Indonesia sebenarnya memiliki 13 jenis ikan patin, tetapi hanya dua yang 
berhasil dibudidayakan, yaitu patin jambal (Pangasius djambal) dan patin siam 
(Pangasius hypophthalmus). Keduanya memiliki karakter berbeda.

Patin siam mempunyai daging berwarna kuning kemerahan, sedangkan patin jambal 
berdaging putih. Patin siam relatif mudah dibudidayakan, sedangkan jambal sulit 
dikembangkan secara massal karena butuh lingkungan perairan khusus. Padahal, 
konsumen lebih menyukai daging putih.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Penelitian pun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pada tahun 2006, 
LRPTBAT Sukamandi merilis jenis patin baru, yaitu pasupati, hasil persilangan 
siam dan jambal. Patin pasupati memiliki keunggulan warna daging putih, 
berkadar lemak rendah, pertumbuhan lebih cepat, dan produksi benih bisa 
dilakukan secara massal seperti siam.

General Manager Riset Bisnis PT Central Pangan Pertiwi Denny Indradjaja, Senin 
lalu di Subang, mengatakan, ekspor ikan patin daging putih ke Amerika Serikat, 
Australia, dan negara-negara Uni Eropa tetap terbuka. Ikan patin bahkan menjadi 
alternatif baru pasar luar negeri karena lebih murah dibandingkan dengan 
komoditas udang dan ikan nila.

"Saat krisis seperti sekarang, permintaan pasar luar negeri terhadap daging 
ikan patin cenderung meningkat karena lebih murah, namun kualitasnya tidak jauh 
beda dengan komoditas lain," ujarnya.

Harga daging ikan nila di pasar luar negeri, lanjutnya, kini berkisar 5 dollar 
AS, sedangkan udang lebih dari 5 dollar AS dan daging ikan patin 3,5 dollar AS 
hingga 4 dollar AS.

Tetap tinggi

Pangsa pasar ekspor patin daging putih diperkirakan tetap tinggi. Hal itu 
antara lain terlihat dari grafik ekspor daging tanpa tulang (fillet) ikan patin 
daging putih dari Vietnam yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Denny 
menambahkan, ekspor dari Vietnam sebagai negara pengekspor utama fillet ikan 
patin terus meningkat dari 27.000 ton pada tahun 2002 menjadi 390.000 ton tahun 
2007.

Adapun ekspor produk serupa dari Indonesia diperkirakan hanya berkisar 50.000 
ton per tahun. Karena itu, peluang ekspor terbuka cukup luas. Tahun 2008, 
Departemen Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi patin 51.000 ton dan 
pada tahun 2009 sebanyak 75.000 ton.

Gelwyn Yusuf, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan, menambahkan, patin 
pasupati mempunyai laju pertumbuhan yang tinggi dan daya toleransi yang baik 
pada berbagai sistem budidaya, seperti keramba jaring apung, kolam air tawar, 
dan tambak. Karena itu, jenis ini berpotensi terus berkembang.

Ketua Himpunan Pengusaha Ikan Air Tawar Toto Marwoto memperkirakan, produksi 
benih patin dari para pembenih di Subang mencapai 3 juta ekor per bulan. 
(Mukhamad Kurniawan)

SUMBER: Kompas
Kamis, 18 Desember 2008 | 10:36 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke