrah mengakui tauhid
serta mengetahui Rabb Sang Pencipta. Firman Allah.

"Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [Ar-Rum : 30]

"Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman) : 'Bukanlah Aku ini Tuhanmu ?' Mereka menjawab. 'Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi' (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-esaan Tuhan)" [Al-A'raf :
172]

Jadi mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri.
Sedangkan syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi" [Hadits Riwayat
Al-Bukhari dan Muslim]

Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan
mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh
kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang
menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah faktor penyebab yang mengubah
pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya
dalam kesesatan dan penyimpangan.

Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi.

"Artinya : Aku ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan lurus bersih, maka
setanlah yang memalingkan mereka" [Hadits Riwayat Muslim dan Ahmad]
[Dikutip dari Kitab Tauhid 1, hal 23-24, Darul Haq]

Untuk memperjelas masalah tersebut, saya tambahkan juga pembahasan yang
disampaikan oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitabnya yang
berjudul Menanti Buah Hati dan Hadiah untuk Yang Dinanti, terbitan Darul 
Qalam

SETIAP ANAK DILAHIRKAN ATAS DASAR ISLAM

Inilah yang dimaksud dengan 'fitrah' dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan sabda Nabi yang mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam dibawah ini.

"Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif (tauhid). Fitrah
(ciptaan) Allah, yang Allah telah fitrahkan (ciptakan) manusia atas dasar
fitrah tersebut. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah Agama yang
lurus akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [Ar-Ruum : 30]

Tafsirnya.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman. "Luruskanlah dirimu untuk ta'at kepada-Nya
dan tetap di dalam Agama yang Allah telah Syari'atkan kepadamu yaitu Agama
yang hanif" yang maksudnya Agama Tauhid Al-Islam yang lurus yang jauh dari
syirik. Agama Islam itu ciptaan Allah yang Allah telah ciptakan manusia
semuanya atas dasar Agama Islam. Berkata Imam Bukhari, "Al-Fitrah yakni
Islam" [Fathul Baari no. 4775] Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan bahwa
pendapat yang paling masyhur tentang arti fitrah adalah Al-Islam. Bahkan
Al-Imam Ibnu Abdil Bar menegaskan bahwa lafadz "Fitrah" dengan arti Al-Islam
telah terkenal oleh seluruh kaum "salaf". Dan ahli ilmu telah ijma'
(sepakat) bahwa yang dikehendaki dengan "Fitrah" di dalam firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala di atas ialah Al-Islam. Kemudian Al-Imam Ibnu Qayyim
memberikan kata putus " Bahwa kaum salaf tidak memahami lafadz fitrah
kecuali Al-Islam" [Fathul Baari no 1385]

Adapun yang dimaksud dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"La tabdiyla Likhalqillahi"

Ada dua tafsiran.

Pertama.

"Janganlah kamu mengganti ciptaan Allah niscaya berubahlah manusia dari
fitrah mereka (Al-Islam) yang Allah telah ciptakan mereka berdasarkan fitrah
tersebut".

Kedua.

"Tidak ada perubahan bagi ciptaan Allah yakni Agama Allah. Bahwa Allah Yang
Maha Tinggi telah menciptakan seluruh manusia atas dasar Agama Allah
Al-Islam sehingga tidak seorangpun manusia melainkan dia lahir atas dasar
agama Allah Al-fitrah yaitu Al-Islam. Ibnu Abbas, Ibarahim An-Nakhai, Said
bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Bukhari dan lain-lain Ulama Salaf
mereka semuaya menafsirkan dirman Allah Subhanahu wa Ta'ala. "Likhalqillahi"
Bagi ciptaan Allah dengan "Lidiynillahi" Bagi Agama Allah" [Tafsir Ibnu
Katsir surat Ar-Ruum : 30]

Kemudian sabda Nabi yang mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata : Telah bersabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Setiap anak dilahirkan atas dasar
fitrah (Al-Islam)".

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda. "Tidak seorang-pun anak melainkan
dilahirkan atas dasar fitrah"

"Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashara atau
Majusi" [Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari no. 1358, 1359, 1385, 4775 dan
6599 dan Muslim juz 8 hal, 52-54 dan lain-lain Imam ahli hadits].

Dalam salah satu riwayat Imam Muslim, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.

"Wayusarikaanihi" [Artinya : Atau menjadikannya sebagaiamana orang musyrik]

Hadits Abu Hurairah ada syahidnya dari jama'ah para Shabahat sebagaimana
diterangkan oleh Imam Ibnu Katsir. [Tafsir surat Ar-Ruum : 30]

Yang menarik perhatian kita ketika Abu Hurairah, rawi dari hadits ini,
selesai membawakan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas beliau
berkata, "Bacalah kalau kamu mau fitratallahi allati fatharan naasa
'alaiha.... [firman Allah di atas]" ini menunjukkan bahwa hadits yang mulia
ini merupakan tafsir yang shahih dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di
atas. Tepatlah kalau Ibnu Qayyim menegaskan bahwa Salaf tidak memahami
tafsir dari lafadz "fitrah" selain dari Al-Islam. Wallahu a'alam!.

Adapun yang berkaitan dengan apabila anak itu mati sebelum baligh tentang
hukum-hukum dunia dan akhirat akan saya luaskan di fasal "Tempat Anak Yang
Mati Sebelum Baligh" Insya Allah Ta'ala. Di fasal ini saya hanya membatasi
keterangan tafsir Al-Fitrah di dalam surat Ar-Ruum ayat 30 dan sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas yaitu Al-Islam.

[Menanti Buah Hati dan Hadiah untuk Yang Dinanti, hal 118-121, Darul Qalam]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke