http://www.suarapembaruan.com/News/2005/07/27/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY -------------------------------------------------------------------------------- Peranti Lunak AKHIR-AKHIR ini produsen perangkat lunak yang bergabung dalam Business Software Alliance (BSA) gencar mengkampanyekan antipembajakan. Hasil survei lembaga independen menunjukkan, tingkat pembajakan perangkat lunak di Indonesia mencapai 87 persen, atau menduduki peringkat kelima di dunia. Tingginya pembajakan di Indonesia disebabkan, antara lain mahalnya peranti lunak berlisensi. Selain harga peranti bajakan jauh lebih murah, juga mudah didapat. Untuk mengurangi pembajakan, khususnya terhadap warung internet (warnet), produsen menawarkan perjanjian kerja sama penggunaan secara komersial perangkat lunak berlisensi. Selain itu, pemerintah pun menawarkan program aplikasi yang dibangun dari open source. Langkah itu ditempuh untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dan pemerintah terhadap perangkat lunak berlisensi. Wartawan Pembaruan Yahya Tombang Rombe menurunkan laporan seputar pilihan peranti lunak dan peluang berkembangnya warung internet, serta keinginan untuk mengurangi ketergantungan terhadap perangkat lunak berlisensi. Warnet, Tambang Emas di Tanah Bertuan Pembaruan/Alex Suban WARNET - Dua pelanggan "berselancar" di sebuah warung internet (warnet). BIDANG usaha warung internet (warnet), yang bagaikan tambang emas di tanah bertuan, kian menggemaskan para pelakunya. Mereka bahkan semakin terdesak antara hukum dan persaingan yang ibarat kata sebuah judul film "Maju Kena Mundur Kena". Maju bagi pengusaha warnet sudah barang tentu berarti penambahan jumlah unit komputer akibat peningkatan pendapatan dan pelanggan. Sebaliknya, mundur berarti berkurangnya pelanggan dan tidak beroperasinya perangkat komputer. Kalau dilihat ke belakang, kira-kira sejak tahun 1990-an, ketika sejumlah produsen perangkat keras dan lunak bersaing ketat merebut hati konsumen di Tanah Air, para perusahaan raksaksa ini tidak sempat mempermasalahkan hak paten yang mereka miliki. Perangkat ini pun kemudian semakin mudah ditemui di setiap sudut kota. Bagaimana tidak, perangkat lunak sistem operasi yang sangat dibutuhkan pengguna komputer, sering ditemui hanya dipasarkan seharga Rp 20 ribu per kopi, jauh di bawah harga sebenarnya yang dipatok pada nilai 78 dolar AS atau sekitar Rp 764 ribu. Siapa sih yang tidak tergiur melihat kesempatan itu? Apalagi pemiliknya ada di Negeri Paman Sam, ribuan kilometer dari Nusantara tercinta ini. Di samping itu, kebanyakan pengusaha warnet adalah orang-orang yang juga aktif dan mengerti dalam perkembangan teknologi informasi ini. Hal itu pun tidak lepas dari pengamatan Ketua Umum Dewan Presidium Asosiasi Warnet Indonesia, Judith MS. Para pengusaha pun terlena dan menganggap peranti dunia maya itu sebagai bagian yang tidak perlu dibeli. "Mereka (kebanyakan para pengusaha warnet, Red) sering diundang ke instansi pemerintah untuk meng-install atau mengeset jaringan komputer yang ternyata menggunakan software bajakan. Karena itu mereka, tahun demi tahun, mencari justifikasi dan tidak memasukkan software ke dalam penyertaan modal," Judith, yang sedang sibuk-sibuknya menggalang anggotanya untuk tertib pada hukum, menjelaskan. Karenanya, wajar saja kalau pada saat petugas kepolisian yang merazia mendadak berhasil menjerat 413 pengusaha warnet yang diduga menggunakan perangkat bajakan. Mungkin ada orang yang tidak merasa heran dengan apa yang terjadi selanjutnya, yakni pengusaha warnet itu terlihat seperti tersambar petir di siang bolong. Hanya dalam hitungan hari setelah razia itu, hampir semua pengusaha menghentikan pemakaian perangkat lunak bajakan dan bahkan ada yang memilih menutup sementara usahanya. Modal Beragam Hingga saat ini memang belum ada bukti jelas tentang berapa banyak pengguna perangkat bajakan selain pengusaha warnet, tetapi setelah aksi sweeping itu, sejumlah pengecer (retail) atau distributor perangkat lunak proprietary (ada pemiliknya) kekurangan stok dagangan. "Saya sendiri membeli 13 produk sejenis perangkat lunak. Tetapi, saya hanya diberi satu, sedangkan sisanya disuruh menunggu barang kiriman," kata Roy Parulian, pemilik warnet di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dilihat dari besar kecilnya modal, para pengusaha dunia maya satu itu sangat beragam. Ada yang berbentuk coffee shop, arena bermain (game), atau tempat pengetikan. Jumlah komputer yang digunakan pun bervariasi mulai dari hanya lima unit hingga ratusan unit komputer. Tampaknya, keberhasilan pengusaha warnet itu tidak mutlak bergantung pada modal, tetapi pada kemampuan pemiliknya mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Bagi mereka yang mengerti dan memiliki modal, pemanfaatan saluran satelit akan membuat biaya penggunaan pulsa warnet relatif lebih murah dibanding bentuk saluran komunikasi lainnya. Namun, konsumen yang datang ke warnet seperti itu tentunya bukan mereka yang menggunakan internet sekedar untuk bermain atau aplikasi untuk diri sendiri (hanya memerlukan stand alone PC). Sementara, pemilik modal menengah lebih memilih mengolah warnet untuk ber-chatting ria. Selain itu, ada lagi warnet yang lebih khusus pada pengetikan. Jadi, sudah bisa diterka warnet seperti apa yang lari tunggang-langgang ketika terjadi sweeping. Tetapi, pengusaha warnet itu pun cepat sadar untuk menggunakan perangkat lunak yang resmi. Selain itu, karena keterbatasan dana, beberapa aplikasi komputer diganti dengan menggunakan aplikasi open source yang mudah di peroleh dengan pengunduhan (download) dari internet. Seperti yang dilakukan salah seorang pengusaha warnet di Depok, Jawa Barat, Taufik. Jika selama ini, ia memberikan layanan pengolah gambar kepada pelanggannya dengan menggunakan perangkat lunak proprietary keluaran Photoshop, layanan itu kini menggunakan buatan Linux. Kemudian, pengolah gambar Corel Draw diganti Ink Scape, untuk chatting dari IRC diganti JIRCi. Pembaruan/Alex Suban open source - Salah satu portal inkscape.org yang menawarkan beragam perangkat lunak open source untuk berbagai aplikasi, mulai dari pengolah gambar, tabel, dan animasi. Terjepit Sayangnya, migrasi peranti lunak bukan solusi tanpa masalah, setidaknya para pengguna memerlukan waktu penyesuaian. Belum lagi masalah keamanan data dan kompatibilitas perangkat lunak. Artinya, bermigrasi penggunaan perangkat lunak itu bisa saja menimbulkan kesalahan yang dapat menghilangkan data yang selama ini disimpan di bank data. Selain itu, perangkat lunak yang baru belum tentu mampu membaca data hasil olahan perangkat lunak yang lebih dulu dipergunakan (kompatibilitas). Akibat kendala itu, tidak sedikit pengusaha warnet yang ditinggalkan pelanggannya. Program aplikasi dari open source yang ada ternyata tidak nyaman digunakan dan mudah menjadi mediator penyebaran virus yang menghantam hasil pengetikan. Bahkan ada juga virus yang merusak sistem jaringan dengan menyerang boot sector. Komputer yang diserang virus yang dikenal dengan nama WORMD itu sangat mematikan karena mampu mematikan atau me-restart komputer yang digunakan. Kini, pengusaha warnet itu pun terjepit. Menggunakan open source ternyata belum menjadi solusi terbaik, sementara menggunakan peranti bajakan akan berhadapan dengan penegak hukum. Untuk menutup usaha pun, banyak pinjaman atau kewajiban yang masih harus dibayar. Hal lain yang juga sangat disayangkan adalah persaingan di antara pengusaha warnet. Aksi sweeping petugas memang telah membuat pelajaran bagi anggota AWARI dan pengusaha warnet. Sayangnya, masih ada saja warnet yang tetap membandel. Akibatnya, persaingan di antara warnet yang tertib hukum dan yang tidak, pun berjalan tidak alamiah dan tidak seimbang. Warnet pengguna peranti bajakan tentu mampu menetapkan tarif sewa yang jauh lebih rendah dibanding yang menggunakan proprietary. Selain itu, warnet pengguna peranti bajakan tidak akan berhadapan dengan masalah yang ditimbulkan dari penggunaan piranti open source. Karenanya, Judith berharap para penegak hukum tetap konsisten dalam memberantas pengguna peranti bajakan. "Menjelang hari kemerdekaan RI nanti, kami akan memberikan tanda neon sign kepada warnet yang sudah menggunakan perangkat lunak resmi. Kami juga berharap pemerintah tidak menerapkan standar ganda dalam menerapkan aturan. Jangan cuma warnet yang dikenakan sweeping, karena pengguna perangkat lunak bukan hanya warnet tetapi juga instansi pemerintah dan swasta lainnya," ujar Judith. Ia berharap petugas dapat membedakan mana warnet yang menggunakan peranti legal dan yang tidak.* -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 27/7/05 -- "Be Legal" Official Web Site : http://www.awari.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

